
Setelah kepergian Rio, Azka langsung menemui Ans di rumahnya, ia ingin memperjelas sesuatu. Baru saja membuka pintu, suara Azka mengelegar memanggil nama Papinya, membuat Tari yang sedang duduk di ruang tamu terkejut bukan main.
"Azka sayang, kamu kenapa Nak?" tanya Tari menghampiri putranya yang terlihat sangat emosi.
"Di mana Ans?" tanya baik Azka tanpa sopan santu.
"Papi kamu ada di ruangannya, kamu kenapa sayang? Jangan emosi seperti ini! Kendalikan dirimu kamu nak!" Bujuk Tari. Namun, di hiraukan oleh Azka begitu saja.
Dengan langkah lebar, Azka mengunjungi Papinya di ruang kerja di ikuti Tari di belakangnya karena khawatir. Tanpa punya adab dan sopan santun, Azka membuka pintu dengan kasar, melayangkan tatapan tajam pada manusia yang bergelar ayah itu.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan!" bentak Azka setelah berada di depan Ans, membuat Tari tersentak.
Ia sudah sering melihat putranya emosi dan bertengkar dengan suaminya, tapi Tari belum pernah melihat Azka semarah ini.
"Apa-apaan kamu Azka, pulang-pulang langsung emosi dan membentak Papi seperti itu, di mana sopan santunmu!" tegas Ans menghentikan pekerjaanya.
Azka senyum simpul dengan tangan mengepal siap memukul sesuatu untuk melampiaskan amarah dalam dirinya. "Kau butuh di hargai?" tanyanya sedikit meledek.
"Kau meminta di hargai, tapi kau lupa menghargai seseorang tuan Ans yang terhormat!" lanjut Azka penuh penekanan.
"Dewasalah bersama usiamu, dan jangan lupa otak dan sikapmu di bawa juga!" bentak Azka berapi-api. "Apa yang kau katakan pada kekasihku hingga dia memilih menjauh Ans!" teriak Azka hendak maju menghajar Ans. Namun, Tari segera memeluknya.
"Mami mohon jangan emosi seperti ini sayang!" tangis Tari terus memeluk Azka.
"Dia tidak pantas untukmu, dia hanya penghalang segala sesuatu untuk masa depanmu!" ucap Ans sangat tenang, merasa apa yang ia lakukan sudah benar. Tak ada rasa bersalah atau penyesalan dalam dirinya.
"Dia bukan penghalang bagiku. Dia bahkan mendukung setiap apa yang aku lakukan dan mengerti apa yang aku rasakan dan inginkan. Bukan sepertimu yang egois akan keinginan sendiri dan bersembunyi di balik kata 'Ini semua untukmu nak' "
"Kau menekan mentalnya dan merendahkan harga dirinya, menghina dia karena penyakit yang dia derita, seolah-olah putramu lah yang paling sempurna. Putramu mempunyai banyak kekurangan asal kau tau! Bukan dia yang tidak pantas untukku, tapi aku yang tidak pantas untuknya!"
"Tidak ada yang mau menerima pria emosian dan mempunya kelainan seperti diriku selain dia!" teriak Azka.
"Kau!" Menunjuk Ans dengan telunjuk di sertai tatapan mematikan. "Kau adalah iblis berwujud manusia!"
"Azka!" bentak Ans dengan rahang mengeras.
"Kenapa kau diam saja!"
Bugh
Azka mundur beberapa langkah karena pukulan Ans yang begitu keras. "Sadarlah! Kau di butakan dan di perdaya oleh gadis tidak berguna itu!"
Emosi Azka kian memuncak, tap peduli lagi dengan pria yang ada di hadapannya. Di pandangan Azka, pria itu bukan lagi Papinya yang harus di hormati.
Ia melanyangkan tendangan hingga membuat Ans terjerambah ke rak buku kemudian meresot ke lantai sembari memegangi dadanya.
"Jangan pernah kau menghinanya di depanku!"
"Azka udah nak!" mohon Tari dengan air mata berderai. Menghampiri Ans dan membantunya berdiri.
"Katakan padanya. Kalau sampai dia berani menyentuh Salsa suujung kukupun, maka detik itu juga dia kehilangan pewarisnya."
"Kalau kau berani meninggalkan rumah ini, maka Papi akan mencabut semua fasilitasmu!" teriak Ans berhasil menghentikan langkah Azka yang hendak pergi.
Azka berbalik, mengeluarkan dompetnya. Ia mengambil beberapa kartu di sana kemudian meletakkannya di meja. "Ambil semua kartu yang kau berikan, aku tidak membutuhkannya. Kunci mobil, aku tidak membawanya, setelah sampai di rumah aku akan mengirimnya."
Azka melepas hodiee yang ia pakai. "Ini pemberianmu 'kan?" Ia melemparnya ke lantai. "Ambil semuanya!"
"Azka sayang, Papimu tidak serius mengatakannya."
"Tidak apa-apa Mi. Azka juga tidak membutuhkannya."
Azka menatap Ans dengan sorot mata kekecewaaan, entah sampai kapan Ans akan berubah. "Aku bangga kau mempunyai cinta yang besar untuk Mami. Tapi tidak seharusnya kau membenciku karena rasa cemburu, aku bukan orang lain yang pantas kau cemburui," lirih Azka.
"Malam ini, aku resmi mengundurkan diri sebagai pewarismu. Jangan ganggu kehidupan aku lagi. Biarkan aku menjalani hidup sesuai yang aku inginkan."
Usai mengatakan itu, Azka meninggalkan rumahnya, rumah yang dulunya penuh kenangan manis, kini berubah menjadi neraka hanya karena rasa cemburu yang berlebihan. Kecewa. Sangat, saat Papinya menghina Salsa terang-terangan di hadapannya.
...****************...