
Masih dengan Air mata di pipi, Salsa turun dari motor Rayhan setelah sampai di tengah lapangan yang sangat luas. Di sana tidak ada orang selain dirinya juga Rayhan.
Ia menatap Rayhan dengan alis terangkat. "Dimana Azka, Ray?" tanyanya dengan suara serak.
"Pas gue pergi dia masih ada disini," jawab Rayhan kebingungan sendiri, memutar tubuhnya kesegala arah mencari keberadaan Azka dan motornya.
"Tunggu di sini, gue bakal nyari dia!" titah Rayhan melajukan motornya meninggalkan Salsa di tengah lapangan dengan cahaya temaram.
Salsa jatuh tersungkur di atas rumput, kakinya terasa lemas memikirkan keadaan Azka. Apa lagi dilapangan itu ia seorang diri.
"Kamu di mana Ka? Jangan buat aku khawatir," gumam Salsa.
Gadis itu mengusap air matanya kasar saat mendapat sorotan cahaya dari motor yang melaju memasuki lapangan luas itu, bukan hanya satu tapi puluhan motor besar hingga menimbulkan suara bising.
Dengan sisa tenaga yang ada Salsa berdiri, terus memandangi segerombolan motor besar itu. Jatungnya berdetak sangat cepat, ia mulai ketakutan, bayangkan saat ia di culik oleh Loe kembali berputar di kepalanya.
Di mana taksi yang ia tumpangi di cegat oleh beberapa motor di tengah jalan, memukul sopir taksi hingga tak sadarkan diri.
Langkah Salsa perlahan mundur saat salah satu motor besar berwarna merah hitam berhenti tepat di hadapannya. Rasa takut yang ia rasakan berubah menjadi rasa penasaran saat cowok itu menyerahkan setangkai mawar merah.
Tanpa mengatakan apapun, bahkan membuka helm pun tidak, pemilik motor yang baru saja menyerahkan mawar merah melaju dan memarkirkan motornya sedikit jauh dari Salsa.
Satu persatu motor besar melakukan hal yang sama seperti pengendara motor yang pertama, hinnga tangan Salsa di penuhi mawar merah yang sangat harum.
Gadis itu memutar tubuhnya setelah pengendara motor ber helm habis dan membuat lingkaran berbentuk hati.
Suara motor lumayan nyarin berhasil mengalihkan atensi Salsa. Motor merah yang sangat ia kenal memasuki lingkaran dari sudut lain kemudian berhenti tepat di hadapan Salsa.
Azka turun dari motornya setelah melepas helm yang melekat di kepalanya. "Happy Birtdhay sayang!" Memberi setangkai mawar merah terakhir untuk Salsa.
"HAPPY BIRTDHAY IBU KETUA!" teriak anggota Avegas berbarengan dengan letusan kembang Api memenuhi langit malam yang terlihat sangat indah.
Letusan yang membentuk love juga nama panjang Salsa yang sengaja Azka pesan pada pembuatnya.
Air mata Salsa semakin deras membasahi pipinya. Kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan air mata bahagia. Kejutan yang di berikan Azka jauh dari espektasinya, lebih indah.
Salsa tidak bisa menggambarkan rasa bahagianya dengan kata-kata. Ia langsung memeluk Azka hingga bunga mawar merah yang ada di pelukannya jatuh berserakan di sekitar kaki keduanya.
"Kenapa nangis, hm?" tanya Azka melerai pelukan Salsa kemudian menghapus air mata di pipi kekasihnya. "Kamu lupa aku nggak suka ...."
"Kamu yang buat aku nangis Ka. Kamu yang membuatku khawatir setengah mati malam ini. Kamu nggak tau seberapa takut aku kehilangan kamu," lirih Salsa membalas tatapan teduh Azka.
"Maaf," sesal Azka. "Aku ...."
"Kamu suka?"
"Banget. Adengan ini bahkan jauh lebih indah dari novel-novel yang sering aku baca."
"Kalau begitu aku akan mengajakmu keliling grandmedia besok, dan beli apapun yang kamu inginkan! Katakan padaku adegan apa lagi yang ada di novel belum terkabul dalam hidupmu!" Azka mengulum senyum melihat wajah memerah Salsa.
"Dilamar dan menikah!" jawab Salsa.
Azka mengusap air mata di pipi Salsa dengan ibu jarinya, kemudian berjongkok dengan salah satu kaki di tekuk. Mengeluarkan sesuatu di saku jaketnya.
"Salsa Natasya Anjani, mau kah kamu menikah denganku?" tanya Azka menyodorkan sebuah cincin yang sangat mengkilau karena pantulan cahaya motor dari anggotanya.
"Azka!"
"Aku serius Sal!" Yakin Azka dengan mimik wajah serius.
Salsa menutup mulutnya, tak percaya, malam ini kebahagian menghampirinya berkali-kali lipat.
"Bagaimana dengan Papi kamu, Ka?" tanya Salsa balik. Sampai sekarang Papi Azka belum merestui hubungan mereka.
"Aku nggak butuh restu dari Papi Sal. Aku cuma butuh restu dari Mami dan aku udah dapat. Sekarang aku nunggu persetujuan kamu."
Tanpa ragu Salsa menganggukkan kepalanya, meletakkan tangannya tepat di atas tangan Azka. Air mata kembali mengalir saat Azka memakaikan cincin di jari manisnya.
Usai memasangkan Cincin, Azka mengecup jari-jari lentik Salsa, kemudian bangkit lalu memeluk tubuh mungil kekasihnya.
Azka merasa lega, keinginannya untuk memiliki Salsa akan segera terkabul. Sedari tadi jantung Azka berdetak tidak beraturan. Rasa membuncah didada sulit untuk di utarakan hanya lewat kata.
"Kamu milik aku sekarang Sal," bisik Azka.
"Malam ini dan seterusnya aku milikmu Azka," balas Salsa dalam pelukan Azka.
Sorakan bahagia terdengar dari anggota Avegas di atas motor masing-masing yang membentuk love. Mereka ikut bahagia menyaksikan malam bersejarah ketuanya.
Malam itu, tepat di hari ulang tahun Salsa. Azka resmi melamar pujaanya hatinya, di saksikan bintang-bintang dan bulan yang bersinar terang.
Didalam lingkaran motor berbentuk love itu, sepasang kekasih tengah berpelukan penuh cinta setelah mengungkapkan perasaan masing-masing. Kambang api kian bersahut-sahutan menyambut malam bahagia itu.
...****************...