
Malam harinya Faiz dan Amel telah siap untuk menghadiri pesta ulang tahun rekan kerjanya.
"Sayang, Kita nggak usah ke pesta deh, entah mengapa perasaanku merasa tidak enak begini"
"Loh kok Mas gitu, udah dandan rapi begini lagian juga nggak enak kalau kita nggak datang apalagi rekan kerja Mas"
"Tapi serius sayang perasaanku nggak enak, seperti akan terjadi sesuatu"
"Mas jangan bicara seperti itu ih, nggak baik tau Mas"
"Aku hanya takut kamu kenapa - napa sayang" Ucap Faiz menggenggam kedua tangan istrinya
"Kan ada kamu Mas yang jagain aku disana, ya udah yuk jangan kecewain teman kamu Mas"
Akhirnya Faiz dan Amel pergi menghadiri pesta tersebut, beberapa menit menempuh perjalanan akhirnya mereka sampai di tempat acara tersebut.
Semua mata tertuju pada mereka berdua, banyak memuji kecantikan dari istri Faiz Abraham anak dari Tuan
Jhonson salah satu pengusaha terkaya di Asia, begitupun dengan Faiz karena ketampanannya dan juga pengusaha sukses di usianya yang masih sangat muda dan mampu bersaing dengan metuanya itu.
Amel tersenyum pada semua orang yang hadir di acara tersebut, membuat Faiz begitu jengkel karena banyak pria yang memandang istrinya itu.
"Jangan senyum pada mereka sayang, aku cemburu"
Amel mencubit perut suaminya "Cemburu kok nggak liat tempat sih Mas, nanti di kira aku itu sombong Mas"
"Biarin, lagian senyum mu itu hanya untuk aku seorang nggak ada lain"
"Lebay banget sih kamu Mas, ya udah yuk kita temui yang punya acara Mas"
Akhirnya Faiz mengalah dengan istrinya itu, kemudian mereka melangkah mencari pemilik acara tersebut.
"Selamat ulang tahun pernikahan Tuan Robert dan juga Nyonya Robert" Ucap Faiz sambil menyalami kedua orang tersebut.
"Terima kasih Tuan Faiz" Ucap tuan Robert
"Perkenalkan ini istri saya, Amelia Jhonson"
"Halo saya Amelia" Ucap Amel memberi salam pada Robert dan juga istrinya
"Senang bertemu dengan anda Nona Muda" Ucap Istri Robert
"Senang juga bertemu dengan anda Nyonya Robert" Ucap Faiz
"Silahkan di nikmati acaranya Tuan Faiz, kami ingin menemui tamu yang lain dulu Tuan" Ucap Robert
"Silahkan Tuan" Faiz kemudian membawa istrinya untuk duduk dimeja yang sudah di sediakan
"Sayang kamu makan apa?"
"Aku mau makan puding strawberry itu saja Mas"
"Tunggu sebentar saya aku ambilkan sayang"
Faiz kemudian mengambil puding yang di inginkan istrinya itu, kemudian Faz juga menyuapi istrinya itu, dan ada wanita yang melihat kemesraan mereka berdua dengan tatapan benci.
"Mas aku mau ke toilet"
"Aku antar yah sayang"
"Nggak usah Mas, kamu temui teman - teman mu saja, habis dari toilet aku susul kamu Mas"
"Oke tapi kamu hati - hati yah sayang"
Amel kemudian ke toilet yang berada di lantai atas di ruamh tuan Robert. Setelah dari toilet Amel hendak turun menemui suaminya, tiba -tiba saja seorang perempuan mencekal tangannya, kemudian ia menoleh pada orang tersebut.
"Cyntiaa?"
"Yah aku, Nona Muda yang terhormat, ternyata kau masih ingat dengan diriku ternyata"
"Apa maumu, lepaskan aku dari tangan kotormu itu"
"Cihh, kau lebih kotor dibandingkan diriku Amelia Jhonson, karena kau telah membunuh kakakmu sendiri yaitu kekasihku Bram"
"Tutup mulutmu itu Cyntia atau aku akan ku laporkan pada suamiku atau Daddyku karena kau telah megusik hidupku"
Plakkkk
satu tamparan mendarat di pipi Amel "Heyy kau anak manja, kau pikir aku takut dengan suami dan kelurga mu, sayangnya itu tidak sama sekali, kau telah menghancurkan rencanaku untuk mendapatkan Bram kakak mu"
"Walaupun kakakku masih ada di dunia ini akan kupastikan kau tidak akan bersama dengan wanita ular sepertimu"
"Dan ku pastikan malam ini kau akan menyusul dengan kakakmu itu"
Setelah Cyntia mengatakan itu pada Amel, Cyntia langsung mendorong Amel ke tangga, Amelpun jatuh dan berteriak memanggil suaminya.
"Massss Faizzz" Darah segar mengalir di paha Amel
Faiz yang mendengar suara teriakan istrinya itu langsung berlari mencari arah suara tersebut dan betapa terkejutnya ia melihat keadaan istrinya itu, Faiz kemudian menarik Amel yang lemah ke dalam dekapannya
"Mas anak kita" Ucap Amel lirih
"Tenang sayang semua akan baik - baik saja, kita ke Rumah Sakit sekarang"
Faiz kemudian menggendong istrinya menuju mobil mereka, untung saja malam ini mereka memakai supir, Faiz terus memeluk istrinya memberi ketenangan pada istrinya.
"Mas perutku sakit sekali, aku takut anak kita kenapa - napa"
Faiz terus mencium rambut Amel "Kamu kuat sayang, aku yakin dia akan baik - baik saja, bertahanlah sebentar lagi kita sampai di Rumah Sakit"
"Mas tapi aku udah nggak kuat rasanya sakit sekali Mas" Seketika Amel sudah tidak sadarkan diri
"Sayang bangun, pak tolong cepat"
Setibanya di Rumah Sakit, Amel langsung di tangani Dokter, Faiz sudah menghubungi keluarga mereka, dan merekapun sudah berada di Rumah Sakit.
"Ma aku takut istri dan Anakku meninggalkan ku"
Aneth memeluk anaknya "Semua akan baik - baik saja, Amel anak yang kuat"
Jhonson dan lainnya pun ikut prihatin melihat keadaan Faiz sekarang, tidak berselang lama Dokter pun akhirnya keluar, Faiz langsung menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan istri saya Dok" Ucap Faiz
"Istri anda sudah melewati masa kritisnya, tapi saya mohon maaf karena janin dalam kandungannya tidak bisa di selamatkan"
Air mata Faiz jatuh, tubuhnya lemas kemudian terduduk di lantai, hatinya begitu hancur, ia tidak tau harus mengatakan apa pada istrinya nanti, Fransiska dan Aneth menghampiri Faiz.
"Nak, kamu harus kuat jangan seperti ini kasian istrimu, ia lebih terluka karena ini" Ucap Fransiska
Faiz menyeka air matanya "Aku gagal menjadi seoang suami Mom, aku tidak bisa menjaga janin dan juga istriku, aku gagal Mom, Ma"
"Kamu nggak gagal sayang, ini ujian dari Allah, kamu harus kuat beri kekuatan pada istrimu dia sangat membutuhkan mu" Ucap Aneth
Jhonson dan Abraham hanya bisa melihat Faiz yang begitu rapuh, baru kali ini Faiz meneteskan air matanya, Jhonson sudah menyuruh David asistennya untuk mengecek kejadian ini.