
"Sayang, aku pergi bentar ya. Nggak lama, sebelum sore pulang," pamit Azka mengelus rambut sang istri lembut.
"Azka aku kok was-was setiap kamu nyebut markas ya?" ucap Salsa. "Aku mohon jangan tawuran atau semacamnya!" pinta Salsa dengan mimik tak secerah tadi pagi.
Perasaan gadis itu selalu khawatir saat Azka keluar dan menyangkut geng motor.
"Jangan neting mulu Sal, nggak baik buat kesehatan kamu. Dah, baik-baik di rumah." Mengecup kening sang istri setelah gadis itu mencium punggung tangannya.
Pasrah, hanya itu yang di lakukan Salsa, sembari melambaikan tangan mengantar kepergian sang suami. Ia tidak boleh egois akan hal ini. Sejak awal Salsa tau suaminya ketua geng motor, di mana laki-laki itu harus mengurus para anggotanya.
Salsa tidak masalah, selama Azka tidak selingkuh atau semacamnya.
***
Azka memulai rapat setelah semua anggota lengkap di markas, ia memberi sedikit pidato kecil-kecilan juga peringatan waspada dengan yang lain. Ia tidak ingin anggotanya menjadi korban.
Kali ini mereka harus benar-benar hati-hati. Leo keluar dari rumah dan tentu saja akan membalaskan dendam.
Azka tidak pernah mengerti kenapa Leo sebenci itu pada Avegas. Terlepas dari masalah balapan dan yang lainnya. Leo semakin membencinya saat tahu Salsa anaknya pak Arion bersama dengannya.
Latar belakang keluarga Leo bisa dikatakan berada di lingkaran hitam. Teruma kakak pertama laki-laki itu yang masih mendekam di penjara karena kasus nar*koba dan pemerkos*aan oleh beberapa wanita. Kakak pertama Leo bisa di katakan seorang ped*ofil berhati dingin.
"Gue cuma mau nyampein jangan pergi seorang diri saat memakai jaket kebanggan kita. Untuk sementara waktu cari aman adalah pilihan. Sebentar lagi kita mau ujian, jangan sampai karena komunitas kita, malah ujian terganggu." ucap Azka di depan para anggotanya.
"Gue juga mau buat fariasi baru untuk berjaga secara bergantian di markas, 1p orang sehari di bagi Sift cukup bukan?" tanya Azka meminta persetujuan yang lain.
Ia ketua bukan berarti harus belaku seenaknya, ia juga harus meminta persetujuan dari yang lain.
"Setuju!" seru mereka serempak.
"Karena gue udah bagi sama rata, kalian tinggal patuhi jadwal. To!" kode Azka.
Dengan sigap Dito membagikan jadwal yang telah mereka susun, tak lupa menempelnya juga didinding.
"Ya kenapa Jay?" tanya Azka saat Jaya mengangkat tangannya.
"Gue ada urusan hari selasa Azka, ambil jadwal besok nggak papa?" tanya Jaya.
"Ada lagi yang berhalangan?" Azka.
Semua terdiam, menandakan tidak ada protesan.
"Ramon lo tukar posisi sama Jay!" perintah Azka.
"Siap kebetulan gue ada janji sama ayang beb," cengir Ramon.
Usai membagi tugas tentang penjagaan, Azka tidak tinggal di markas, ia sudah janji pada istrinya untuk segera pulang terlebih mereka akan pindah rumah.
"Jadi nggak pak ketu?" tanya Rayhan.
"Jadi, acaranya di rumah gue!" jawab Azka.
"Rumah baru pengantin baru, mobil baru," cibir Dito.
"Sirik aja kalian. Kuy, gue duluan!" pamit Azka.
Sebelum benar-benar pulang, Azka terlebih dulu menghubungi sang istri.
"Sayang, kamu butuh sesuatu? Mumpung aku lagi di luar," ucap Azka setelah sambungan terhubung.
"Udah mau pulang Ka?"
"Hm."
"Aku nggak butuh apapun, pulang cepat aja pinggang aku nyeri."
"Kenapa nggak nelpon dari tadi Sal!"
Azka langsung memutuskan sambungan temponnya kemudian melajukan kuda besi itu di atas kecepatan rata-rata. Sesampainya di rumah Azka langsung menuju kamar dan mendapati sang istri di atas ranjang dengan posisi bersujud.
"Sini!" Azka langsung menarik Salsa agar bersandar di dadanya. "Kalau ada apa-apa langsung telpon aku. Mau baru 2 menit aku diluar!"
"Iya."
"Kesiksa banget kamu Sal, kalau lagi datang bulan gini. Kirantinya udah minum?"
"Udah Ka."
"Sakit banget?"
"Cuma dikit Ka," jawab Salsa sesekali meringis.
Azka membimbing istrinya agar berbaring, tidur menyamping dengan gadis itu membelakanginya. Azka mengelus perut rata sang istri dari belakang.
"Kalau udah enakan langsung tidur, tapi kalau nggak ada perubahan bilang biar aku nyiapin air hangat," bisik Azka sesekali mendaratkan bibirnya di rambut Salsa.
"Gini aja Ka, aku udah nyaman," jawab Salsa.
"Sayang!" panggil Azka. "Apapun itu, mau sakit digigit semut sekalipun kamu harus ngasih tau aku!"
"Jangan berlebihan deh Ka." Salsa tertawa.
"Aku nggak bercanda Sal."
"Iya suamiku, istrimu ini bakal nurut."
"Bagus."
"Perut kamu kecil banget Sal," gumam Azka.
"Iya emang gini dari sananya,"
"Terus kalau bibit aku tumbuh di sini gimana?"
"Belum juga nyebar," gumam Salsa.
...****************...