
Waktu magrib sudah selesai. Namun, belum ada tanda-tanda operasi akan selesai, membuat orang yang menunggu Salsa sedikit gelisah. Rayhan mengedarkan pandangannya untuk mencari seseorang tapi ia tidak menemukannya.
"Azka mana?" tanya Rayhan pada Keenan yang sedang memejamkan mata.
"Masih di masjid," jawab Keenan tanpa membuka matanya.
"Ngapain?"
Plak
Rayhan langsung mendapat gamparan dari Dito. "Menurut lo kalau ke masjid ngapain? Nyolong kotak amal?"
"Bisa aja 'kan, siapa tau Azka lupa diri kalau dia holang kaya," balas Rayhan santai.
"Pala lo pea," timpal Ricky ikut menampol kepala Rayhan.
"Diam!" perintah Samuel membuat yang lainnya langsung diam.
Tari hanya bisa mengeleng melihat tingkah teman-teman putranya. Mereka benar-benar setia kawan, mereka rela tidak masuk sekolah demi menemani Azka di Badung.
Pintu ruang operasi terbuka berbarengan dengan datangnya Azka dari Masjid. Wajah laki-laki itu masih fresh dan rambut sedikit basah. Azka menyugarnya ke belakang.
"Gimana keadaan Salsa dokter?" tanya Azka.
"Kondisinya stabil, operasi berjalan lancar. Kami tidak menyangka respon tubuh Salsa sangat bagus menerima ginjal dan pendonornya," jelas Jesy.
"Sebentar lagi Salsa akan di pindahkan ke ruang rawatnya. Sebentar lagi dia akan sadar setelah pengaruh obat bius hilang," lanjutnya.
"Reni, ikut saya sebentar," pinta Jesy.
Inti Avegas dan Tari mengucapkan syukur mendengar penjelasan Jesy. Apa yang mereka khawatirkan tidak terjadi.
***
Malam semakin larut. Namun, Salsa belum juga sadar, membuat Azka tak ingin beranjak sedikit pun di samping pembaringan. Bahkan ia belum makan dari siang, rasa lapar tak ia rasakan karena terlalu khawatir dengan keadaan kekasihnya.
Inti Avegas juga Tari sudah pulang setelah memastikan Salsa baik-baik saja. Dan Azka izin akan merawat Salsa sampai gadis itu keluar dari rumah sakit.
"Nak, makanlah dulu sesuatu, Salsa baik-baik saja," perintah Reni yang tidak terlalu khawatir dengan putrinya. Ia seorang dokter jadi ia mengerti kondisi Salsa.
"Titip Salsa sebentar, Tante masih ada urusan di luar."
"Iya Tante," sahut Azka tanpa mengalihkan pandanganya dari wajah pucat Salsa.
"Tidur aja kamu udah cantik Sal, gimana kalau kamu bangun dan tersenyum," gumam Azka mengelus pipi Salsa dengan ibu jarinya.
"Tenang aja, aku bakal disini nemenin kamu, sampai sembuh."
Jarum jam menununjukkan angka 1. Azka mulai di serang kantuk yang tak terhankan, membuatnya terlelap di samping pembaringan dengan posisi duduk dan mengenggam tangan kekasihnya.
jam tiga dini hari, Azka merasakan seseorang mengelus kepalanya, ia mendongak untuk memastikan siapa yang berani menganggu tidurnya. Sudut bibirnya langsung tertarik mendapati Salsa tengah tersenyum ke arahnya.
"Azka," lirih Salsa.
"Kenapa, hm? Kamu butuh sesuatu? Mau minum?" Azka langsung beranjak, hendak memencet bel untuk memanggil dokter, tetapi Salsa mencegahnya.
"Aku nggak papa, nggak usah panggil siapaun," ucap Salsa.
"Makasih udah nepatin janji buat kembali." Azka mengecup pungung tangan Salsa berkali-kali.
"Tentu saja aku kembali, aku nggak mungkin biarkan kamu menunggu terlalu lama," canda Salsa walau suaranya masih terasa berat.
Seiring kesadaran Salsa yang kembali pulih, rasa nyeri di bagian luka sayatan semakin terasa, membuat Salsa tak kuasa menahannya hingga ringisan-ringisan kecil terdengar.
Tanpa menunggu lagi Azka memencel tombol untuk memanggil dokter, tak selang beberapa lama dokter Jesy kembali bersama Reni setelah mendengar anaknya sudah siuman.
Jesy dengan teliti memeriksa beberapa alat vital Salsa, dan semuanya normal. Rasa sakit yang di rasakan Salsa sangat umum dirasakan oleh pasien lain. Dokter Jesy meresepkan beberapa obat anti nyeri juga obat anti penolakan khusus transplantasi ginjal.
"Putri kamu memang hebat Reni," puji Jesy.
Reni hanya tertawa menanggapi candaan Jesy. "Anak Mama sekarang fokus sama pemulihan, nggak boleh kerasa kepala." Mengusap kepala Salsa.
"Iya Ma, Salsa bakal nurutin semua ucapan mama."
...****************...