Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 68


Usai makan malam bersama Mama nya, Salsa kembali ke kamar, duduk di sofa sembari memainkan ponselnya, memeriksa berita apa saja yang menarik untuk di kulik daripada gabut seorang diri. Sudut bibir gadis itu tertarik membentuk setengah lingkarang.


"Kayaknya seru deh, Azka mau nggak ya?" gumam Salsa saat melihat banner pasar malam yang akan di adakan di Alun-alun kota.


"Tanya dulu deh," putus Salsa.


Gadis itu masuk di aplikasi hijau lalu menekan kontak yang ia sematkan, mengirim pesan pada laki-laki yang belakangan ini sangat memanjakannya walau jarang bicara.


Azka: Ka, ada pasar malam di alun-alun kota, lo mau nggak kesana?


Hampir setengah jam Salsa menunggu tapi tak ada balasan dari Azka.


Azka: Lo sibuk ya? Yaudah nggak papa, gue bolehkah pergi sendiri? Nggak sampai larut kok, setelah liat suasananya gue pulang.


Azka: Lain kali kita pergi bersama, dah ...."


Usai pamitan dengan Azka walau belum ada balasan, Salsa bersiap-siap untuk pergi. Lagian Azka pernah bilang, ia boleh pergi walau tak ada balasan. Mungkin karena Azka sibuk atau tidak sempat pegang hp.


Menunggu taksi di teras rumah sembari memainkan ponsel adalah hobinya setiap akan pergi. Notifikasi pesan masuk di ponselnya, membuat Salsa tersenyum sumbringan.


Rio: Udah tau belum kalau di Alun-alun ada pasar malam?


Salsa: Udah, ini gue lagi nunggu taksi otw kesana


Rio: Kebetulan, bareng yuk!


Salsa: Next time okey, gue lagi sama Azka


Rio: Yah, gini nih kalau teman udah punya pacar


Usai menolak ajakan Rio dengan cara berbohong Salsa berjalan keluar dari pekarangan rumahnya saat taksi menunggu di depan pagar. Salsa terus memerhatikan ponselnya berharap ada balasan dari Azka yang akan menyusulnya, tapi nihil bahkan di readpun tidak.


"Moga aja lo emang ada pekerjaan Ka, bukan tawuran," gumam Salsa.


Sesampainya di pasar malam, Salsa berjalan dengan riang memasuki pasar. Banyak pasangan muda mudi disana, berjalan beriringan atau sekedar berpegangan tangan jalan bersama.


Ia menuju salah satu toko yang lumayan ramai, katanya ada diskon besar-besaran. Karena mahluk bernama perempuan suka dengan diskonan, maka toko itu penuh oleh kaum hawa padahal pakaian yang di jual untuk pria.


Berhasil menyelinap masuk ke toko yang tidak terlalu besar itu, Salsa berkeliling mencari sesuatu yang pas untuk seseorang, dan pilihannya terjatuh pada Hoodie putih bertopi. Senyuman kembali hadir di bibirnya saat membayangkan betapa tampan Azka saat memakai itu.


Tanpa menawar takut keduluan dengan yang lain, Salsa membeli itu, walau uang jajannya kisaran enam lembar uang merah harus hangus, itu tak masalah demi pacar tercinta.


"Moga aja Azka suka," gumam Salsa melanjutkan penjelajahannya di pasar malam itu.


Seseorang tiba-tiba mengenggam tanggannya, ia menoleh dan mendapati Rio tengah tersenyum manis padanya.


"Bohong kan lo, katanya sama Azka tapi mana?" ucap Rio.


"Rio, gue kira siapa, untung gue nggak teriak."


"Karena pacarnya nggak ada, giliran gue yang ngajak lo keliling pasar malam sampai puas. Oh iya lo beli apa itu?" tanya Rio merebut paper bag di tangan Salsa.


"Hoodie buat Azka, cantik banget kan?"


Senyuman di wajah Rio hilang seketika, bahkan saat Azka tak ada sekalipun Salsa masih memikirkannya. Entah mukjizat darimana ia akan mendapatkan hati Salsa.


"Pada dasarnya yang selalu ada akan kalah dengan seseorang yang selalu ada di hati."


***


"Turuti keinginan Papi atau kamu tidak akan bertemu gadis itu lagi."


Ancaman Ans beberapa hari yang lalu selalu berputar di kepala Azka layaknya rekaman. Salsa adalah kelemahan Azka untuk saat ini, dengan mengancam laki-laki itu akan melukai Salsa sudah membuatnya tak berkutik.


Sepanjang jalan menuju restoran tempat mereka akan bertemu keluarga Alana dan membicarakan tentang pertunangan, Azka diam saja. Bahkan sekarang ia tidak memegang ponsel karena di sita oleh sang Ayah sampai pertemuan hari ini.


Tari mengenggam tangan putranya yang sedari tadi terkepal, urat-urat di tangan laki-laki itu menonjol.


"Maafin Mami, nggak bisa ngelakuin sesuatu buat kamu nak," lirih Tari, tapi Azka tetap bergeming menatap lurus kedepan.


Sembari menunggu keluarga Alana datang, Azka dan keluarganya memesan makanan terlebih dahulu untuk makan malam nanti. Baru saja Azka akan beranjak, seorang gadis cantik dengan wajah cemberut masuk ke ruangan VIP itu.


"Alana!"


"Azka?" Tubuh Alana membatu di ambang pintu saat tahu orang yang akan di jodohkan dengannya adalah sahabatnya sendiri.


Gadis itu menatap kedua orang tuanya bergantian dan hanya di balas senyuman.


"Aduh calon mantu Mami cantik banget," sambut Tari menarik Alana agar duduk tepat di hadapan Azka yang kini masih berdiri mematung.


"Jadi Alana selama ini nggak tau kalau mau di jodohin sama gue?" batin Azka bermonolok. Pantas saja gadis itu bersikap biasa-biasa saja saat di puncak.


"Kayaknya ada yang tepesona sama kecantikan Alana," sindir Bunda Anin saat Azka belum juga duduk masih menatap Alana.


Makan malam di mulai dengan keseruan para orang tua, tapi tidak untuk Azka dan Alana, terjadi kencanggungan di antara keduanya.


Gadis yang biasanya menempel pada Azka kini diam seribu bahasa, apa lagi saat para orang tua menentukan tanggal pertunangan mereka. Ini tidak boleh terjadi, ia sudah punya calon sendiri.


"Kok jadi canggung kayak baru kenal aja," celetuk Mami Tari, hanya di balas senyuman oleh Alana.


"Mungkin nggak nyangka jodohnya sahabat kecil sendiri," timpal Bunda Anin.


Para Ayah juga sibuk dengan dunia masing-masing, membicarakan tentang bisnis karena lama tak bertemu.


Alis Azka terangkat sembari menatap gadis di depannya, saat merasakan tendangan di bawah meja. Ia kembali mengode saat mengerti kodean Alana.


Alana beranjak setelah mengerti tatapan Azka. "Alana mau bicara sama Azka berdua aja!" ujar Alana akhirnya.


"Kenapa harus minta izin sayang? Mau jalan malam ini juga nggak papa, sana yang lama bicara nya!" sahut Mami Tari sangat bersemangat begitupun yang lainnya.


"Jangan nyusahin Azka!" peringatan bunda Anin.


Alana hanya mengangguk, mengikuti langkah Azka yang kini berjalan lebih dulu darinya. Mereka kini berada di taman dekat restoran yang lumayan sepi, duduk berdampingan sembari menatap dedaunan yang bergoyang karena terpaan angin.


"Kenapa nggak nolak?" tanya Alana


"Lo juga kenapa nggak nolak?"


Hening, tak ada lagi yang membuka suara. Hanya suara jangkrik dan dedaunan yang menemani mereka.


"Gue nggak mau nikah sama lo." ujar Alana berbarengan dengan Azka.


...****************...


Jangan lupa meninggalkan jejak🥰