
Tak terasa sudah tiga hari lamanya Azka dan Salsa tidak bertemu, walau begitu, Azka sering diam-diam menelpon sang kekasih. Hari ini adalah hari Akad yang telah di nanti-nanti Azka sejak dulu.
Tak bisa di pungkiri, laki-laki yang tidak takut akan apapun itu kini gugup di hari pernikahanya sendiri. Beberapa kali Azka mengusap tengkuknya demi menghilangkan kegugupan.
"Azka, ayo nak!" panggil Tari setelah semuanya siap dan akan berangkat menuju rumah Salsa tempat di adakannya akad nikah.
Mereka hanya mengundang keluarga saja, sebagai saksi, nanti saat resepsi mereka mengundang tamu besar-besaran dan mewah.
"Iya Mi, bentar lagi!" sahut Azka yang masih ada di kamarnya bersama inti Avegas yang terus menggoda sedari tadi.
"Cielah yang bentar lagi melepas masa lajang. Gimana tuh liriknya Ray?" goda Ricky.
Lima cecungut itu datang sangat pagi kerumah Azka hanya untuk merecoki dan membuat ketuanya semakin gugup.
"Lupa gue, nanti dah kita nyanyi," jawab Rayhan.
"Nggaka ada nyanyi-nyanyian, setelah Akad kalian langsung out aja," jawab Azka.
"Anjir, yang nggak sabaran nganu."
"Nganu pala lo."
"Azka sayang!" teriak Tari untuk kedua kalinya.
"Iya Mi, Azka nyusul ini!" sahut Azka.
Setelah berdebat dengan teman-temannya, Azka menyusul orang tuanya di ruang tamu bersama yang lain.
Azka berangkat bersama orang tuanya dan inti Avegas mengawal dari belakang bersama beberapa mobil lainnya.
Sesampainya di rumah Salsa, mereka di sambut ramah oleh pengurus hingga berada di dalam rumah, dimana Akad nikah segera di langsungkan.
Yang menjadi wali nikah Salsa adalah om Dilan sebagai orang terdekat laki-laki walau tidak punya ikatan keluarga.
Sama dengan Azka. Salsa juga tengah di landa kegugupan di dalam kamarnya di temani oleh Alana dan Tante Rianti Mama Keenan.
Alana terus mengengam tangan sahabatnya. "Akhirnya kalian bersatu juga Sal," ucap Alana dengan binar bahagia.
"Gue gugup Al, apa lo segugup ini dulu?" tanya Salsa.
"Iyalah, sampai jantung gue mau copot." Alana tertawa. "Gue kebawah dulu ya, pak Alvi nyariin," pamit Alana saat mendapat pesan dari sang suami.
Salsa hanya menganggukkan kepalanya. Kini tinggal Rianti dan dirinya di dalam kamar.
"Mama nggak nyangka kamu bakal nikah sama Azka, bukan anak Mama," ucap Rianti mengelus pundak Salsa.
"Maaf Ma," lirih Salsa.
"Kenapa minta maaf sayang? Kamu nggak salah. Siapapun yang jadi pendamping kamu, Mama tetap dukung."
Salsa hanya menanggapi dengan senyuman.
Kembali lagi kelantai dasar, dimana mempelai pria tengah bersiap mengucapkan ijab kabul di depan pak penghulu dan beberapa saksi lainnya.
Tangan Azka berkeringat dingin. Untuk pertama kali dalam hidupnya ia merasakan gugup setengah mati seperti ini sampai tangannya bergetar. Apa lagi saat akan menjabat tangan om Dilan.
"Kamu siap nak?" tanya pak penghulu di jawab anggukan oleh Azka.
Dilan menarik napas sebelum berbicara.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau ananda Farel Azka Afrizal Wijaya bin Anson Ardinal Wijaya dengan Salsa Natasya Anjani dengan Maskawin berupa satu yunit rumah mewah, satu buah Cafe, satu mobil sport, uang lima ratus juta, emas 100 gram dan seperangkat alat shalat, tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Salsa Natasya Anjani binti Arion Agaskara dengan maskawin tersebut, tunai!"
Dengan satu tarikan napas akhirnya Azka mengucapkan kalimat sakral itu dan resmi menjadikan Salsa miliknya.
"Sah?"
"Sah!" sahut para Saksi dan tamu yang hadir.
Mereka mengucapkan syukur dan tak lupa berdo'a sembari menunggu mempelai perempuan turun.
...****************...