
Malam harinya sepasang pengantin baru itu belajar untuk persiapan try out untuk besok. Azka dengan setia mengajari sang istri, walau kata-kata yang keluar dari mulutnya sangatlah tajam bak mata pisau. Sangat di untungkan Salsa bukan gadis baperan, dan mengerti akan diri Azka jadi ia tidak terlalu sakit hati.
"Aku belum ngerti Ka," lirih Salsa untuk kesekian kalinya. Ia tidak terlalu bodoh, tapi jika menyangkut matematika otaknya akan blank.
"Otak kamu di mana sih Sal? Di dengkul?" tanya Azka masih menunduk.
"Di kaki," jawab Salsa membuat laki-laki itu mendongak.
"Jangan cemberut gitu dong," bujuk Azka menarik Salsa masuk ke pelukannya.
"Kamu nyelekit banget, mentang-mentang pintar," sindir Salsa.
"Yaudah sini aku jelasin sekali lagi."
"Aku nggak punya otak, mana masuk," sindir Salsa lagi setelah bosan mendengar mulut Azka. Ia akan memberi suaminya pelajaran.
"Sayang, jangan gitu dong. Aku cium deh." Azka kambali membujuk.
"Enak di kamu."
"Enak di kamu dong, sampai merem tadi, minta nambah lagi," goda Azka.
Wajah Salsa memerah, apa lagi Azka menatapnya dengan senyuman yang sangat. Ah sudahlah, hatinya langsung meleyot melihat sang suami.
Ia sudah bucin akut pada suaminya, hingga apapun yang di lakukan Azka membuatnya jatuh cinta.
"Udah dua jam kita belajar, aku ngantuk. Tidur yuk suamiku!" ajak Salsa.
"Dengan senang hati istriku," balas Azka.
Ia mengendong Salsa kekamar mandi untuk sikat gigi dan melakukan ritual lainnya berdua sebelum tidur.
"Azka, itu pasta giginya mencet nggak boleh gitu!" tegur Salsa saat melihat cara Azka yang memencet di bagian tengah.
"Harus ada aturan?"
"Iya biar cantik," jawab Salsa. "Gini suamiku." Salsa mengambil alih pasta gigi kemudian memperagakan cara yang benar. Ia memencet bagian paling bawah.
Saat akan keluar dari kamar mandi, Salsa tak sengaja mendapati benda asing di kamar mandi.
"Kok ada sabung batangan?" tanya Salsa.
***
Pagi harinya setelah sarapan bersama di rumah, kedua penganti baru itu berangkat sekolah bareng naik mobil. Azka belum berani membawa istrinya naik motor sebelum memastikan luka jahitan di perut benar-benar kering.
Sesampainya di sekolah keduanya di sambut heboy oleh inti Avegas di depan kelas IPA XII 1.
"Minggir woy, pak ketua sama pawangnya datang," sindir Keenan.
"Pagi!" sapa Salsa sebelum melewati segerombolan teman-teman Azka.
"Nggak usah nyapa!" tegur Azka. "Kalian ngapain masih disini? Cepat banget datangnya."
"Kitakan pada rajin pak ketu, makanya datang pagi padahal sesi ke dua," jawab Dito.
"Lo juga ngapain datang pagi?" todong Ricky. "Biasanya juga tidur."
Azka mengedikkan bahu acuh, walau ia sesi dua seperti yang lain. Tetap saja berangkat pagi karena keinginan sang istri.
"Tangannya santai aja dong, nggak pegal tuh di genggam mulu," sindir Keenan.
"Sirik aja kalian pagi-pagi."
Azka melanjutkan langkahnya menuju kelas, masih banyak waktu untuk bersantai hingga giliran mereka. Karena masih ngantuk laki-laki itu merebahkan kepalanya di pundak sang istri, dengan hidung menyentuh ceruk leher Salsa.
Tak ada protesan dari Salsa, ia malah mengelus rambut Azka hingga terlelap. Sembari menunggui Azka tidur, ia menghabiskan waktunya membaca novel dam sedikit mengulang pelajaran semalam saat belajar dengan Azka.
Keduanya memang satu ruangan, tapi beda tempat duduk, hingga Azka tidak bisa memberi jawaban pada sang istri.
"Kok aku senang ya Ka, kamu manja sama aku?" gumam Salsa memainkan jari-jari kekar Azka.
"Hm," gumam Azka semakin mengeratkan pelukannya.
"Kek Bayi gede, gemes banget."
"Diam sayang!" gumam Azka.
...****************...