
Sepeninggalan Mami Tari, Azka melirik Salsa yang sedari tadi menatapnya. "Aku mau ganti baju," ujarnya.
"Iya."
Azka bergeming, tidak langsung masuk ke kamar, dia kembali menoleh pada sang pacar. "Kamu mau liat?" tanya Azka ambigu.
"Huh?"
"Huh ... heh ... hoh .... Budeg?"
"Azka ish, nyebelin banget sih kamu." Salsa melempar Azka bantal sofa.
"Kalau kamu mau liat, ayo masuk ke kamar!" ajak Azka dengan wajah datarnya berjalan lebih dulu ke ke kamarnya.
Salsa tak mengidahkan Azka, entah kenapa laki-laki itu sedikit menyebalkan hari ini. Ia fokus dengan layar di depannya sembari ngemil ciki yang di bawa Azka tadi. Salsa hanya melirik Azka yang sudah ganti baju dengan pakaian Santai.
"Sayang, aku ngantuk, pulangnya bentar aja ya!" manja Azka duduk di samping Salsa, menyandarkan kepalanya di pundak gadis itu sembari memeluk dari samping.
Salsa menelan salavinya kasar, sikap manja Azka membuat jantungnya tidak aman, terlebih mereka hanya berdua di apartemen luas itu. Untuk pertama kalinya, Azka berubah hangat dan manja luber-luber seperti ini.
"Azka aku ...."
"Bentar aja," gumam Azka semakin erat memeluk tubuh ramping Salsa. Tak bisa mengelak, gadis itu pasrah dan mengelus rambut Azka.
Laki-laki itu semakin lancang bergerak hingga wajah Azka tengelam di ceruk lehernya.
"Aku ada balap liar sama yang lain bentar malam," jujur Azka. "Aku janji nggak bakal kenapa-napa. izinin ya! Pasti dong, pacar aku 'kan baik hati dan pengertian!"
"Sayang." Azka mendongak saat tak mendapati jawaban.
"Kalau aku nggak ngizin, kamu bakal marah? Aku nggak mau terjadi sesuatu sama kamu Ka," lirih Salsa.
"Ayo, aku antar pulang, Mama mungkin udah ada di rumah!" ajak Azka menarik tangan Salsa agar berdiri tapi gadis itu menepisnya.
"Aku mau di sini sama kamu, aku nggak mau pulang. Aku nggak mau kamu ikut balapan Azka! Aku takut kamu kenapa-napa kayak waktu itu. Aku egois, biarin aja kamu ngatain aku." Salsa menatap Azka.
"Kamu udah janji nggak bakal ikut balapan lagi!"
"Nggak!"
Tak ingin tersulut emosi dan berakhir mengasari Salsa. Azka manarik gadis itu agar duduk di panggkuannya. Melakukan posisi seperti tadi, bedanya kini Salsa berada di pangkuannya.
Akhir-akhir ini emosi Azka sangat mudah tersulut mau perkara sekecil apapun itu. Dokter psikiater mengvonisnya mempunyai gangguan IED (Intermittent Explosive disorder). Gangguan kepribadian seperti ini bisa terjadi karena lingkungan sekitar juga keluarga, sering memendam amarah dan menanggung masalah seorang diri hingga mengalami stres dan sulit mengotrol emosi.
"Aku nggak mau kamu terluka. Kamu marah?"
"Hm."
Kalau lo mau tau siapa ketua Elang yang sebenarnya maka datang malam ini ke tempat biasa. Ada balapan liar, kalau lo berhasil ngalahin gue. Makan gue akan beritahu lo!
Pesan singkat dari Jeri berhasil mengusik pikiran Azka sampai sekarang. Ia mempunyai alasan kenapa ingin menginkari janjinya untuk tidak balapan lagi. Tapi melihat Salsa hampir menanggis membuat laki-laki itu urung.
Kelemahan Azka adalah melihat Salsa menangis.
"Aku sayang sama kamu, makanya nggak mau kamu ikut balapan," lirih Salsa mengelus rambut Azka.
"Aku tau."
"Azka ...."
"Diam Sal!" bentak Azka.
Salsa tersentak, elusan di rambut Azka terhenti, tangan gadis itu gemetar. Hendak berpindah posisi tapi pelukan Azka semakin erat.
Deringan ponsel diatas meja berhasil memecahkan keheningan di antara mereka berdua. Azka dengan cepat mengambil ponsel Salsa di atas meja.
Kak Devan is Calling ....
"Ngapain Dia nelpon kamu?"
...****************...
Jangan lupa meninggalkan jejak, dan terimakasih untuk dukungan kalian😘