
Tiga bulan setelah kejadian itu Amel belum juga hamil, dan hari ini ia memutuskan untuk konsultasi ke dokter kandungan. Amel berangkat sendiri karena Faiz ada meeting penting di kantornya tapi Faiz diam - diam menyuruh salah satu kepercayaan nya untuk mengikuti diam - diam.
"Bagaiamana Dok keadaan rahim saya" Ucap Amel
"Maafkan saya Nyonya, tapi saya harus mengatakan ini pada anda"
"Maksud dokter apa?"
"Begini Nyonya, ada masalah pada rahim Nyonya dan kemungkinan untuk hamil sangat kecil karena ada penyumbatan pada Tuba Falopi anda"
Amel menitikkan air matanya, tubuhnya melemah, hancur sudah harapannya. Amel kemudian pulang kerumahnya mengurung diri dalam kamarnya hingga akhirnya ia tertidur.
Faiz yang baru saja pulang mencari keberadaan istrinya, ia terus naik ke kamarnya dan mendapati istrinya yang tertidur pulas. Faiz tersenyum melihat istrinya itu
Faiz kemudian mencium wajah istrinya, terakhir bibirnya lalu ia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, Amel bangun dan mendengar ada seseorang dalam kamar mandi. Iapun bangun dan menyiapkan baju untuk suaminya.
Faiz baru saja keluar, terlihat begitu segar memperlihatkan otot pada tubuhnya yang hanya di mentutupi bagian bawahnya saja serta rambutnya yang masih basah.
"Loh sayang kamu udah bangun"
"Maaf mas aku ketiduran, sampai nggak denger kamu udah pulang"
Faiz menghampiri istrinya kemudia menarik istrinya sehingga tubuh Amel bersentuhan dengan dada bidang suaminya dan tangan Faiz sudah berada pada pinggang istrinya
"Ihh.. Mas aku kan jadi basah"
"Biar aja sayang, lagian aku rindu sama kamu"
"Apaan sih Mas, kan tadi pagi kita ketemu"
"Tapi aku kangen banget" Faiz kemudian menenggelamkan wajahnya di leher Amel mecium aroma tubuh istrinya meninggalkan tanda kepemilikan di leher istrinya
"Shhh, Maas jangan gini aku geli bentar lagi magrib"
Faiz kemudian menghentikan aksinya lalu beralih mencium dan ******* bibir ranum istrinya, Amel pun membalas ciuman yang diberika istrinya, saling bertukar saliva hingga Amel sudah merasakan kehabisan napas.
"Ihh Mas bibirku kebas"
"Tapi kamu juga menyukainya kan, aku nggak bisa kalau harus nganggurin bibirmu itu"
"Iya tapi jangan sampai gini juga Mas"
"Ya Maaf sayang, kelepasan"
"Mana ada kelepasan Mas, orang kamy tiap hari giniin aku"
Faiz terkekeh "Habis bibir mu manis sayang"
Amel melepaskan pelukan suaminya "Pakai bajunya dulu Mas, aku juga mau mandi habis itu kita magriban"
"Siap sayang"
Amel kemudian berjalan masuk kekamar mandi, hatinya berkecamuk, apakah ia harus jujur pada suaminya atau menyimpan rahasia ini sendirian, bolehkah ia egois, Amel takut jika nantinya Faiz tidak akan menerima kekurangannya dan meninggalkannya sedangkan Amel begitu sangat mencintai Faiz dan Faiz adalah hidupnya.
Malam harinya setelah mereka makan malam, Faiz dan Amel duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi, Amel menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya sedangkan Faiz memeluk istrinya itu dari samping sesekali mencium pucuk kepala istrinya.
"Sayang tadi kata dokter bilang keadaan kamu bagaimana"
"Nggak masalah sayang, yang penting kita ikhtiar cepat atau lambat kita pasti akan mendapat keturunan dan apapun yang terjadi tetaplah bersama aku, kamu paham"
Amel mengangguk "Makasih Mas" Amel kemudian kembali merebahkan kepalanya pada dada bidang suaminya "Seandainya kamu tau Mas kalau aku akan susah mengandung pasti kamu akan meninggalkanku" Ucap Amel dalam hati
"Sudah yuk sayang, kita ke kamar udah malam kamu juga harus banyak istirahat"
"Istirahat betulan yah Mas, nggak ada yang lain"
Faiz terkekeh "Iya sayang, tapi icip - icip boleh lah"
Amel mencubit perut Faiz
"Aww.. sakit sayang kok di cubit sih"
"Yah kamu, pokoknya malam ini aku nggak mau gituan, aku capek aku mau istirahat malam ini"
"Iya siap sayangku" Ucap Faiz lalu menggendong istrinya seperti koala masuk
kedalam kamar
Hari demi hari mereka jalani dan Amel masih menutupi keadaan pada suaminya, hari ini Faiz dan Amel berkunjung ke rumah orang tua Faiz.
"Mel, kamu belum isi" Ucap Aneth pada menantunya
Amel tersenyum "Belum Ma"
"Kok lama banget yah Mel, kamu harus jaga pola makan kamu bila perlu konsultasi ke dokter untuk program"
Amel hanya tersenyum dan Faiz menanggapi ucapan mamanya "Faiz juga nggak buru - buru dikasi keturunan Ma, mungkin yang di atas suruh Faiz dan Amel pacaran dulu menikmati moment berdua"
"Benar tuh kata Faiz Ma, biarin aja itu menjadi urusan mereka" Sambung Papa Abraham
"Tapi kan Pa, kasian Amelnya kalau Faiz kerja nggak ada temennya di rumah"
"Amel udah biasa Ma, kan kalau Amel bosan bisa kesini atau ke rumah Mommy"
"Terserah kalian saja, Mama cuman mendoakan yang terbaik untuk kalian" Ucap Mama Aneth
"Iya Ma, makasih yahh Ma" Ucap Amel tapi dalam hatinya begitu ter iris karena mama Aneth sangat menginginkan cucu dari Faiz.
Sepanjang perjalanan Amel terus memikirkan perkataan mertuanya, Faiz yang melihat Amel yang melamun langsung mengambil tangan Amel dan mencium tangan Amel.
"Kamu kenapa sayang??"
"Nggak apa - apa Mas, aku cuman ngantuk"
"Pasti karena kata -kata mama tadi kan"
"Nggak kok Mas, mama tadi ada benar nya juga"
"Sayang aku nggak buru - buru pengen punya anak kok, karena anak tuh rezeki dari yang di atas, yang aku butuhin kamu tetap ada di sisiku karena aku sangat mencintaimu"
"Aku juga Mas sangat mencintai mu"