
Faiz kemudian menggendong Amel dan membaringkan Amel ke tempat tidur lalu menindihnya.
"Hukuman selanjutnya datang"
Sreekkkkkkkkk
"Mas.." Faiz merobek dress yang dikenakan Amel
Faiz ******* bibir Amel. Bibir yang sangat ia rindukan dan tidak pernah tergantikan dan sudah menjadi candunya, Amel memberikan akses pada suaminya menjelajahi rongga mulutnya. Hanya ada suara kecapan dalam kamar itu, Ciuman berlansung cukup lama seakan melampiaskan rindu keduanya.
Faiz menelusuri setiap inci tubuh Amel, tubuh yang begitu ia rindukan, tak ada yang mengeluarkan suara hanya bahasa tubuh melalui hasrat mereka.
"Aku akan mulai sayang" Ucap Faiz kemudian mencium kening Amel
Faiz menanggalkan semua pakaiannya begitupun juga Amel, mereka sudah sama - sama polos. Faiz kemudian mengarahkan senjatanya pada goa sempit milik istrinya
Jleb
Mereka sama - sama mengerang ketika penyatuan itu terjadi, Faiz mulai melakukan memaju mundurkan pinggulnya di iringi erangan dan juga ******* Amel.
Faiz melakukannya berulang kali, hingga Amel sudah tidak mampu lagi mengimbangi kekuatan suaminya. Faiz yang melihat istrinya sudah kelelahan hingga akhirnya menyudahi penyatuan.
Mereka terlelap dan saling memeluk, Amel kemudian menenggelamkan wajahnya di dada Suaminya, Aroma tubuh yang begitu ia rindukan ketika ingin tidur.
Waktu sudah menunjukkan pukul Sebelas malam, Amel terbangun karena merasakan sangat lapar kemudian ia memandang suaminya yang begitu damai dalam tidurnya sambil memandang suaminya.
Kemudian ia mengelus wajah suaminya yang sudah ditumbuhi jenggot dan juga kumis.
"Maafkan aku Mas, karena telah menyakitimu" Ucap Amel lirih
"Aku sangat mencintaimu My Wife" Ucap Faiz
"Mas kamu udah bangun" Ucap Amel
Faiz semakin mengeratkan pelukannya, bahkan bukit kembar Amel yang tidak tertutup apapun menempel pada dada bidangnya.
"Hmm, kau mengganggu tidurku sayang" Ucap Faiz dan menenggelamkan wajahnya di ceruh leher Amel
"Maaf mengganggu mu Mas"
"Tidak masalah sayang, lanjutkan tidurmu"
"Aku lapar Mas" Ucap Amel manja
Faiz kemudian duduk "Kamu lapar"
Amel ikut duduk menari selimut sampai dada nya "Iya Mas dari tadi siang aku belum makan, ditambah kamu menggempurku habis - habisan"
Amel mengomel, bagaimana tidak Faiz membawanya siang tadi ke Hotel setelah pertengkaran dengan Gilang dan menggempurnya sampai pukul 10 malam.
"Maafkan aku sayang, aku akan memesan makanan dan sebaiknya kamu bersihkan tubuhmu dulu"
Amel hendak berdiri tapi bagian bawahnya terasa perih
"Awww''
"Kamu kenapa Sayang"
"Itu aku sakit Mas, lagian kamu sih mainnya lama banget"
"Ya maklum udah lama nggak dapat service, itu hukumannya baru di mulai loh sayang jadi jangan mengeluh dan bisa jadi aku akan membuatmu tidak bisa berjalan"
"Ya sudah sini aku gendong" Faiz kemudian berdiri dan menggendong istrinya ke kamar mandi dengan keadaan sama - sama polos
"Mas bisa nggak kamu pakai celana, itumu nggak enak dilihat" Ucap Amel sambil melihat senjata suaminya yang menggantung
Faiz terkekeh "Ia nggak enak dilihat tapi enaknya tuh di rasain. Sudah ah kamu banyak maunya sini aku gendong sekalian mandi bareng"
Faiz menggendong istrinya masuk kekamar mandi, tapi sebelum mereka membersihkan diri mereka melakukan penyatuan kembali.
Hampir seetengah jam mereka di kamar mandi akhirnya mereka keluar juga, Faiz kembali menggendong Amel dan mendudukkan nya disisi tempat tidur
"Mas, terus aku pakai baju apa, pakaian ku sudah kamu sobek Mas"
"Nggak usah pakai apa - apa sampai beberapa hari kedepan"
"Maksud kamu Mas?"
"Kita akan menginap di sini sampai beberapa hari kedepan dan tugasmu hanya melayani ku, jadi kamu nggak usah pakai baju bikin repot kalau aku pengen"
"Apaan sih Mas, emang tadi nggak cukup. Kalau nanti aku masuk angin gimana?"
"Nggak cukup lah dan nggak akan pernah cukup, dan kalau masalah masuk itu juga nggak akan terjadi karena ada aku yang hangatin kamu"
"Terserah kamu Mas, minggir aku mau makan"
"Bentar lagi makanan datang"
Cup
"Aku mencintai mu" Ucap Faiz
Setelah mereka makan malam, Faiz kembali menggempur istrinya hingga menjelang subuh.
Kini tiga hari mereka di Hotel dan Faiz betul - betul menggempur istrinya, tubuh Amel sudah betul - betul remuk akibat ulah suami mesumnya itu.
Amel kemudian merasakan bukit kembarnya terasa perih da ternyata itu ulah suaminya yang terus menghi*ap bukit kembarnya.
"Mas udah ah, perih tau"
"Belum kenyang sayang" Faiz masih aktifitasnya
"Mana bisa kenyang Mas, itu nggak ada ASInya"
"Tapi aku suka sayang"
"Berhenti nggak, kalau nggak aku marah sama kamu dan nggak akan ikut kamu pulang"
Akhirnya Faiz menghentikan kegiatannya karena ancaman istrinya
"Sekarang pesankan aku baju, aku mau pulang fita pasti menungguku"
"Iya sayangku"
Amel kemudian meninggalkan Faiz menuju kamar mandi, tubuhnya betul - betul remuk ia ingin berendam dengan aromatherapy tidak lupa mengunci pintu agar suami mesumnya itu tidak ikut masuk.
Faiz di luar menerima telepon dari anak buahnya, ia tersenyum mendengar laporan anak buahnya tersebut.
"Kerja bagus, aku ingin kalian tetap mengawasinya jangan beri dia celah, itulah akibatnya karena telah bermain - main dengan ku dan menyakiti istriku" Faiz kemudian mematikan teleponnya