Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 191


Malam harinya Inti Avegas datang sesuai yang mereka rencanakan, tapi tuan rumah belum juga menyiapkan sesuatu dan baru saja keluar dari kamar saat mereka datang.


"Njir mentang-mentang pengantin baru, tempatnya di kamar mulu," sindir Rayhan mendaratkan tubuhnya di sofa bersama yang lain.


Salsa tersipu, berdiri di samping Azka yang terus menganggam tangannya.


"Duduk yang manis, anggap aja rumah orang," sindir Azka.


"Azka nggak boleh gitu, gimana kalau teman-teman kamu kecewa," bisik Salsa.


"Tau bu ketu, gini-gini kita punya hati loh," ucap Ricky mendramatis padahal mereka sudah sering mendapat semprotan dari mulut pedas Azka.


Mereka tahu ketuanya tidak benar-benar mengatakan itu dari hati. Suara bel di balik pintu mengalihkan atensi Salsa. Gadis itu hendak ke depan tetapi tangannya di genggam oleh Azka.


"Aku mau ke depan bentar Ka, itu teman aku pasti," tebak Salsa.


"Gue kedepan dulu," ucap Azka mengikuti langkah Salsa tanpa melepaskan pegangannya.


"Dasar bucin, tuh tangan udah kayak di lem aja, nggak mau lepas," gerutu Dito.


"Hayo lo sirik 'kan?" ledek Rayhan.


"Dasar jomblo!" timpal Ricky.


Keenan langsung menepuk pundak Dito dengan wajah prihatin. "Kalau ada yang ngehina lo jomblo, jangan ambil hati bro, tapi ...." Keenan menjeda kalimatnya.


"Ambil pacarnya, yiha!" lanjut Dito. Tawanya dan Keenan langsung pecah.


Keseruan mereka di ruang tamu berhenti karna kedatangan dua cewek cantik di samping Salsa. Dia adalah Giani dan Ara datang karena undangan dari Salsa.


"Abang El," girang Ara, ia tidak tahu bahwa tunangannya ada di sini. Gadis mungil itu langsung duduk di antara Keenan dan Samuel, memeluk lengan laki-laki dingin itu.


"Ngapain lo ngikut kesini?" ketus Samuel.


"Aku di undang sama kak Salsa," jawab Ara.


"Sayang, duduk sini sama calon suaminya." Rayhan menepuk tempat duduk di sampingnya setelah mendorong Ricky menjauh.


Bukannya nurut, Giani malah duduk di samping Keenan. "Geser dikit Keen," ucap Giani.


"Gi, udah nggak muat ini," keluh Keenan. "Di samping Ray aja banyak yang kosong!"


"Gi, ayo ikut gue kedapur." Salsa memutuskan menarik tangan Giani karena melihat gadis itu engang duduk di samping Rayhan.


"Sayang lepasin dulu," bisik Salsa.


"Azka." Salsa memelas agar Azka melepaskan ngenggaman tangannya.


Dengan sedikit terpaksa Azka merelakan istrinya pergi. "Langsung ke belakang aja kuy, nyiapin alat Barbeque!" ajak Azka.


"Gilasih, vibes rumah lo cantik banget njirr, taman belakangnya aja seindah ini," takjub Ricky.


"Azka!" Panggil Salsa.


"Kenapa?"


"Aku lupa beli bahan tadi, gimana dong? Atau aku keluar beli sama Giani?"


"Jangan!" cegah Azka menarik Salsa ikut bergabung dengan yang lain.


Laki-laki itu melempar kunci mobil ke arah Rayhan. "Istri gue lupa beli bahan-bahannya tadi. Lo bisa beli di luar 'kan?" tanyanya.


"Sendiri? Gue mana tau," jawab Rayhan.


"Ada Giani di dapur, ajak aja!" ucap Azka.


"Ka, Giani nggak nyaman sama Rayhan," bisik Salsa.


"Udah tenang aja," balas Azka.


"Bilang Salsa nggak bisa pergi," ucap Azka lagi.


"Kalau sama ayang beb, gaslah!" Rayhan langsung berlari kedapur menemui Giani, dan mendapati gadis itu tengah duduk di meja pantri bermain ponsel.


"Yang, kita belanja bulanan yuk!" ajak Rayhan langsung menarik tangan Giani.


"Apaan sih, nggak usah sok dekat deh." Menghempaskan tangan Rayhan.


"Tuan rumah lupa beli bahan Gi, jadi Azka nyuruh gue belanja sama lo."


"Ada Dito, Keen, dan yang lain kenapa harus sama lo?" ketus Giani.


"Gi, maaf ya ngerepotin lo. Bisa nggak lo berangkatnya sama Rayhan aja? Soalnya yang lain nyerjain sesuatu di belakang!" pinta Salsa yang tiba-tiba datang bersama Azka.


"Ok karena lo yang minta gue bakal pergi," ucap Giani. Gadis itu mengira ini semua hanya akal-akalan Rayhan semata.


...****************...