
Sinar matahari masuk melalui ventilasi udara, menerpa kulit seorang gadis yang kini tidur dengan mengenaskan. Duduk di kursi usang dengan tangan dan kaki di ikat. Mata Salsa perlahan-lahan terbuka menyesuaikan cahaya matahari. Pandangannya mengedar keseluruh ruangan yang minim pencahayaan, hanya cahaya matahari yang menyinari.
Rasa nyeri di pinggang, juga sesak napas mulai Salsa rasakan, tetapi tak seorangpun yang bisa di mintai pertolongan.
"Leo?" beo Salsa saat melihat Leo membuka pintu dan menghampirinya.
"Selamat pagi sayang, lama nggak bertemu," sapa Leo mencolek dagu Salsa.
"Leo gue haus, tolong beri gue minum!" pinta Salsa.
"Lo mau minum? Maafin gue sayang, nggak tau lo haus," ucap Leo dengan senyum smirk.
Leo menunjuk botol air meneral di meja lain. "Gue cape belum sarapan, lo ambil aja sendiri." Leo mendudukan diri di kursi yang telah di siapakan anggotanya.
Sekarang tubuh Sala melemah, untuk berontak minta di lepaskan sudah tak sanggup. Hanya air mata yang terus mengalir memperlihatkan betapa sakit yang ia rasakan.
Bibir pucatnya bergetar "Beri gue makan Leo, gue mau minum obat! tubuh gue sakit!" pinta Salsa berlinangan air mata, tak ada teriakan histeris darinya.
Leo berjalan mendekat, menarik dagu Salsa dengan telunjuk agar gadis itu mendongak. "Ayolah kenapa harus repot-repot minum obat? Bukannya itu hanya menunda kematian lo aja? Mau gue bantu biar cepat ketemu ayah lo?"
Salsa mengeleng, bayangan Mamanya juga Azka berputar di kepalanya. Wajah Mama Reni yang mengharapkannya sembuh dan hidup normal. Wajah Azka yang selalu menyemangatinya.
"Lo itu hidup cuma jadi sampah nggak guna. Udah penyakitan cengeng pula." Leo menoyor kepala Salsa sangat keras.
"Leo kenapa lo berubah seperti ini?"
"Bukan gue yang berubah, tapi lo yang terlalu naif untuk ngenalin gue. Gue Leo ketua Wiltar, pasti lo senang bisa ketemu ketua geng motor terkenal seperti gue."
"Lo nyulik gue karena apa?" lirih Salsa dengan sisa tenaga yang ada.
"Karena lo anaknya pak Arion sialan! Gara-gara ayahlo, kakak gue harus mendekam di penjara selama puluhan tahun!" geram Leo dengan tangan terkepal "Ayah lo menghancurkan masa depan kakak gue, dan lo harus membayar semuanya!" teriak Leo.
"Kalau begitu bunuh gue Leo dan berhenti benci ayah Gue!" pinta Salsa berlinangan air mata, rasanya sakit mendengar nama ayahnya di sebut, apa lagi mendengar, bawa ayahnya menghancurkan hidup seseorang. "Bunuh gue dan maafin ayah gue!" Menatap Leo penuh harap.
"Dengan senang hati, tapi sebelum lo mati, bagaimana kalau kita bersenang-senang dulu?" tanya Leo dengan senyum smirk.
Leo memandu anggotanya untuk mengambil bagian masing-masing, dan ia hanya duduk menyaksikan.
Kesadarana yang hampir hilang kini pulih kembali saat seseorang manarik rambut Salsa sangat keras, memberikan tamparan, hingga darah mengalir, bukan hanya dihidung, tetapi juga mulut. Ia merintih kesakitan, rasa sakit seakan membunuhnya perlahan-lahan.
Azka tolong selamatin gue! Gue yakin lo pasti datang. Datanglah secepat mungkin, gue udah nggak tahan Ka!
Batin Salsa menjerit, berharap Azka segera menemukan dirinya. Rasa sakit yang tak tertahankan membuatnya hampir kehilangan kesadaran.
"Hubungi Azka dan beritahu bahwa pacarnya ada disini, suruh dia datang sendiri! Sepertinya membunuh Azka jauh lebih menyenangkan."
Samar-samar Salsa mendengar perkataan Leo sebelum ia tak sadarkan diri.
...****************...
Jangan lupa meninggalkan jejak, dan terimakasih untuk dukungan kalian😘