Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 86


Azka kembali menyusuri koridor sekolah, tidak ada lagi selebaran yang berserakan juga terpempel di di dinding, semuanya telah di bereskan oleh Anggotanya. Sebelum meninggalkan sekolah laki-laki itu sengaja memutari sekolah hanya untuk lewat di depan kelas XII Ipa 3 untuk memastikan Salsa baik-baik saja.


Mading berlapis kaca tebal itu? Jangan tanyakan bagaimana kondisinya sekarang, Samuel menghancurkannya dengan cara menancapkan pisau tajam untuk memancing retakan setelah itu meninjunya sangat keras.


Sembari berjalan Azka menjawab panggilan dari Ayah Kevin, sepertinya Alana sudah sampai di rumah.


"Iya Ayah Azka akan menemukan orang itu," balas Azka menerima perintah ayah Kevin.


"Jangan biarkan orang itu lolos, apa lagi hidup tenang setelah mempermalukan Alana! Alvi akan bantu kamu mengurus kasus ini, untuk sekarang dia masih mengurus Alana."


Beberapa anggota yang memang berasal dari SMA Angkasa segera turun dari motor masing-masing saat melihat Azka berjalan ke parkiran. Di sana Semual terlihat menahan amarah.


"Terimakasih kerja keras kalian. Kalian boleh masuk dan belajar di kelas masing-masing!" perintah Azka.


"Baik!" Seketika parkiran mengheningkan cipta setelah anggota Avegas bubar menyisakan anggota inti saja.


"Bawa pak Agus ke tempat biasa!" perintah Azka pada Rayhan dan Ricky.


Kedua manusia somplak itu hanya mengangguk dan langsung melaksanakan titah dari sang Ketua, untuk sekarang bukan waktunya bercanda atau mereka juga akan kena sasaran.


Di sinilah anggota inti berada, di sebuah tempat gelap, tempatnya mengeksekusi atau menyiksa orang jika mencari masalah dengannya.


BERANI MENGUSIK PULANG TINGGAL NAMA!


Semboyong Avegas tidak pernah main-main, kalaupun mereka punya hati, maka orang itu akan di rawat inap paling cepat tiga hari.


Anggota inti berdiri, bersedekap dada di depan guru berkepala pelontos dengan kumis yang sangat tebal. Guru Bk yang mereka takuti kini meminta ampun untuk di lepaskan. Mereka takut karena menghargai peraturan walau sering di langgar, bukan takut pada gurunya.


Azka menendang kursi di mana pak Agus duduk, hingga kursi itu hampir saja terjungkal, membuat pak Agus semakin ketakutan.


"Saya tidak tahu bukan saya pelakunya," jawab Pak Agus mengelak.


Bugh


Satu bogeman mendarat di pelipis pria berkumis tebal itu, hingga penglihatannya mulai berkunang-kunang.


"Gue nggak butuh pengelakan lo!" bentak Azka.


Brak


Bangku dan tubuh pak Agus terhempas sangat jauh karena tendangan tiba-tiba dari Samuel. Laki-laki kutub utara itu berjalan dengan langkah lebar menghampiri pak Agus, menarik kerah kemejanya dan memberikan beberapa pukulan hingga darah segar mengalir di hidung juga mulut pria itu.


"Katakan siapa pelakunya bang*sat atau lo mati di tempat ini!" geram Samuel dengan gigi bergemelutuk, jangankan mempermalukan Alana, menyentuh sepupunya saja dan gadis itu tidak suka, maka laki-laki itu akan kehilangan tangannya.


Semuel hendak melayangkan pukulan lagi, tetapi Pak Agus keburu membuka suara dan memyebut dua nama.


"Be-la dan Le-o," rintih pak Agus manahan sakit.


"Sudah gue duga," gumam Samuel dan Azka.


Ke empat laki-laki lainnya ikut maju, memberikan pukulan pada tubuh pak Agus sesuai yang mereka inginkan, terutama Rayhan, Keenan dan Dito.


Darah mereka meluap-luap layaknya air mendidih, karena berani mempermalukan gadis yang ia jaga bagai porselen berharga.


...****************...


Jangan lupa meninggalkan jejak😊