
Azka duduk termenung didepan ruanga ICU, tatapannya tak pernah teralihkan pada pintu. Perasaan takut kian besar di hatinya. Rasa takut kehilangan membuatnya linglung seketika. Tak bisa ia bayangkan jika Salsa meninggalkannya begitu cepat.
"Gue mohon bertahan Sal. Gue nggak anggup kalau harus kehilangan lo," gumam Azka mengusap wajahnya kasar, tak peduli dengan rasa sakit diseluruh tubuhnya.
Ia menoleh saat Keenan menepuk pundaknya. "Bukan cuma Salsa, tapi lo juga butuh perawatan Ka," peringatan Keenan tetapi tak digubris oleh Aza.
Azka beranjak saat dokter Jesy keluar dari ruangan ICU. "Bagaiamana keadaan Salsa dokter?"
"Kami sudah melakukan yang terbaik tetapi pasien kehilangan banyak darah juga pernafasan yang melamah. Untuk saat ini pasien masih dalam masa kritis." Dengan berat hari dokter Jesy memberitahukan kabar buruk itu.
"Kami berharap segera menemukan pendonor ginjal yang pas untuk Salsa."
"Ambil ginjal gue! Jantung, hati, ambil semuanya yang gue punya asal bisa menyelamatkan hidup Salsa," ucap Azka sesegukan.
Penyesal kian dalam menusuknya, seandainya ia bisa mengontrol emosi dan tidak egois, semua ini tidak akan terjadi. Salsa sakit karena dirinya, dan jika terjadi sesuatu pada Salsa, makan Azka tidak akan memaafkan dirinya seumur hidup.
"Azka lo gila!" protes Rayhan. "Dengan nyerahin organ tubuh lo, itu sama aja lo nyerahin nyawa!" Rayhan berjalan mendekat tak ingin Azka berbuat nekat. "Siapa yang akan jadi perisai Salsa, kalau lo berkorban?"
"Gue lebih baik mati daripada hidup dalam penyesalan, Ray!" Menepis tangan Rayhan dipundaknya.
Azka bersujud didepan dokter Jesy. "Lakukan operasi malam ini juga, gue siap donorin ginjal untuk Salsa. DENGARKAN apa yang gue katakan!" bentak Azka.
Kondisi Azka jauh dari kata baik-baiak saja. Isak tangis mulai terdengar, terutama dibibir mungil seorang gadis. Ia berlari kemudian memeluk tubuh rapuh Azka.
"Semua akan baik-baik saja Ka, Salsa nggak mungkin ninggalin kita, dia akan bertahan."
"Gue harus gimana Alana? Ini semua salah gue, seandainya ...." Azka memeluk tubuh Alana sangat erat menyembunyikan kepalnya di tubuh mungil Alana.
Anggota inti tak kuasa melihat kehancuran ketuanya, mereka memalingkan wajah masing-masing.
"Dengan lo ngorbanin diri demi Salsa, sama aja lo nyakitin dia. Dia nggak bakal terima ginjal lo Ka."
Kondisi Salsa jauh dari kata baik-baik saja, gadis itu masih kritis dengan selang infus juga selang oksigen di tubuhnya. Azka dengan setia duduk di samping brangkar menunggui sang pacar sadar entah kapan itu terjadi.
Dokter Jesi baru saja menyampaikan kabar buruk. Salsa mengalami masa-masa sulit hingga mengalami koma.
"Bangun Salsa!" bentak Azka tak kuasa melihat tubuh lemah dan wajah pucat Salsa.
"Azka!" Keenan berusaha menenangkan, lama-lama Azka gila jika terus seperti itu.
"Gue bilang bangun bang*sat, lo mau liat gue gila, Hm!" Azka terisak, menciumi punggung tangan Salsa.
"Lo kira bisa bebas dari hidup gue? Itu nggak bakal terjadi, sampai kapanpun gue bakal ngikutin lo. Jadi bangun sekarang juga!" bentak Azka berapi-api.
"Cukup Nak, kamu butuh istirahat, obati lukamu!" cegah Mama Reni tak kuasa melihat kehancuran Azka.
"Nggak tente, ini semua salah Azka!" Azka semakin terisak, tak peduli dengan sahabatnya yang kini memperhatikannya.
"Bukan kamu yang salah Nak, sudah takdir Salsa seperti ini. Kamu sudah melakukan yang terbaik!"
Mama Reni mengkode yang lain agar membawa Azka keluar dari ruang rawat Salsa.
"Lepasin gue sialan!"
Bugh
Samuel meninju wajah Azka demi menyadarkan laki-laki itu dari kegilaanya. Sopertinya Azka harus terapi atau laki-laki itu akan benar-benar gila.
...****************...
Jangan lupa meninggalkan jejak, dan terimakasih untuk dukungan kalian😘