Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 110


"Akhirnya lo bangun juga Sal, gue sedih nggak punya teman gibah." Alana langsung memeluk tubuh Salsa yang masih berbaring.


"Dih jadi lo sedih bukan karena gue sakit? Tapi sedih karena nggak ada teman gosip?" protes Salsa dengan bibir manyun membuat yang lain tertawa, bahkan cowok yang memantau dari CCTV ikut tersenyum.


"Ya mau gimana lagi, emang gitu kenyataannya," jawab Alana walau ia benar-benar sedih.


"Ngapain natap gue seperti itu? Gue nggak sakit." Salsa tak ingin jika ada yang mengasihaninya.


"Iya nggak sakit, cuma bercanda aja," cibir Alana memutar bola matanya.


Senyuman Salsa merekah mendapati semua teman-temannya datang, Ada anggota Inti juga Giani dan Alana. Teman yang lain sudah pergi termasuk Rio yang pertama kali ada saat ia bangun.


"Nyari siapa lo?" tanya Alana.


Salsa mengelang, tepi maniknya tertuju pada pintu menunggu seseorang.


"Azka ada urusan, bentar juga datang."


Apa Azka masih marah sama gue?


"Bu ketua sehat-sehat ya, pak ketua gue kayak orang gila," celetuk Rayhan.


"Huh?"


"Ray!" tegur yang lain.


Dito, Ricky, dan Samuel pamit lebih dulu karena ada keperluan masing-masing, menyisakan Alana, Giani, Rayhan dan Keenan.


Salsa memperhatikan Giani dan Rayhan disofa. Giani duduk di ujung kiri, dan Rayhan duduk di ujung kanan seperti bocah bermusuhan. Ia menoleh pada Alana


Mengerti akan keinginan Salsa, Alana beranjak, ikut duduk disofa mengeser duduk Giani ketengah. "Lelah, gue mau tidur," ucapnya.


Keenan yang peka ikut duduk, mendorong tubuh Alana hingga Giani terjerambah memeluk Rayhan karena takut jatuh. Di balik punggung, Rayhan mengacungkan jepol pada teman-temannya.


"Untung gue tangkap," ucap Rayhan, mengulum senyum sembari melingkarkan tangannya di pinggang Giani.


"Gue nggak butuh di tangkap sama lo," beranjak kemudian duduk di tempat lain.


Salsa ikut tertawa melihat kejahilan Alana dan Keenan.


Ruangan kembali sepi setelah semua orang pergi. Salsa tak bosan menatap pintu, berharap Azka datang menjenguknya. Ia mengalihkan pandagannya keluar jendela menimati matahari yang terik yang sebentar lagi meredup. Mengingat bisikan Alana sebulum pulang, Salsa meraih ponsel di atas nakas lalu menghubungi Azka.


Panggilan pertama langsung di jawab oleh laki-laki itu


"Ngapain lo nelpon gue?" tanya Azka datar, tapi tatapannya fokus pada layar monitor memperhatikan Salsa.


"Lo dimana? Gue kangen sama lo Ka. Lo mau luangin waktu jengukin gue kan?"


"Gue sibuk, banyak urusan!"


Isakan Salsa mulai terdengar, dengan bibir bergetar. "Boleh gue beli waktu lo satu jam aja? Gue takut nggak bisa liat lo lagi," lirih Salsa.


Jangankan satu jam, 24 jam waktu gue milik lo.


Azka memejamkan mata, ulu hatinya terasa ngilu mendengar permintaan Salsa. Tidak ingin membuat Salsa drop, Azka mengunjungi ruang rawat gadis itu.


Azka membuka pintu, memasang wajah datar, duduk di samping brangkar di mana Salsa tersenyum menyambut kedatangannya.


Gue tau lo nungguin Azka. Telpon aja, mungkin dia malu ketemu sama lo, mengingat semua perlakuannya belakangan ini, dia juga menyalahkan diri atas musibah yang menimpa lo. Sejak lo koma, Azka tak pernah absen ke rumah sakit, dia akan pergi saat sekolah aja.


Dia nggak sibuk sama sekali. Lo tau, sekarang dia lagi mantau lo lewat CCTV, percaya sama gue.


Salsa tersenyum mengingat pembicaraannya tadi dengan Alana. Azka tidak berubah, selalu jaim di depannya, pura-pura tegas, sok cuek, tetapi hatinya sangat lembut dan sekarang sedang rapuh.


"Kenapa?" Azka sok cuek duduk di samping brangkar. Kalau boleh jujur ia ingin memeluk tubuh Salsa.


Salsa memaksakan diri untuk bangun di bantu oleh Azka. "Boleh gue peluk lo?"


Azka bergeming. "Gue nggak pernah marah sama lo, dan ini semua musibah, bukan kesalahan siapapun."


"Azka ...."


Salsa teperanjat saat Azka langsung memeluknya erat. Elusan Azka di rambutnya begitu lembut menenangkan jiwa dan menghadirkan kenyaman.


"Gue nggak papa. Liat! Gue sekarang udah sehat, selang oksigen bentar lagi di lepas setelah gue bisa bernafas dengan baik.


Azka terisak dalam pelukan Salsa, air matanya membasahi leher gadis itu. "Gue kangen sama lo Sal. Jangan pernah berpikir untuk ninggalin gue lebih dulu."


"Itu nggak akan terjadi Ka, gue bakal tetap ada di samping lo." Salsa hendak melerai pelukanya tetapi Azka seperti enggan untuk melepaskan.


...****************...


Jangan lupa meninggalkan jejak, dan terimakasih untuk dukungan kalian😘