Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 166


Azka senyum penuh kemenangan setelah kepergian semua orang dan tersisa dirinya dan Salsa. Hanya satu orang yang boleh tinggal untuk menemani pasien jadi ia mendaftarkan diri pada Reni.


"Tidur sayang, udah tengah malam!" perintah Azka. "Atau mau di peluk?" goda Azka.


Tanpa meminta persetujuan lebih dulu, Azka merangkak naik ke brangkar dan tidur tepat di samping Salsa.


"Azka!" tegur Salsa.


"Tidur sayang," gumam Azka memejamkan matanya setelah tangannya melingkar sempurna di pinggang gadis itu.


Tak ada penolakan, membuat Azka diam-diam tersenyum. Akhirnya ia bisa memeluk tubuh yang sangat ia rindukan.


***


Siang harinya, seperti rencana dokter Jesy, Salsa akan melakukan operasi. Gadis itu di beri waktu setengah jam untuk berbicara dengan orang-orang tersayangnya.


"Azka, kenapa Rio belum datang?" tanya Salsa di ruangan perisapan untuk melakukan operasi.


"Rio sibuk, ada urusan dadakan jadi nggak bisa nemenin kamu," jawab Azka.


"Benar kata Azka sayang." Reni ikut berbohong pada putrinya.


"Mama, aku mau ketemu orang yang mau donorin ginjalnya, aku mau berterimakasih," desak Salsa.


"Jangan di pikirkan itu dulu sayang, sekarang fokus sama operasi kamu dan hal-hal positif lainnya!"


Tatapan Salsa tertuju pada Azka, ia memicingkan mata curiga. "Bukan lo?"


"Bukan Sal, kalau aku donorin, siapa yang bakal jagain kamu, hm?" jawab Azka dengan senyuman.


Salsa mengenggam tangan Azka semakin erat siiring berjalannya waktu. Jujur saja ia sangat takut menjalani operasi, takut semuanya gagal dan tidak bisa melihat orang-orang yang ia sayang.


Di pandanginya satu persatu orang terkasihnya, berusaha memindai wajah itu sesingkat mungkin, tidak ada yang tahu, ia akan melihat mereka lagi atau tidak.


Pandangannya berhenti pada Azka begitu lama. "Jangan pergi!" pintanya.


Bukan tanpa alasan Salsa tidak mau melepaskan ngenggaman tangan Azka, ia takut yang mendorkan ginjalnya adalah Azka. Ia tidak mau itu terjadi. Dirinya lebih rela mati daripada harus menerima ginjal orang yang ia cintai.


Waktu yang di tentukan sudah habis, beberapa suster menghampiri ruang persiapan untuk membawa Salsa ke ruang operasi.


"Mama, maafin Salsa kalau punya salah selama ini."


"Pasti sayang, jangan lupa berjuang ya, ingat mama disini." Reni mengusap kepala Salsa sayang. Kalau boleh jujur ia takut terjadi sesuatu pada putrinya, tapi ia berusaha terlihat tenang dan baik-baik saja demi Salsa.


"Azka maafin aku, kalau selama ini punya salah sama kamu," lirih Salsa mengubah panggilannya.


Azka mengangguk dengan senyuman terbaik yang ia bisa. "Cantiknya Azka pasti bisa bertahan, ingat. Semua orang menginginkan kamu kembali."


"Aku bakal berdiri di depan pintu menunggu kamu, jadi kembali dengan cepat okey!" pinta Azka.


Dari informasi medis yang ia dapatkan. Operasi bisa berjalan lancar dan pasien baik-baik saja jika dalam diri pasien itu sendiri punya keinginan untuk sembuh dan kembali saat berada dalam alam bawah sadarnya. Dan Azka berusaha melakukan itu agar Salsa semangat.


"Maaf Mas, kami harus membawanya," ucap seorang suster saat Azka enggang untuk melepas tangan Salsa.


"Aku pasti kembali Azka, jangan khawatir."


Azka menunduk, membenamkan bibirnya di kening Salsa begitu lama tanpa memperdulikan Tari, Reni dan suster yang ada di ruangan itu.


"Semangat kesayangan, aku menunggumu," bisik Azka di jawab anggukan oleh Salsa.


Tepat saat pintu tertutup berbarengan hilangnya Salsa dari pandangannya, setitik air mata jatuh membasahi pipi Azka.


"Jangan terlalu khawatir sayang, kamu lupa siapa yang menangani Salsa? Di dalam sana ada tante Jesy, dia akan melakukan yang terbaik." Tari menengkan putranya.


"Iya, Mi."


...****************...