Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 70


Sepanjang jalan menuju rumah Salsa, Azka tak henti-hentinya mengenggam tangan mungil itu. Otaknya terus berpikir topik apa yang akan ia keluarkan agar Salsa mau bicara dengannya. Biasanya gadis itu yang memulai obrolan, tapi kini Salsa malah minta putus dengannya.


"Lo nggak mau nanya sesuatu sama gue?" tanya Azka.


"Buat apa? Kalau lo emang mau jujur tanpa di minta pasti ngejelasin," sahut Salsa masih menundukkan kepalanya sembari meremas paper bag berisi hoodie untuk Azka.


"Gue di jodohin sama Alana, lo pasti tahu itu saat di bukit kan? Gue nunggu lo nanya, tapi kenapa diam saja?"


"Gue nggak mau lo nganggap gue terlalu ikut campur," lirih Azka.


"Gue udah bilang kalau lo dengar sesuatu tentang gue di luar sana, tanya sama gue Sal, jangan di pendam sendiri dan malah salah paham. Lo nangis karena liat gue sama Alana di taman?" tanya Azka di jawab anggukan oleh Salsa.


"Mungkin ini terdengar egois dan terkesan membela diri. Gue sahabatan udah lama sama Alana, dia sangat manja sama gue melebihi ke Keenan atapun Samuel. Dia meluk gue karena ngantuk, tapi itu cuma alasan. Alana akan ngantuk tiab-tiba saat banyak pikiran atau sedang sedih." Azka berusaha menjelaskan tahap demi tahap pada Salsa. Apalagi tentang kedekata Alana dengan dirinya yang mungkin Salsa tidak tahu keseluruhan bahwa ia sudah bersama sejak Tk.


Azka mengelus pipi Salsa, saat gadis itu mengangkat kepala dan kini menatapnya. "Gue di jodohin sama Alana," ulang Azka. "Tapi lo tenang aja, perjodohan ini nggak bakal terjadi, karena Alana punya calon sendiri dan lo tahu itu."


"Pak Alvi?"


"Hm. Om Kevin bakal nurutin kemauan Alana sekalipun itu nyawa om Kevin sendiri," ucap Azka.


"Bagaimana sama orang tua lo," lirih Salsa masih tak yakin. "Kalaupun batal sama Alana bukannya mereka akan mencari orang lain yang lebih pantas?"


"Apa lagi gue gadis penyakitan yang akan nyusahin lo, mungkin seumur hidup," batin Salsa.


"Jangan mikirin apa yang belum terjadi!" sela Azka.


"Itu apa?" selidik Azka melirik paper bag yang sedari tadi Salsa remas, sepertinya sangat penting di banding belanjaan lainnya hanya tergorok di lantai mobil.


"Buat lo." Menyerahkan paper bag pada Azka dengan senyuman. "Semoga suka."


"Dalam rangka?" tanya Azka sembari membuka paper bag itu dan mendapati hodiee yang sangat keren menurutnya, bahan yang adem juga sangat lembut.


"Harus ada alasan kalau ngasih ke orang?"


"Hm," gumam Azka langsung memasang hodie itu tanpa mencucinya terlebih dulu, untuk kedua kalinya Salsa membelikan barang, saat pertama sebuah topi. Hanya pemberian seperti ini tapi mampu membuat ketua Avegas yang terkesan cuek itu tersentuh. Ia merasa sangat di perhatikan.


"Gimana suka nggak? Atau ...."


"Banget," jawab Azka tanpa ekspresi.


"Banget tapi kok responnya biasa aja, nggak ada ekspresi gimana gitu." Protes Salsa sembari melipat kemeja yang di berikan Azka lalu memasukkan ke tasnya.


"Gue sulit mengekspresikan sesuatu Sal, lo mau ngajarin gue?"


"Nggak mau, gue nggak mau ada orang lain liat senyum lo, yang katanya hanya bisa di liat sama orang spesial," jawab Salsa menyandarkan kepalanya di lengan kekar Azka.


"Gue spesial, kan? Karena udah pernah liat senyum lo walau sekilas. Siapa aja yang pernah liat senyum lo selain gue?"


"Mami gue," jawab Azka


***


Tak terasa perjalanan jauh begitu cepat berlalu, Salsa berdiri di pagar rumahnya menunggu Azka pergi, tapi laki-laki itu tak kunjung pergi, malah menyuruh sopir taksi meninggalkannya.


"Masuk Sal, udara sangat dingin!" perintah Azka, mendorong tubuh gadis yang enggang bergerak.


"Bentar lagi Semuel jemput, jadi cepat masuk!"


"Hati-hati, Ka."


"Hm."


Sembari menunggu Samuel datang, Azka duduk di pos satpam bersama penjaga rumah Salsa. Sesekali menatap kamar gadis yang masih menyala pertanda belum tidur. Lama ia menunggu hingga teman kutub utaranya datang.


Sementara di dalam kamar bernuansa biru itu, seorang gadis tengah membaringkan tubuhnya di kasur setelah membersihkan diri juga merendam kemeja Azka yang akan ia cuci dengan tangannya sendiri.


Baru saja akan mematikan lampun kamar, deringan ponselnya kembali terdengar, di sana tertera nama Azka. Senyuman Salsa semakin mengembang, Azka si super cuek tapi selalu tahu apa yang ia inginkan sebelum tidur. Usai membungkus tubuhnya dengan selimut karena hanya memakai piyama tanpa lengan, barulah ia menerima video call dari Azka.


"Belum tidur?" tanya Azka.


"Ini baru mau. Kenapa, ada yang kelupaan?" tanya Salsa sembari merubah posisinya, tidur miring seperti yang Azka lakukan.


"Nggak, cuma mau liat lo aja."


"Tapikan udah tadi Ka."


"Tidur!"


"Gue matiin?" tanya Salsa.


"Nggak usah, tinggal tidur aja, nanti gue yang matiin," jawab Azka.


Menuruti keinginan Azka, Salsa memejamkan matanya, niat hati pura-pura tidur malah keterusan, hingga ia tidak mendengar apa saja yang Azka bicarakan dan lakukan di seberang telpon.


"Tidur beneran ternyata, lelah banget ya?" tanya Azka.


"Cantik banget anaknya pak Arion," gumam Azka mulai bicara sendiri, seperti yang sudah-sudah saat video Call dan di tinggal tidur oleh Salsa.


"Gue pengen liat lo sembuh Sal, tapi gue juga mau ngelindugin lo dari musuh ayah lo." Awalnya Azka mau menyerahkan salah satu ginjalnya untuk Salsa, tapi urung saat memikirkan jalannya yang masih panjang.


Kalau ia menyerahkan ginjalnya pada Salsa, otomatis ia tidak bisa melindungi gadis itu seperti yang ia lakukan sekarang. Orang yang hidup satu ginjal tidak bisa beraktivitas seperti orang yang hidup dua ginjal. Dan saat ia tak berdaya bisa di pastikan Leo akan melukai Salsa, menghancurkannya juga membalaskan dendam kakaknya pada keluarga pak Arion.


"Cantiknya Azka pasti bisa melewati masa-masa sulit itu. Cantiknya Azka kuat dan berani. Gue yakin lo bakal sembuh suatu hari nanti. Tenang aja Sal, gue bakal nyari siapa ketua Elang dan menjebloskannya ke jeruji besi."


Azka menyentuh layar ponselnya di mana wajah Salsa yang tengah terlelap. "Jangan pernah tanyakan sebesar apa cinta gue ke elo Sal. Gue nggak bakal bisa jawab, karena rasa cinta gue ke elo nggak bisa di hitung dengan alat apapun."


"Lebih dalam dari lautan, lebih besar dari matahari, dan lebih luas dari semesta."


"Goog nigh cantiknya Azka."


Azka memutuskan sambungan telponnya dan bersiap untuk tidur. Aneh bukan? Saat ia seorang diri ia bisa bicara panjang lebar, tapi saat bersama orang lain sangat jarang.


"Gue harap Papi gue bisa nerima lo tanpa syarat Sal," gumam Azka memikirkan perkataan Salsa tadi.


Benar, kenapa ia tidak sampai berfikir, kalau lolos dari perjodohan ini, ayahnya akan mencari orang lain.


...****************...


Jangan lupa meninggalkan jejak🥰