
Jam pelajaran kedua selesai beberapa menit yang lalu, kini hanya Salsa seorang di di dalam kelas, sementara Alana entah kemana. Gadis berambut indah itu sangat sibuk setelah menikah.
"Sal, ke kantin bareng yuk!" Ajak Leo berdiri tepat di samping bangku Salsa.
"Boleh."
Dengan senang hati Salsa menerima tawaran Leo, terlebih Azka ada urusan dengan guru dan entah kapan selesai. Akhir-akhir ini Azka sibuk bersama Lara untuk mempersiapkan lomba beberapa minggu kedepan. Seharusnya Azka tak lagi mengikuti loma karena hampir lulus, tetapi tak ada kandidat yang cocok selain mereka berdua.
"Terakhir kapan ya kita jalan berdua kayak gini? Perasaan setelah lo pacaran sama Azka, lo nggak punya waktu sama teman sekelas sendiri." Leo memulai obrolan, saat Salsa sibuk menunduk sembari berjalan beriringan.
"Masa sih?"
"Hm."
Selalu saja Leo bisa mencairkan suasana, hingga membuat Salsa tertawa lepas, tak sadar mereka sudah sampai di kantin. Asik tertawa, Salsa sampai tak menyadari kehadiran Azka di kantin.
"Hem ... kita duduk di mana ya," gumam Salsa meneliti kantin mencari bangku kosong.
Glek.
Mampus lo Sal.
Makinya pada diri sendiri setelah manyadari keberadaan Azka duduk seorang diri di meja kekuasannya, jangan lupakan tatapan tajam laki-laki itu.
"Leo, gue ... gue tiba-tiba pengen buang air, nggak papa, kan gue tinggal?" alibi Salsa.
"Tapi ...."
"Dah Leo." Salsa lebih dulu melambaikan tangannya, berlari keluar dari kantin sebelum Azka berbuat ulah. Gadis itu kembali ke kelas seorang diri, rasa lapar yang ia rasakan hilang seketika.
Langkah kaki terdengar semakin dekat di meja gadis berambut sebahu itu, hingga suara deheman terdengar berbarengan sebuat kotak di letakkan di atas meja.
Salsa mendongak dan mendapati laki-laki tampan tengah berdiri dengan tangan di masukkan di saku celana. Kaki baju di luar juga kancing bagian atas tebuka menampilkan baju kaos laki-laki itu. Terlihat acak-acakan tetapi sangat keren di mata Salsa.
"Ngapain kabur?" tanya Azka dengan wajah datar.
"Itu ... uang gue ketinggalan di tas, jadi ya anu ...."
"Gue ada di sana Sal, ngapain nggak nyamperin?"
"Maaf Ka," sesal Salsa.
"Makan! Gue nggak suka lo telat makan, apalagi pakai drama kelupaan uang." Menyodorkan kotak yang ia bawa tadi.
"Nggak ada pertanyaan lain selain ini? Gue bosan dengarkan," keluh Azka.
"Gue marah, sangat!" dingin Azka. "Buru makan keburu masuk, lo kayak anak kecil makan aja harus di suruh," omel Azka.
"Kok lo jadi cerewet gini?" protes Salsa.
.
.
.
Hanya menemani Salsa makan, Azka pergi lagi entah kemana. Laki-laki itu sudah seperti hantu hilang tanpa di duga, membuatkan Salsa menghela nafas panjang. Masih banyak waktu sebelum jam istirahat selesai, gadis itu berjalan keluar kelas, duduk di sebuah taman kecil tepat di depan kelas.
"Dor!"
"Udah kebal!"
Alana nyengir ikut duduk di bangku bersama Salsa.
"Dari mana lo? Ngapelin pak Alvi?"
"Shutt." Alana menempelkan jari telunjuk di bibir Salsa. "Jangan keras-keras, pak Alvi nggak mau ada yang tau kalau dia udah nikah," bisik Alana.
"Dih, terus yang kemarin apa kabar Al? Lo langsung meluk pak Alvi di depan siswa lain karena kesal."
Gadis berambut indah itu seketika cemberut. "Justru karena itu gue kena marah sama pak Alvi. Bukan marah sih, lebih tepatnya di cuekin," curhat Alana menyandarkan kepalanya di pundak Salsa.
"Pak Alvi cinta nggak ya sama gue?" lirih Alana. "Jangan sampai cuma gue yang baper tinggal satu atap."
"90% gue yakin pak Alvi ada rasa sama lo."
"Sok tau."
...****************...
Jangan lupa meninggalkan jejak🥰
Kuy intip juga keseruan rumah tangga Alana "Hay pak guru"