Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 194


Azka langsung masuk ke markas setelah memarkirkan motornya dengan aman, menerobos beberapa kerumunan anggota lainnya hingga sampai tepat di tengah-tengah di mana Samuel mengungkung tubuh salah satu anggotanya yang bertugas berjaga hari ini.


Azka tidak kaget mengetahui itu, karena memang mereka sudah tahu dari awal. Ia menjebak agar memperlihatkan pada anggotanya yang lain bahwa ia dan inti lainnya tidak mudah tertipu begitu saja. Apa lagi di perdaya musuh berkedok teman.


Azka sedikit berjongkok, menarik kerah baju Jaya kemudian melayangkan satu tinjunya. "Beraninya lo jadi musuh dalam selimut seperti ini!" geram Azka.


Jaya tertangkap basah oleh Rikcy juga Dito. Laki-laki itu menyelinap masuk keruang pribadi inti Avegas untuk mencari bukti yang di bicarakan inti Avegas tempo lalu lewat alat penyadap.


Tanpa ia menyadari semua itu hanya jebakan untuknya. Laki-laki itu pasrah saat Azka menyeret tubuhnya kesuatu tempat dan menghempaskannya ke tembok.


Mungkin para anggotanya lupa bagaimana saat ketuanya marah, hingga berani bermain api di belakang Azka. Azka sibuk dengan istri dan yang lainnya tapi ia punya mata dan telinga di mana-mana.


Ketua Avegas itu melepar kertas yang hendak Jaya curi di ruang rapat pribadi anggota inti. "Bukti ini yang lo cari?" tanyanya dengan gigi bergemulutuk. "Ambil dan berikan pada tuan lo itu!"


"Azka maafin gue, gue terpaksa lakuin ini karena butuh uang buat biyayain pengobatan ibu gue," mohon Jaya bersujud tepat di depan Azka.


"Apapun alasannya penghianat tetapla penghianat sialan!" emosi Azka. "Lo tau pertaturan Avegas bukan? Salsah satunya. Tiada ampun dan kesempatan bagi seorang penghianat," ucap Azka kembali mengingatkan Jaya akan peraturan Avegas.


"Siapa yang nyuruh lo?" tanya Azka dengan rahang mengeras, emosinya mulai tersulut, untung saja ia minum obat sebelum pergi karena Salsa memperingatkannya.


"Leo, dia janji bakal ngebiyayain semua pengobatan ibu gue," jawab Jaya.


Awal pertamuan Leo dan Jaya. Saat laki-laki itu membawa ibunya kerumah sakit dan akan segera di operasi. Ia kebingungan mencari uang di mana. Meminta pada Azka dan anggota inti lainnya, ia sudah tidak punya keberanian.


Selama ini Jaya banyak menyusahkan mereka. Saat putus asa, Jeri mendatanginya dan mengajak laki-laki itu keruang rawat Leo.


Leo menawarkan sejumlah uang dengan tawaran yang mengiurkan. Terlebih selama ini Jaya tahu siapa ketua Elang sebenarnya karena tidak sengaja menguping pembicaraan Jeri dan Leo malam itu saat ia meninggalkan ruangan.


Azka menutup matanya, rahangnya mengeras dengan gigi bergemulutuk. Leo dan Leo nama itu selalu mengusiknya.


Azka senyum simpul. "Lo tau resikonya 'kan? Gue beri lo kesempatan. Lo yang bakar motor atau gue?"


"Azka gue mohon jangan bakar motor gue. Gue bakal beritahu lo rahasia besar tapi jangan bakar motor gue."


Semuel mengkode Azka agar mendengarkan penjelasan Jaya terlebih dahulu.


"Katakan!" perintah Keenan.


"Leo ketua Elang yang sebenarnya, dia yang membunuh pak Arion karena balas dendam. Leo nggak terima kakaknya mendekam di penjara karena ulah pak Arion," ucap Jaya sangat cepat.


Rahang Rayhan, Ricky, Dito, Keenan, hampir saja terjatuh mengetahui yang sebenarnya. Orang yang mereka cari selama ini ternyata berada di sekitarnya.


Ternyata benar apa yang mereka selidiki selama ini, Ketua Elang juga anak sekolah seperti mereka.


"Ka, kendaliin diri lo!" peringatan Samuel saat Azka hendak pergi.


"Gue harus bunuh Loe sekarang juga!"


"Ingat Salsa di rumah woi, kalau lo bunuh Leo terang-terangan lo bakal masuk penjara bego!" tekan Rayhan.


Keenan menarik Jaya keluar dari ruangan pribadi mereka. Menekan pundak laki-laki itu agar bejongkok di depan anggota Avegas yang mulai datang satu persatu karena perintah Azka.


Sementara di dalam ruangan, yang lainnya berusaha menurunkan emosi Azka.


"Jadi lo minta gue diam saja setelah tau semuanya, hm? Menunggu hukum menyelidiki semuanya?" tanya Azka.


Sejak awal laki-laki itu tidak pernah percaya dengan hukum walau Maminya seorang pengacara. Alasan Azka membangun Avegas karena ingin mengungkap kejahatan tanpa terikat dengan hukum.


"Kita nggak punya bukti apapun untuk melibatkan Leo didalam kasus itu, dan satu-satunya cara adalah membunuhnya!" bentak Azka.


"Kita pasti nemuin bukti Ka. Setidaknya kita sudah tau siapa ketua Elang," ucap Samuel masih tenang.


"Gue bakal bunuh Leo sekarang juga!" Meninju wajah Rayhan juga Rikcy yang sedari tadi mengungkung tubuhnya.


Langkah Azka terhenti saat ponselnya berdering.


Salsa is Calling ....


"Kenapa?" tanya Azka setelah menjawab telpon dari istrinya.


"Pulang, aku mau makan!" rengek Salsa di seberang telpon. Gadis itu baru saja mendapat pesan dari Dito bahwa Azka mengamuk di markas.


"Aku pulang sekarang," jawab Azka.


Yang lain bernafas lega mendengar ucapan Azka, kekuatan cinta memang sedahsyat itu.