Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Boncap 2


Setelah bertemu dengan Alana di sekolah, Ia memutuskan untuk jalan-jalan sebentar ke mall untuk membeli baju ibu hamil untuk dirinya sendiri tanpa di temani oleh siapapun.


Salsa senyum kecut melihat sepasang suami istri yang tengah berbelanja perlengkapan bayi, wajah wanita itu sangat bahagia.


Ia menunduk memperhatikan perutnya yang rata. "Seandainya Papa ada disini Nak, dia bakal manjain Mama kayak mbak-mbak itu," gumam Salsa.


"Permisi mbak, jangan ngelamun di pintu," tegur salah satu pelanggan, membuat Salsa buru-buru menyingkir. Salahnya juga karena melamun di pusat perbalanjaan seperti ini.


"Maaf mbak." Salsa sedikit menunduk, kemudian melanjutkan langkahnya mendekati peralatan ibu dan bayi.


"Imut banget," gumamnya melihat sapatu bayi warna pink. "Eh kira-kira anak kita gendernya apa ya Ka?"


Sedikasihnya aja, perempuan, laki-laki aku bakal sayang.


Salsa senyum hambar saat kalimat yang pernah di ucapkan Azka terlintas di pikirannya.


Lelah berjalan seharian dan hanya membeli dua barang saja. Ia memutuskan untuk nonton sebelum pulang. Pilihannya terjatuh pada film horor.


Ruangan yang tidak terlalu penuh membuat wanita berbadan dua itu tidak terlalu risih. Ia meletakkan tasnya di kursi samping kiri, kebetulan tempat itu tidak di huni oleh siapapun.


Lampu ruangan mati, pertanda sebentar lagi film akan di mulai. Ia melirik sekilas saat seseorang duduk di samping kananya.


"Mbak!" panggil seseorang yang ada di samping Salsa.


"Hah? Iya kenapa mas?" Salsa refleks memanggil laki-laki itu mas karena di panggil Mbak.


"Saya takut nonton film horor, tapi kepaksa karena di tinggal teman-teman mbak," curhat laki-laki itu tanpa di minta.


Ingin rasanya Salsa tertawa, baru kali ini ia bertemu orang konyol seperti seseorang yang ada di sampingnya.


"Tarus mas?" kepo Salsa.


"Saya mau tidur Mbak, kalau film selesai bangunin ya," pintanya.


Mengira laki-laki itu bercanda, Salsa langsung mengiyakan saja. Tidak mungkin kan seseorang masuk ke bioskop cuma untuk tidur. Kalau iya, itu adalah hal terkonyol menurut Salsa.


Namun, perkiraan Salsa salah. Laki-laki di sampingnya benar-benar tidur hingga film benar-benar selesai. Terlanjur berjanji untuk membangunkan. Salsa membangunkan laki-laki itu sebelum pulang.


"Mas ... mas ... filmnya udah selesai." Salsa menguncang tubuh laki-laki di sampingnya.


"Hm, udah selesai ya mbak?"


***


Baru saja sampai di rumahnya, beberapa notifikasi masuk ke benda pipihnya.


Rayhan: Lo dimana sih? Udah jam segini belum pulang.


Keenan: Sal, kata Alana lo pulang dari tadi, tapi kok belum ada di rumah?


Salsa tersenyum membalas pesan masing-masing. Sahabat suaminya memang perhatian. Terlebih saat mengetahui dirinya hamil.


Giani is calling ....


"Halo Gi, kenapa?"


"Heh, lo dimana sekarang?"


"Di rumah, napa sih? Kok kalian heboh banget," heran Salsa.


"Gimana nggak heboh, Rayhan dari tadi neror gue karena lo."


"Ya maaf, gue kira nggak bakal di cariin sampai segitunya."


"Buka pintunya, gue ada di depan rumah lo, sama yang lain ini," ucap Giani di seberang telpon.


Tanpa mematikan sambungan telpon, Salsa keluar dari kamarnya kemudian membuka pintu. Ia berada di rumahnya sendiri, hanya di rumah ini ia merasaka kehadiran Azka, apa lagi di kamarnya.


"Malam ibu ketua," ucap inti Avegas setelah pintu di buka.


"Senang deh kalian mampir bareng gini, rumah nggak sepi," sambut Salsa.


"Iya dong, kita bakal malming di sini, nggak papa kan?"


"Nginap juga nggak papa, masuk yuk."


"Dengan senang," seru Rayhan.


...****************...