Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 135


Keributan di depan kelas X Ipa 2 terdengar hingga ke telinga pak Bambang, membuat Azka dan Panji beserta pasangannya di panggil ke ruang Beka. Sepanjang jalan Azka tak pernah melepaskan genggaman tangannya, tidak peduli dengan pandangan orang-orang yang mereka lewati.


Salsa memperhatikan tangan Azka dan tangannya yang saling mengenggam. Genggaman tangan Azka yang begitu erat menandakan emosi laki-laki itu belum juga reda.


Di elusnya tangan Azka dengan lembut setelah sampai di ruang Beka dan duduk berhadapan dengan pak Bambang.


"Jangan emosi!" peringatan salsa dengan senyuman.


"Azka apa yang kamu lakukan? Baru masuk sekolah sudah membuat keributan!" tegur pak Bambang.


"Saya tidak akan membuat keributan, kalau tidak ada yang mancing Pak," jawab Azka melirik Panji.


Pak Bambang kini beralih pada Panji, dari seragamnya bisa di pastikan laki-laki itu bukan siswa SMA Angkasa.


"Apa yang kamu lakukan di sekolah ini? Apa pihak sekolah tahu kamu ada disini?" tanya pak Bambang.


Panji merongoh saku kemejanya, kemudian mengeluarkan amplop berisi surat undangan. "Saya di utus untuk mengantar undangan Pak. SMA Nusantara sebentar lagi mengadakan pesta tahunan, dan pihak sekolah dengan hormat mengundang SMA Angkasa untuk turut memeriahkan," ucap Panji menyerahkan undangan itu pak Bambang.


Inilah mengapa Panji tidak ingin menjadi panitia penyelenggara. Masa jabatannya sebagai wakil ketua osis sudah berakhir, tetapi guru selalu memintanya ikut serta dengan alasan, ketua osis baru masih perlu belajar.


Mengantar surat undangan kebeberapa sekolah sangat menjengkelkan untuk Panji, apa lagi setelah keributan beberapa menit yang lalu. Kalau saja Ziah tidak datang, mungkin Azka habis di tangannya.


Pak Bambang mengembalikan undangan itu pada Panji setelah membacanya dengan teliti "Maafkan kekacauan yang terjadi beberapa menit yang lalu. Kau boleh pergi! Kepala sekolah ada di ruangannya!"


Sebelum beranjak, Panji melirik Azka yang kini menatapnya tajam.


***


Azka hanya mendapat peringatan dari Pak Bambang, tidak mendapat hukuman karena tangannya yang cedera.


Di parkiran mereka kembali berkumpul setelah bel pulang berbunyi. Azka duduk di kap depan mobilnya.


"Ka, tangan lo bukannya udah sembuh? Perasaan kata dokter nggak usah pakai itu lagi," celetuk Rayhan menunjuk kain yang membungkus tangan Azka.


"Sirik aja lo," balas Azka.


"Sirik untuk orang nggak mampu bro," jawab Keenan. "Dan sekarang gue nggak mampu," Cengir Keenan di akhir kalimat mengundang tawa di perkiran, hingga mereka menjadi pusat perhatian para siswa yang lewat.


"Njir bidadari SMA Angkasa keluar gerbang coi!" heboh Ricky memandangi empat cewek cantik berjalan beriringan dengan senyum menghiasi wajah masing-masing.


"Paling ujung, gadis bertas kuning dengan rambut tergerai indah, punya Dit ... ups pak Alvi maksud gue."


Plak


Sontak Ricky dapat gamparan dari Dito. "Nggak usah mancing lo, njir!"


"Emang lo liat gue mancing go*blok? Orang duduk di motor bukan mancing," balas Ricky.


"Sebahagia lo, Ky," pasrah Rayhan tak bisa menahan tawa.


"Tas biru, rambut sebahu. Punya gue!" ucap Azka menatap sang pacar yang semakin dekat padanya.


"Aduh-aduh rambut gelombang itu ayang beb gue," ujar Rayhan. "Giani sayang, pulang bareng yuk!" ajaknya.


"Ogah, gue bawa motor sendiri!"


"Kalau ini mah punya abang El tersayang," celetuk Keenan setelah Ara berdiri di samping Samuel dengan permen lolipop di mulutnya.


"Sombong amat Al!" tegur Ricky.


"Lo nggak liat pak Alvi di sana?" tunjuk Alana pada pak Alvi berdiri menunggunya. "Yang ada gue mutilasi sampai rumah dekat-dekat kalian. Bay!"


...****************...


Jangan lupa meninggalkan jejak, dan terimakasih untuk dukungan kalian😘