Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 104


Jam tiga dini hari Azka terbangun karena ponselnya berdering, ah ya ia lupa mematikan benda pipih itu sebelum tidur. Merasa tidak penting Azka mematikan panggilan begitu saja. Ia mengeram kesal saat ponselnya kembali berdering.


"Ganggu orang aja," gerutu Azka hendak mematikan benda pipi itu, tetapi gerakan tangannya terhenti membaca pesan.


For Azka: Ini tante, mamanya Salsa nak.


Tanpa menunggu waktu, Azka menelpon balik nomor baru itu.


"Ada apa tante?" tanya Azka setelah panggilan terhubung.


"Salsa sama kamu nak?"


"Nggak tante, Salsa udah pulang jam delapan tadi."


Suara isakan terdengar di seberang telpon, membuat Azka semakin bingung dengan wanita paruh baya itu.


"Tante!"


"Salsa belum pulang kerumah nak, dan ponselnya tidak aktif, tante udah hubungin Alana, tapi dia juga nggak ada di sana," isak Mama Reni. "Tolongin tante nyari Salsa nak."


"Tante tenang aja, Azka bakal nyari Salsa sampai ketemu." Azka memutus sambungan telpon begitu saja.


Azka menyuruh Mama Reni tidak khawatir, tapi ia sendiri mulai khawatir dengan keberadaan Salsa. Dimana gadis itu berasa di jam seperti ini. Ia menyambar jaket juga kunci motornya. Melajukan motor merah itu di aspal yang sunyi. Angin malam tak membuat tekat Azka berkurang untuk mencari keberadaan Salsa.


Azka menelpon anggota yang bertugas memantau Salsa, tapi jawaban orang itu membuatnya sangat marah.


Gue nggak tau Ka, terakhir gue liat dia masuk keapartemen lo.


"Arrggg ... lo di mana Sal?" Azka mengacak-acak rambutnya, penyesalan mulai menghinggapi hatinya. Seandaianya malam itu ia tidak membentak dan mengantar Salsa pulang, semuanya tidak akan seperti ini.


Tanpa memperdulikan waktu, Azka menelpon anggota inti, dan menyebar luaskan berita ini pada anggota lain agar segera mencari keberaan Salsa. Terlepas dari gadis itu pacarnya, Salsa adalah kliennya.


Matahari mulai menyapa, menyinari bumi yang semula gelap. Azka berdiri di sebuah jembatan menatap nanar sungai yang sangat tenang. Dimana lagi ia akan mencari Salsanya?


"Salsa lo dimana? Gue belum siap kehilangan lo!" teriak Azka, membuatnya menjadi perhatian para pengendara yang kebetulan lewat.


Rambut acak-acakan, pakaian amburadul, lingkaran mata yang menghitam, sudah bisa mengambarkan betapa frustasinya ketua Avegas.


Rayhan menepuk pundak Azka setelah memarkirkan motor dengan aman. Ia segera menemui ketuanya, takut laki-lak itu berbuat nekat.


"Kita kemarkas!" ajak Rayhan.


"Lo bisa setenang ini setelah tahu Salsa menghilang?" geram Azka menarik kerah baju Rayhan.


Lo seperti ini karena rasa bersalah dan penyesalan besar dalam diri lo Ka.


Dengan susah payah Rayhan menghempaskan tangan Azka. "Lo kita dengan begini bisa nemuin Salsa? Otak di pakai Ka, bukan cuma emosi yang lo perbesar!" maki Rayhan. "Kita sekarang ke markas dan pikirkan solusinya dengan kepala dingin seperti yang lo lakuin sebelumnya!" ajak Rayhan.


Kalau saja lo bukan teman gue, udah gue dorong lo ke jembatan.


"Ngapain lo liatin gue kek gitu?" sinis Azka memasang helmnya.


Temperamen Azka benar-benar buruk belakangan ini karena dua bulan lebih tak pernah ke psikiater sesuai anjuran dokter.


"Maafin gue Sal," lirih Azka penuh penyesalan, di balik helm mewah itu, tardapat tatapan kosong Azka.


...****************...


Jangan lupa meninggalkan jejak, dan terimakasih untuk dukungan kalian😘