
Dengan langkah pelan, Salsa menghampiri Azka di tempat tidur, mengecek suhu tubuh laki-laki itu. ia tersentak saat tangannya di tepis begitu saja.
"Siapa yang nyuruh lo masuk ke apartemen gue!" bentak Azka. "Apa lo nggak punya sopan santun dan harga diri sampai masuk di apartemen seorang pria?"
Salsa memejamkan matanya, jujur saja kalimat Azka sunguh menyakiti hatinya, tapi sekarang itu tidak penting, kondisi laki-laki itu jauh lebih penting. Azka sedang mabuk itulah mengapa bersikap kasar seperti ini, pikir Salsa berusaha positif thingking akan perbuatan Azka padanya.
"Lo demam Ka, gue kompres ya," ucap Salsa tak sanggup membalas tatapan tajam Azka, ia berlalu meninggalkan kamar laki-laki itu yang berantakan, menuju dapur menyiapkan air hangat juga handuk kecil berbahan halus untuk mengopres Azka.
Prank
Salsa kaget saat mangkuk kaca di tangannya di lempar begitu saja oleh Azka. Ia sedikit meringis saat pecahan kaca mengenai kakinya yang hanya terbalut sendal rumah. Rasa perih seiring darah segar mengalir di kaki mulusnya.
"Enyah dari hadapan gue sekarang juga!" bentak Azka untuk kesekian kalinya, menatap tajam gadis yang kini berdiri di samping tempat tidur.
Tak tahukan Salsa ia sekarang di liputi emosi yang bisa saja melukai siapapun? Dalam keadaan seperti ini, ia tidak bisa mengedalikan dirinya baik di depan Salsa sekalipun.
Luka yang torehkan Salsa sangat dalam, penghianatan yang di lakukan sahabatnya sungguh tak terpikirkan olehnya. Sebelum menyatakan perasaanya pada Salsa, Azka terlebih dulu bertanya pada Keenan, apa laki-laki itu masih mencintai Salsa.
Tanang aja Ka, persaaan gue sama Salsa menguap entah sejak kapan, kalau lo suka sama dia, perjuangkan, gue dukung lo.
Tapi semua omongan Keenan hanya bualan semata bagi Azka setelah melihat semuanya, terlebih kedua orang itu berbohong dengan alasan keperluan penting.
Azka menarik tangan Salsa yang masih bergeming. "Lo nggak dengar gue ngomong apa? Jangan mancing emosi gue!" ucap Azka dengan gigi bergemelutuk.
Tanpa perasaan Azka mendorong Salsa hingga tersungkur ke lantai, tangan gadis itu tak sengaja menenak sebuah beling. Sasal bangkit tanpa memperdulikan rasa sakit, memeluk tubuh kekar Azka sangat erat.
"Maafin gue Ka. Maaf karena bohongin lo tentang kalung itu, gue nggak mau lo kecewa." Tangis Salsa pecah dalam pelukan Azka. Ralat bukan dalam pelukan karena ia sendiri yang memeluk Azka tanpa ada balasan.
"Izinin gue rawat lo hari ini. Jangan nyakitin diri lo seperti ini hanya karena gue. Pliss," mohon Salsa.
"Nggak, gue nggak akan pergi sebelum lo baik-baik aja Ka, lihat diri lo sekarang!" jawab Salsa dengan intonasi tinggi. "Sekarang lo kurusan Ka, gue masak buat lo ya, lo suka masakan gue kan?" Salsa mencoba menyentuh wajah Azka tapi dengan cepat laki-laki itu menepisnya, hari ini Azka benar-benar tak tersentuh.
"Lepasin gue Ka!" Salsa terus memberontak saat Azka menyeretnya keluar dari kamar. Namun, apa daya tubuhnya yang lemah tak bisa melawan Azka.
Brak
Azka menutup pintu sangat kencang setelah menghempaskan tubuh Salsa.
"Maafin gue," lirik Salsa manatap pintu apartemen Azka.
Salsa mendongak saat anggota inti menghampirinya.
"Maaf bu ketu, gue lupa kalau pak ketua punya ganggaun sosiopat," lirih Dito membantu Salsa berdiri.
Ya para anggota inti segera menyusul saat teringat riwayat mental Azka, laki-laki itu tak segang menyakiti siapapun jika sedang emosi walau sering menyesal setelah sadar.
Sejak tadi para teman-teman Azka berdiri dengan gusar didepan apartemen, takut terjadi sesuatu pada Salsa. Mereka kaget saat melihat Azka menghempaskan tubuh Salsa tanpa perasaan.
"So ... sosiopat?" gugup Salsa, di jawab anggukan yang lainnya.
"Hidung lo Sal." Tujuk Ricky.
Salsa dengan segera mengusap darah di hidungnya. "Gue nggak papa."
...****************...
Jangan lupa meninggalkan jejak, dan terimakasih untuk dukungan kalian😘