
Satu persatu pengantar jenazah pulang, menyisakan keluarga inti saja juga inti Avegas yang berdiri di sekitar pemakaman Azka.
Tari yang tak kuasa melihat makam putra semata wayangnya jatuh pingsang hingga di bawa pulang oleh Ans.
Matahari kian terik. Namun, tak ada keinginan sedikipun di hati Salsa untuk meninggalkan makam suaminya. Gadis itu terus duduk di samping makam Azka, menangis tanpa suara.
Tangan mungilnya tak pernah bosan mengusap batu nisan di mana nama Azka tertulis di sana. "Kamu pasti kedinginan di sana ya Ka? Mau aku peluk?" Salsa terus berbicara pada batu nisan Azka.
Salsa terisak, menyandarkan kepalanya di batu nisan Azka. "Yang tenang di sana suamiku. Aku janji nggak bakal sedih lagi. Tunggu aku ya," gumam Salsa.
"Jangan sedih, di sini banyak yang jagain aku."
"Sal, ayo pulang!" ajak Keenan menarik Salsa. Namun, Salsa menepisnya ia engang pergi. Walau mulut berkata baik-baik saja, tapi hatinya mengatakan tidak.
"Pergilah, gue masih mau nemenin suami gue," jawab Salsa tanpa menatap orang-orang sekitar.
"Ayo nak kita pulang, matahari panas banget jangan sampai kamu sakit," bujuk Reni ikut duduk di samping Salsa dan memeluknya.
"Kalau Azka nyariin aku gimana?" tanyanya.
"Besok kita kesini lagi kalau lo mau Sal. Gue siap nemenin lo," ucap Rahyan.
Lama mereka membujuk Salsa, hingga gadis itu ikut pulang bersama yang lain. Dari kejauhan, ia menyempatkan diri untuk menoleh kebelakang, hanya untuk melihat makam sang suami.
Reni sudah membujuk Salsa untuk pulang kerumahnya, tetapi gadis keras kepala itu lebih memilih tinggal di rumahnya sendiri. Dengan alasan, takut Azka merindukan dirinya. Alhasil Reni mengalah, dan ikut tinggal di rumah itu untuk memantau kondisi putrinya.
Sesampainya di rumah, Salsa langsung menuju kamarnya tanpa menyapa siapapun. Padahal mertua gadis itu juga ada di sana.
Ia membaringkan tubuhnya di kasur, dengan bingkai foto pernikahan Azka di pelukannya.
Lelah memangis tanpa henti, membuat gadis itu tertidur dengan nafas yang sesak, juga mata sembab sulit untuk terbuka lagi.
***
Malam harinya, Reni menemui Salsa di kamar, untuk memanggil gadis itu makan malam bersama. Ia duduk di pinggir ranjang.
"Sayang bangun yuk, kita makan dulu," ucap Reni.
Salsa mengeliat, tak ada senyuman lagi di wajah gadis itu. "Bentar aja, aku nunggu Azka pulang," jawab Salsa tanpa sadar.
"Aku lupa," lirih Salsa setelah sadar dengan ucapannya. "Aku nggak lapar Ma," jawabnya.
"Dikit aja sayang, jangan sampai kamu sakit."
"Aku nggak lapar, Mama aja makan sana. Jangan ganggu aku," lirih Salsa.
Reni menghela nafas panjang, keluar dari kamar putrinya dengan perasaan sedih. Ia berpapasan dengan Tari di tangga yang juga akan menemui Salsa.
"Kenapa?" tanya Tari.
"Dia nggak mau makan," jawab Reni.
"Biar aku aja, kamu urus tamu aja di bawah." Tari menepuk pundak besannya dan berlalu ke kamar Salsa.
"Sayang, kamu udah bangun?" tanya Tari basa basi langsung duduk di pinggir ranjang.
"Iya Mi."
"Mami lapar banget, tapi nggak mau makan kalau nggak sama kamu, gimana dong?"
Salsa terdiam, hanya menatap foto pernikahannya dengan Azka. "Padahal suami kamu nggak pernah suka kalau Mami telat makan," cemberut Tari.
Salsa menatap Tari yang kini memanyungkan bibirnya. "Jangan larut dalam kesedihan sayang. Ayo temenin Mami makan!"
"Mami nggak sedih?" lirih Salsa.
"Kalau sedih, jangan di tanya sayang. Mama mana yang nggak sedih di tinggal sama putranya. Tapi, kita nggak boleh terlalu sedih dan membahayakan kesehatan, itu sama aja kita nyiksa Azka. Lagian Azka beri Mami putri yang cantik kayak kamu."
Tari mengelus puncak kepala Salsa. "Bisa bangkit lagi kan? Sekarang hanya kamu yang Mami punya, yang bisa hibur Mami."
Salsa langsung memeluk wanita cantik itu. "Maafin Salsa karena berlebihan," lirih Salsa.
"Nggak sama sakali sayang. Mau makan sama Mami kan?" tanya Tari di jawab anggukan oleh Salsa.
"Pintar banget putri Mami."
...****************...