
Usai makan siang, Azka mengunjungi kamar Salsa atas izin mama Reni, dengan syarat pintu kamar tidak boleh di tutup. Bagaimanapun keduanya adalah manusia yang tak luput dari dosa dan bisa saja khilaf.
Seandainya Mama tau aku pernah ngelakuin apa aja ke anaknya, mungkin aku udah di eliminasi jadi calon mantu.
Azka membuka pintu kamar dan mendapati kekasihnya sedang duduk bersandar di kepala dipan. Ia ikut duduk di pinggir ranjang menghadap Salsa, dengan nampang berisi makanan juga obat di tangannya.
"Kenapa nggak tidur? Malah main hp," tegur Azka mengambil ponsel Salsa dan meletekkan di atas nakas.
"Nggak ngantuk Ka, lagian aku bosan di kamar mulu," jawab Salsa.
"Makan dulu gih, terus minum obat biar cepat sembuh!" perintah Azka memposisikan dirinya untuk menyuapi sang kekasih.
"Aku bisa ...."
"Nggak ada yang nyuruh kamu," potong Azka langsung melesatkan makanan kemulut Salsa tanpa permisi.
"Kwok mwakswa?" protes Salsa dengan mulut penuh makanan.
"Di kunyah terus di telan sayang!" gemes Azka mengcubit pipi Salsa.
Dengan telaten ia menyuapi Salsa hingga makanan itu tandas juga obat sudah di minum. Bukannya keluar kamar, ia malah tiduran di pangkuan gadis itu sembari memperhatikan isi kamar Salsa. Senyumnya mengembang melihat foto di atas meja rias Salsa.
"Itu foto kamu?"
"Jangan di liatin." Salsa langsung menutup mata Azka, malu pacarnya melihat foto masa kecilnya.
"Cantik, tapi lebih cantik sekarang." Kalimat Azka mampu mengundang senyum di bibir Salsa. Gadis itu sangat senang, Azka tak lagi gengsi memujinya terang-terangkan.
"Gunung Es meleleh," gumam Salsa.
"Hah?"
"Nggak ada, katanya mau tidur." Salsa mengusap rambut Azka sangat lembut. "Tidur gih, istirahat yang cukup, akhir-akhir ini kamu kurang tidur."
Azka meraih tangan Salsa yang satunya lagi, mengenggamnya tepat di depan wajahnya. Ia memejamkan mata menikmati elusan Salsa di kepalanya.
Hanya mengelus sebentar, laki-laki itu sudah tertidur di pangkuan Salsa. Kalau boleh jujur, Azka sangat lelah satu minggu terakhir. Tapi itu tak masalah baginya, mengurus Salsa adalah kebahagian tersendiri untuk Azka.
Salsa langsung menempelkan jari telunjuknya dibibir saat Rayhan berdiri di ambang pintu, takut teman kekasihnya itu membuat keributan.
"Kenapa Ray?" tanya Salsa.
"Disuruh Tante Reni ke sini nyusul Azka," jawab Rayhan. "Takut kalian nganu ... tau-taunya lagi tidur, enak banget malah posisinya," gerutu Rayhan duduk di sofa tepat di dalam kamar Salsa.
"Kenapa nggak istirahat? Kamu pasti capek Ray."
"Ini mau istirahat, bu ketua mohon izin tidur di sofa ya," izin Rayhan memposisikan tubuhnya senyaman mungkin di sofa kemudian memejamkan matanya.
Baru saja Salsa kembali mengelus rambut Azka, kini ia juga mendapati Keenan berdiri di ambang pintu dengan senyuman menghiasi wajahnya.
Senyuman yang mampu membuatnya jatuh cinta, dulu. Sekarang hatinya sudah terpaut pada sosok Azka dengan segala keunikan laki-laki itu.
"Masuk aja!"
Keenan berjalan menuju sofa dan duduk di kursi singel karena di kursi panjang ada Rayhan.
"Selalu manja gitu kalau berdua aja?" tanya Keenan dan di jawab senyuman oleh Salsa.
"Nggak heran sih. Cowok kalau udah cinta ya gitu, segalak apapun pasti bakal manja sama pawangnya," celetuk Keenan kembali membuat Salsa tertawa.
"Gimana keadaan lo?"
"Udah baik, bekas jahitan juga udah nggak terlalu sakit, bisa jalan seperti biasa," jawab Salsa.
"Kirain nggak bisa jalan, secara Azka ...."
"Berlebihan 'kan?" Salsa tertawa.
"Udah sih terima konsekuensi aja, pacaran sama ketua gue yang notabenenya posesif dan selalu ngatur."
Sialan lo Keen, gibahin gue.
Tanpa keduanya sadari orang yang di bicarakan mendengar semuanya. Azka yang pura-pura tidur mengubah posisinya menghadap perut Salsa kemudian melingkarnya tangannya di pingang.
Salsa yang merasa malu pada Keenan karena perbuat Azka tidak bisa berbuat apa-apa karena mengira kekasihnya sedang tidur dan tidak sengaja melakukan itu.
"Dahlah, jiwa jomblo gue meronta-ronta," gerutu Keenan, memilih memejamkan mata daripada harus melihat kemesraan ketuanya dengan cinta pertamanya.
Sulit di pungkiri, Keenan belum mampu menghilangkan rasa cintanya pada Salsa. Tapi ia berusaha baik-baik saja dengan meyakinkan, Salsa bukan jodohnya dan akan lebih bahagia jika bersama Azka. Terlebih Keenan tahu bagaimana sikap sahabatnya.
Azka begitu meratukan seorang perempuan. Maminya saja dia ratukan, bagaimana dengan calon ibu anak-anaknya?
...****************...