
Malam itu tanpa istirahat sedikitpun, Azka kembali ke ibu kota tanpa mengenal lelah, rasa lapar tak ia rasakan sakin hebatnya sakit yang ia rasakan.
Cittt
Ban motor Azka terserat sedikit jauh saat di perpatan hampir menabrak mobil yang berlawanan arah dengannya.
"Kalau naik motor jangan ngelamun mas bahaya!" teriak sang pengemudi tapi Azka menghiraukannya begitu saja.
Azka tiba di di apartemennya dini hari dan langsung tidur dengan perasaan yang tidak menentu. Ia belum ingin percaya bahwa hubungannya dengan Salsa benar-benar berakhir.
Tak ada lagi salam pengatar tidur yang ia dapatkan, kata-kata penenang saat ia sedang kacau dan butuh rumah untuk pulang.
Matahari mulai menampakkan sinarnya, membuat laki-laki dengan kondisi acak-acakan bangun walau matanya terasa berat untuk terbuka.
Berjalan sempoyongan ke kamar mandi untuk menyegarkan diri. Sama dengan hari-hari sebelumnya, setelah mandi Azka memandangi pantulan wajahnya di depan cermin.
Kacau. Satu kata yang mengambarkan keadaan Azka sekarang. Ia menyugar rambutnya kebelakang dengan senyum simpul di wajahnya. Masih tidak percaya seorang gadis mungil berhasil membuatnya kacau seperti ini.
"Gue nggak bisa terus begini," gumam Azka. "Masa depan gue masih panjang."
"Lo mau liat gue sukses 'kan Sal? Gue bakal buktiin itu, gue bakal buktiin kalau gue pantas buat lo pertahankan."
Azka keluar dari kamar mandi, mengeringkan sedikit tubuhnya kemudian memakai seragam sekolah dengan lengkap. Jika dulu ia berangkat sekolah terlalu pagi hanya untuk menjemput Salsa. Maka hari ini ia berangkat karena ingin berubah sepenuhnya.
***
Beberapa Anggota Avegas yang kebetulan di sekolah SMA Angkasa, mentapa tak percaya pada ketuanya. Penampilan Azka hari ini sangat berbeda, lebih rapi dan terlihat sangat tampan. Dasi bukan lagi ada di tangan, tapi bertender di leher seperti siswa lainnya.
Rambut yang beberapa hari yang lalu tidak terurus kini sudah tidak ada.
"Woi lo beneran Ketua gue 'kan?" Ricky langsung merangkul pundak Azka tak percaya dengan perubahan satu hari laki-laki itu.
"Hm." Respon Azka menjauhkan tangan Ricky dari pundaknya.
Sikap Azka kembali dingin dan cuek, bahkan melebih cuek sebelumnya.
Beberapa pasang mata menatap takjub pada Azka karena sangat tampan dengan pakaian yang rapi. Bahkan pak Bambang pun melongo tak percaya.
"Anjir lo ganteng banget ngalahin suami gue Ka!" heboh Alana langsung duduk di samping Azka setelah laki-laki itu berada di kelas.
Azka melirik Alana malas. "Bukan urusan gue!" jawab Azka dingin tak seperti biasanya.
"Dih kumat lo?"
Usai jam pelajaran selesai, Azka ikut bergabung dengan inti Avegas yang lainnya di kantin. Namun, tak bersuara seperti biasanya. Kini Azka menyerupai sosok Samuel yang jarang bicara.
"Gue nggak nemuin Salsa di manapun. Gimana, ada kabar baik?" tanya Keenan sembari melahap mie ayamnya.
"Nggak usah nyari dia!" perintah Azka.
"Lah gimana ceritanya, lo udah ketemu?" Heran Rayhan.
"Dia milih pergi, itu artinya dia nggak mau di ganggu," jawab Azka.
Azka melahap baso hangatnya tanpa memperdulikan tatapan aneh para sahabatnya.
Azka yang bucin, Azka yang beberapa hari lalu kacau akan ketidak beradaan Salsa. Kini terlihat baik-baik saja walau sedikit dingin setelah dari Bandung.
"Ada balapan nanti malam, bayarannya gede woi!" seru Rayhan.
"Daftar!" perintah Azka.
"Bolos kuy!" ajak Dito.
"Gue cabut!" ucap Azka tak mengidahkan ajakan Dito.
"Kira-kira Azka ketemu Salsa nggak di Bandung?" tanya Ricky kepo.
"Kayaknya sih iya, tapi entah apa yang terjadi," jawab Rayhan.
"Intinya Azka nggak baik-baik," timpal Keenan.
"Jangan ada yang nyingung apapun tentang Salsa saat ada Azka!" perintah Samuel, di angguki oleh yang lain.
...****************...
Hay kak, novel ini belum End tapi labelnya udah End jadi jangan kaget ya😊. Cerita ini akan tetap berlanjut sampai End yang sebenarnya🙏