
Berkumpul adalah hal yang sangat menyenangkan apa lagi di markas dengan berbagai guyonan candaan dari yang lain. Bermain gitar dan bernyanyi bersama sembari melepas penat dari kejamnya dunia, terutama ketua Avegas yang kini menyandarkan tubuhnya di sofa sembari memejamkan mata.
Salah satu ponsel diatas meja berbunyi, yang tak lain punya ketua Avegas. Dengan sigap Azka memeriksanya, alis laki-laki itu saling bertaut saat mendapat nama bunda Anin tertera di sana. Ada apa gerakan Bunda Anin menelpon sore-sore seperti ini. Tanpa membuang waktu, Azka menjawab panggilan itu.
Perasaan Azka mulai tidak enak saat mendengar tangisan di seberang telpon, entah apa yang di lakukan gadis manja itu hingga membuat Bunda Anin begitu sedih.
"Alana belum pulang Azka, padahal dia pergi dari pagi. Dia juga nggak bawa ponsel, semua kartu ATM ada di atas tempat tidur," lirih Bunda Anin di seberang telpon, terus terisak. Sesekali terdengar suara Ayah Kevin yang menenangkan.
"Azka bakal ...."
"Cari Alana sampai ketemu, kerahkan semua anggota kamu, Ka!" perintah Ayah Kevin tak terbantahkan setelah itu sambungan talpon terputus.
"Kenapa Pak ketu?" tanya Rayhan.
"Alana kabur dari rumah, nggak bawa apapun!"
Sontak semua Anggota inti berdiri, terutama Samuel yang sedari tadi terdiam. Tanpa banyak bicara Semuel memerintahkan seluruh anggota Avegas untuk mencari Alana segera, jangan sampai sepupu tersayangnya terluka atau kelaparan di luar sana.
Anggota Avegas membelah diri, mencari Alana di pelosok kota, sementara anggota Inti mulai menghubungi teman sekelas Alana terutama Salsa, tapi tak ada yang tahu di mana gadis itu berada.
Deringan ponsel Azka kembali terdengar, dengan sigap ia menjawab panggilan dari Ayah Kevin.
"Alana sudah di temukan oleh suruhan Ayah, dia ada di pinggir pantai seorang diri."
Kalimat yang baru saja keluar dari mulut ayah Kevin membuat ketua Avegas itu bernafas lega. Ia ikut andil dalam kaburnya Alana, ia tahu Alana melakukan ini semua guna membatalkan perjodohan itu. Tak ada yang tahu perjodahan antara dirinya dan Alana, baik anggota inti.
"Alana udah ketemu," ujar Azka membuat anggota inti bernafas lega, mereka bergantian mengabari yang lain untuk menghentikan pencarian, lagian hari mulai gelap.
"Anj*ir lah, jantung gue hampir copot dengar Alana kabur dari rumah. Tuh anak cerobohnya nggak ada obat," gerutu Rayhan.
"Sekarang udah di rumah?" tanya Keenan.
"Katanya masih di pantai, om Kevin sama Tante Anin menuju kesana," jawab Azka mendudukkan
tubuhnya di pinggir jalan begitu juga yang lain.
***
Masuk sekolah seperti biasa, Alana mendapat ceramah dari anggota inti di kantin sekolah, gadis itu duduk di daerah kekuasaan Avegas dengan wajah cemberut.
"Siapa yang mau kabur, orang cuma mau liburan doang," jawab Alana tanpa rasa bersalah setelah membuat semua orang spot jantung sore-sore.
"Alasan doang kan lo. Kalau nggak ada niatan kabur, ngapain nggak bawa ponsel sama fasilitas lainnya?" intro Keenan.
"Lo kok bego sih Al? Dimana-mana kalau mau kabur tuh bawa uang yang banyak, ini malah black card di tinggal," timpal Rayhan.
"Calon suami gue kaya, nggak bakal lapar gue tujuh turunan, tujuh tanjakan," jawab Alana dengan santai membuat ke empat anggota inti membulatkan mata tak percaya, sendangkan Samuel dan Azka sudah tahu kalau Alana kabur karena Ayah Kevin menolak lamaran pak Alvi, guru kimia baru mereka.
"Anjir, ngebet banget lo pengen nikah, sama siapa? Dito?"
"Mana ada bang Dito. Bang Dito aja nganggap gue adik. Kalau jadi, gue bakal ngundang kalian," santai Alana tanpa beban, meninggalkan anggota inti yang masih tak percaya, selama ini mereka tidak tahu Alana dekat dengan seorang laki-laki kecuali Dito.
"Potek hati abang dek," ujar Ricky mendramatis tapi tak di gubris oleh Dito yang tiba-tiba kalem.
Dito beranjak tanpa menunggu makananya datang, berlari menyusul Alana yang menghilang di ujung koridor, ternyata gadis itu menuju taman belakang, tempat yang selalu di kunjungi Alana saat gabut.
"Alana!" panggil Dito.
"Kenapa?"
"Lo beneran mau nikah? Sama siapa?" tanya Dito. Masih tak terima kabar yang ia dengar, bertahun-tahun ia memendam rasa bukannya terbalas malah bertepuk sebelah tangan. Jangan sampai ia hanya menjaga jodoh orang selama bertahun-tahun.
"Iya, pak Alvi ngelamar gue beberapa hari yang lalu, dan Ayah udah nerima lamarannya, tanggal pernikahan juga udah di tentukan," jawab Alana dengan senyuman walau masih ada keraguan dalam dirinya, terutama semua ini di mulai bukan karena cinta melainkan kesepakatan antara dirinya dan pak Alvi.
Alana langsung memeluk Dito yang masih diam mematung. "Gue nggak nyangka bakal nikah secepat ini Bang, do'a in gue ya moga bahagia dunia akhirat," gumam Alana di pelukan Dito. Jujur saja sampai sekarang ia masih mencintai Dito, tapi berada di dekat pak Alvi juga membuatnya manyaman.
"Lo pernah suka sama seseorang selain pak Alvi?" Dito melerai pelukanya, menatap manik Alana dalam-dalam. Kini hatinya penuh dengan luka mendengar gadis yang sangat ia cinta, dan ia perjuangkan akan menikah dengan orang lain.
"Ada, dan itu lo Dito, sayangnya lo nggak pernah cinta sama gue. Lo cuma nganggap gue sebagai adik nggak lebih. Seandainya lo suka sama gue, mungkin semua ini nggak akan tejadi, gue bakal milih lo untuk membatalkan perjodohan gue sama Azka." batin Alana.
"Nggak pernah, untuk pertama kalinya gue jatuh cinta, sama calon suami gue sendiri," cengir Alana.
Dito memaksakan senyumnya, mengacak-acak rambut indah Alana. "Sekarang adek gue udah dewasa, udah kenal cinta-cintaan," canda Dito. "Pak Alvi beruntung dapetin gadis sebaik lo," lanjutnya dengan dada bergemuruh menahan sesak.
"Semoga bahagia cantik," ucap Dito.
"Walau bukan gue yang buat lo bahagia," lanjut Dito dalam hati.
Usai bertemu Alana di taman belakang, Dito tak memunculkan batang hidungnya di kelas maupun ikut bergabung dengan anggota Avegas lainnya. Ia benar-benar menghilang dari lingkungan tempat Alana berada. Menenangkan diri untuk saat ini, menjernihkan pikiran setelah mengalami patah hati yang sangat dalam.
"Mundur sebelum berjuang, kalah sebelum bertarung, berakhir tanpa ada kata memulai. Pengecut lo, Dito!" makin Dito pada dirinya sendiri, meneriakkan sesuatu di atas gedung yang sangat tinggi untuk melampiaskan rasa sakit yang ia rasakan.
Diro menoleh saat seseorang menepuk pundaknya lalu ikut berdiri di sampingnya. Siap lagi kalau bukan pak Wakil yang selalu merangkul anggotanya yang sedang punya masalah, baik itu keluarga atau cinta sekalipun. Walau Keenan sendiri gagal dalam percintaan dan merelakan cintanya untuk sahabatnya.
"Gue nggak tau seberapa sakit yang lo rasakan, To," ucap Keenan kembali menepuk pundak Dito beberapa kali.
"Tapi percayalah cinta akan jauh lebih indah saat kita mencoba untuk mengikhlaskannya, walau itu terasa pahit dan menyiksa diri sendiri," lanjut Keenan.
...****************...
Jangan lupa meninggalkan jejak😊