
Giani tersentak saat seseorang menariknya setelah keluar dari Cafe. Dari aroma parfum, orang yang memelukanya adalah seorang laki-laki. Gadis itu berusaha melerai, tetapi pelukan Rayhan begitu erat.
"Lapisan gue!"
"Nggak akan, gue nggak mau orang lain liat lo nangis seperti ini. Cantiknya Rayhan bukan gadis lemah," ucap Rayhan.
Bukannya luluh, Giani mendorong tubuh Rayhan sangat kasar. Sampai kapan ia tidak akan menangis di depan orang lain. Tempat ternyaman baginya hanya di kamar mandi, tanpa ada yang tahu rasa sakit yang ia rasakan.
"Berhenti ganggu gue Ray, berapa kali gue bilang sama lo. Jauhin gue karena sampai kapanpun gue nggak bakal balas rasa cinta lo!" ucap Giani.
"Tapi ...."
"Jangan ikut campur urusan gue, atau gue akan benci lo seumur hidup gue. Anggap hari ini lo nggak liat apa-apa." Giani meninggal Rayhan di samping Kafe, menyetop taksi lalu naik, kembali kerumah adalah tujuannya saat ini.
Giani memasang masker juga kaca mata hitam, guna menutupi air mata yang mula membasahi pipinya.
Sunyi, satu kata yang mengambarkan rumah gadis itu. Dengan langkah gontai Giani menuju kamarnya, membaringkan diri di kasur. Tak terasa ia terlelap sakin lelahnya. Berusaha terlihat biasa-biasa saja di tengah keluarga broken home bukanlah hal yang mudah. Berusaha terlihat kuat di depan semua teman-temannya sangat sulit untuk Giani.
Prank
Suara pecahan kaca dan beberapa barang lainnya membuat gadis galak itu terbangun dari tidurnya. Gani mengucek kedua matanya, mengumpulkan nyawa yang entah terbang kemana.
"Ini semua perbuatan anak kamu! Berani nya dia menemui pacarku dan menghinanya di depan orang banyak!" bentak Ayah Giani pada istrinya.
"Dia juga anakmu kalau kamu lupa, Giani seperti ini karenamu," balas Winda ibu Giani.
"Sudahlah, kau pasti mengadu yang tidak-tidak pada Giani hingga seperti ini. Dengar baik-baik, aku tidak pernah mencintaimu, aku bertahan karena Giani, jika tidak, sudah lama aku menceraikanmu!" bentak Ayah Giani berapi-api.
"Kau mengira aku bertahan karena mencintaimu? Tidak! Sama halnya dengan kamu, aku kertahan hanya karena Giani. Aku tidak ingin anakku tumbuh tanpa seorang ayah!" ucap Winda tak kalah emosi.
"Kalau begitu kenapa kalian tidak bercerai saja? Bukankah lebih baik jika mencari kebahagian masing-masing?" ucap Giani membuat kedua orang tuanya menoleh.
Gadis galak itu berjalan semakin dekat.
"Sayang, kamu sudah pulang? Bukannya dua jam lagi?" tanya Winda langsung memeluk tubuh anaknya.
"Ada untungnya aku pulang cepat, ternyata seperti ini kondisi rumah tangga orang tuaku?" lirih Giani.
"Kenapa Mama terus bertahan hanya karena aku, dan menyakiti diri sendiri? Tidak sepantasnya Mama mempertahankan laki-laki seperti papa." Giani mantap wanita paruh baya yang kini menangis memeluknya.
"Giani kamu ikut papa!"
Giani menghempaskan tangan Ayahnya. "Aku akan ikut Mama. Aku tidak punya papa seperti mu, yang rela membuang berlian hanya untuk mendapatkan batu kerikil."
"Giani!" bentak laki-laki paruh baya itu.
"Berhenti meneriakiku seperti itu, kau tak sepantasnya menjadi seorang ayah atapun suami!" bentak Giani. "Pergi dari rumah ibuku, dan temui selingkuhanmu itu!"
"Katanya cinta pertama anak perempuan adalah ayahnya, itu benar. Tapi kau juga patah hati terbesarku. Karenamu, aku mengganggap semua laki-laki sama saja. Karenamu aku tidak bisa mempercayai laki-laki manapun!" Tangis Giani pecah dalam pelukan mamanya.
"Laki-laki berwujud malaikat sepertimu tidak bisa dipercaya, karena di balik itu ada monster yang bersembunyi."
...****************...
Jangan lupa meninggalkan jejak ๐