
Usai mengucapkan salam dan berdoa, Azka langsung merebahkan kepalanya kebelakang hingga berada di pangkuan sang istri yang baru juga selesai berdoa.
"Akhirnya aku bisa jadi Imam kamu. Bisa shalat jamaah bareng," ucap Azka menatap manik teduh Salsa yang sedang menatapnya.
Senyum, hanya itu yang terus Salsa lakukan, sembari memainkan rambut Azka, sesekali menjawil hidung mancung sang suami.
Karena hari sabtu, dan tidak sekolah. Jadilah mereka bersantai di rumah berdua saja. Mama Reni juga berangkat pagi sekali tanpa sempat sarapan karena sibuk.
Usai menyiapkan sarapan, Salsa ikut duduk berhadapan dengan Azka.
"Gimana enak?" tanya Salsa.
"Nggak usah di tanya, jawabannya bakal tetap sama Sal," jawab Azka.
"Kita pindah kapan Ka?" tanya Salsa tiba-tiba.
"Bukannya untuk sementara mau tinggal sama mama dulu?" Heran Azka. Pasalnya semalam gadis itu mengatakan ingin tinggal bersama Reni, gadis itu tidak tega meninggalkan Mamanya seorang diri.
Mereka sempat membicarakan ini semalam saat jalan-jalan keluar dan makan malam.
"Sebaiknya kita pisah rumah aja dari orang tua. Takutnya enak di aku tapi kamu malah nggak nyaman," lirih Salsa.
Azka senyum tipis, mengelus tangan Salsa yang berada di atas meja. "Aku tuh nyaman di mana aja Sal, asal ada kamu. Mau tinggal di rumah Mama atau Mami aku nggak papa. Pikirkan kenyamanan kamu aja."
Salsa mengeleng. "Nggak kak, kita hidup berdua aja. Lagian rumah pemberian kamu dekat-dekat sini kita bisa berkunjung sekali-kali."
Salsa tidak ingin Azka merasa tidak nyaman tinggal bersama Mama nya. Bu dokter satu itu sedikit cerewet, otomatis akan bertanya apa-apa saja saat mendapati Azka keluar malam dan pulang sangat larut.
Demi menghindari itu semua, ia memutuskan tinggal di rumah baru.
"Terserah kamu aja kalau gitu, aku ngikut aja," ucap Azka.
"Ish ngikut-ngikut mulu," kesal Salsa.
"Terus mau gimana Sal? Masa aku mau nolak, ya kali. Mau pindah kapan?"
Salsa meneguk segelas air sebelum berbicara, ia sudah selesai sarapan. "Hari ini aja, teman-teman kamu katanya mau datang malam nanti."
"Baiklah sayang, kita pindah sore nanti," putus Azka.
Laki-laki itu mengambil ponselnya di atas meja, meninggalkan sang istri di sana untuk membereskan bekas sarapan mereka.
Azka berdiri di taman belakang sembari menelpon seseorang. Ia menelpon Papinya agar menyuruh orang untuk membersihkan rumah tempatnya akan tinggal bersama Salsa.
"Azka!" panggil Salsa dari arah dapur, berjalan mendekat.
"Hm."
"Ayo kita unboxing di kamar, mumpung lagi sengang!" ajak Salsa.
"Bekas jahitan kamu belum kering Sal, ya kali ...," jawab Azka.
"Apa hubungannya coba, perut aku nggak bakal kenapa-napa, udah hampir kering juga."
"Serius? Masih pagi loh?" tanya Azka tak percaya.
Namun, rezeki tidak mungkin di tolak bukan. Terlebih sang istri yang menawarkan terlebih dahulu.
"Ya nggak papa, ayo Ka, aku udah nggak sabar." Menarik tangan kekar Azka menuju tangga.
"Nggak sabaran banget istrinya Azka." Laki-laki itu langsung mengendong Salsa menuju kamar.
Membaringkan sang istri di ranjang dan menindih tubuhnya. "Siap?"
"Turunin di sofa ih, aku baru beresin kasur," ucap Salsa tak ingin melepaskan lengannya di leher Azka.
"Tubuh kamu bakal sakit kalau di sofa sayang."
"Nggak Azka, lagian mau ngapain coba, cuma duduk doang."
"Duduk?" bingung Azka. "Kamu beneran mau niru novel yang kamu baca Sal?"
"Azka? Jadi isi otak kamu dari tadi nganu? Ngeres banget sih otaknya," gurutu Salsa mengetuk kepala Azka.
"Terus?" Azka semakin bingung.
"Aku mau unboxing kado dari teman-teman kamu, tuh di sudut ruangan." Tunjuk Salsa pada beberapa hadiah. "Nggak sabar pengen buka."
"Sayang, aku kira kamu tadi nawarin ...." Azka merosotkan tubuhnya di karpet setelah menurunkan Salsa.
Salsa hanya tertawa melihat raut kekecewaan di wajah Azka. "Jangan cemberut suamiku." Mengecup bibir yang sedang manyun itu.
"Awas aja kamu, nggak bakal aku biarin jalan!" ancam Azka.
...****************...