
Satu minggu telah barlalu, bukannya semakin baik, hati Azka malah semakin kacau, terlihat baik-baik saja saat di luar. Namun sampai di apartemen ia kembali menjadi Azka yang emosian dan segala kekacauan yang menemani.
Tari sebagai ibu saja semakin jauh dari Azka, laki-laki itu tak ingin di ganggu oleh sepapun. Sekolah, balapan dan pulang ke apartemen, hanya itu rutinitas Azka setiap harinya.
Luka di beberapa bagain tubuh karena sering oleng saat balapan masih membekas.
Azka mendengus kala mendengar suara bel apartemennya berbunyi, bukannya beranjak, Azka malah samakin menyembunyikan kepalanya di balik bantal. Ia seperti orang gila tanpa Alkohol juga benda bernikotin.
"S*hit," umpat Azka saat bel apartemennya terus berbunyi.
Dengan langkah malas ia membukanya dan mendapati Rio berdiri di sana. Ia menatap tajam laki-laki itu. Azka hendak kembali menutup pintu. Namun Rio keburu menyanggah pintu itu dengan sebelah kaki.
"Gue mau ngomong sama lo," pinta Rio.
"Gue nggak punya urusan sama lo!" dingin Azka.
"Ini tentang Salsa!" Sekuat tenaga Rio menahan pintu apartemen Azka.
Azka terdiam, jujur ia sangat merindukan pemilik nama itu. Ia ingin mendengar kabarnya, ia merindukan suara juga yang lainnya.
"Dia bukan urusan gue!" ucap Azka dingin.
"Kondisi Salsa semakin parah, setiap malam dia cuma nangisin lo. Bahkan dia selalu nyebut lo di alam bawah sadarnya!" bentak Rio.
Azka senyum senis menatap Rio. "Dia udah nggak butuh gue lagi asal lo tau sialan! Jadi berhenti ganggu gue!" Azka mendorong Rio agar menjauh.
"Salsa seperti ini karena ulah Papi lo Azka bangsat!" Hilang sudah kesabaran Rio, ia maju dan mencengkram leher baju Azka.
"Ternyata rencana Salsa buat lo benci sama dia itu berhasil ya? Sampai lo nggak peduli lagi sama kondisi dia."
"Maksud lo apa?" Azka tak ingin kalah, menarik kerah baju Rio. Keduanya saling melempar tatapan mematikan dengan emosi mengusai diri masing-masing.
"Dia ngelakuin semua ini biar lo benci sama dia Azka. Ini semua karena ulah Papi lo. Papi sialan lo itu menghina Salsa habis-habisan bahkan menekan mentalnya! Gara-gara Papi lo, Salsa jadi putus asa dan mau bunuh diri!"
Lepas sudah emosi Rio, bahkan tanpa sadar membocorkan sesuatu padahal ia sudah berjanji pada Salsa tidak akan mengatakannya pada siapapun. Niatnya menemui Azka bukan ini. Ia hanya ingin meminta laki-laki itu untuk menjaga Salsa karena ia merasa tidak pantas.
"Iya! Puas lo?" bentak Rio.
Keduanya sama-sama terdiam untuk menurunkan ego masing-masing. Rio menurunkan egonya karena ingin mengatakan sesuatu yang penting pada Azka. Sementara Azka menurunkan egonya karena ingin mengetahui kondisi Salsa yang sebenarnya.
Tak ingin orang asing memasuki apartemennya, Azka mengajak Rio berbicara di roftoop gedung tempatnya tinggal.
"Apa tujuan lo nemuin gue?" Azka memulai pembicaraan setelah sampai di roftoop.
Pandagannya lurus kedepan, memperhatikan gedung-gedung pencakar langit yang lebih tinggi dari tempatnya berpijak. Lampu-lampu yang menghiasi ibu kota, terlihat sangat tenang.
"Apa lo bisa janji sama gue, bakal bahagiain Salsa?"
Azka senyum simpul melirik Rio sekilas. "Tanpa lo suruh gue bakal lakuin itu," jawab Azka.
"Oke gue pengang janji lo ini. Jangan biarkan pengorbanan gue sia-sia. Dua hari lagi Salsa bakal transplantasi ginjal."
Mendengar itu Azka sontak menoleh pada Rio. "Lo?" tebaknya.
"Nggak ada pilihan lain. Semoga pilihan gue buat percaya sama lo nggak sia-sia. Satu permintaan gue, jangan sampai Salsa tahu hal ini."
"Gue tunggu kedatangan lo di Bandung Ka. Gue mau lo ada di samping Salsa saat transplantasi ginjal di lakukan!" suara Rio kian melunak.
Mata Rio membulat sempurna saat melihat Azka bersujud tepat di hadapannya. "Apa yang lo lakuin sialan!" betak Rio.
"Gue pernah berjanji sama diri gue sendiri. Kalau gue bakal bersujud di depan orang yang ingin menyerahkan ginjalnya pada Salsa. Dan gue nggak nyangka gue bakal bersujud di depan musuh gue sendiri."
"Rio, terimakasih," ucap Azka tulus membuat Rio tertawa, ia mengukurkan tangannya agar di raih oleh Azka.
Ia menarik Azka agar segara bangun setelah tangan keduanya bertaut. Ia tidak benar-benar membenci Azka.
"Gue ngelakuin ini bukan buat lo, tapi buat gadis yang gue sayang Ka! Tepatin janji lo." Rio menepuk pundak Azka sebelum meninggal roftoop yang dingin itu.
...****************...