
Salsa berlari dan langsung menerjang tubuh Azka, ia memeluknya sangat erat karena rindu yang tak terhankan dalam dirinya.
"Azka aku hamil," girang Salsa berhasil mengundang senyum di bibir Azka.
"Benarkah? Selamat sayang, sebentar lagi kita bakal jadi orang tua." Azka tak kalah bahagia, mengecup seluruh wajah Salsa sebagai bentuk syukur.
Salsa menuntun tangan Azka agar menyentuh perutnya. "Sayang, ini Papa kamu," lirih Salsa.
Azka berjongkok tepat di hadapan Salsa, di mana wajahnya tepat di depan perut sang istri. "Hay anak Papa," sapa Azka sembari mengelus perut Salsa sangat lembut. "Baik-baik di dalam sana, jangan nyusahin Mama. Jadi anak yang berbakti buat Mama. Gantikan Papa untuk melindungi Mama."
Azka menarik pinggang Salsa, membenakan bibirnya sangat lama di perut gadis itu. Ia mendongak menatap Salsa sangat dalam, setelah berdiri dan menarik Salsa kepelukannya.
"Terimakasih udah beri aku hadiah seberharga ini. Terimakasih udah bertahan, jangan sia-siakan pengorbanan aku." Azka membenamkan bibirnya di puncak kepala Salsa. "Aku senang kamu nggak sedih lagi. Kamu boleh ingat aku, tapi jangan sedih apa lagi nangis. Karena sampai kapanpun, aku nggak suka liat kamu nangis."
"Azka ayo kita pulang!" ajak Salsa.
"Gimana kalau kamu yang ikut aku sayang?" tawar Azka.
"Boleh?" tanya Salsa dengan mata berbinar bahagia.
"Boleh, tapi izin dulu sama Mama dan Mami," jawab Azka.
Salsa cemberut. "Mereka mana biarin aku ikut sama kamu. Aku ikut nggak izin mereka aja ya. Lagian aku perginya sama kamu," rengek Salsa.
"Ayo!" ajak Azka.
Salsa bergeming melepaskan ngenggaman tangan Azka. "Anak kita gimana? Kamu aja yang ikut aku pulang Ka," rengek Salsa.
"Nggak bisa sayang."
"Yaudah, aku pulang aja dulu, kasian anak kita kalau di tinggal." Putus Salsa.
***
Salsa membuka matanya dengan nafas terengah-engah. Ia menatap seisi kamar dan sudah tidak mendapati Azka di manapun.
"Ternyata cuma mimpi," gumam Salsa, ia kembali menatap foto pernikahan mereka. "Aku kangen sama kamu, tapi maaf aku nggak bisa ikut Ka," lirih Salsa mengusap wajah di dalam bingkai itu. "Kasian anak kita," gumamnya.
Ini bukan pertama kalianya, Salsa bermimpi Azka datang untuk menjemputnya agar tinggal bersama setelah kehamilannya. Tapi dalam mimpi itu Ia selalu menolak karena anaknya.
Salsa mengusap air matanya. "Hati aku sakit Ka, tiap ingat kamu."
Tak bisa tidur lagi setelah bermimpi, Salsa memutuskan membaca novel hingga mengantuk. Tertidur dengan posisi duduk hingga membuat pinggangnya sakit di pagi hari.
"Sayang, kamu udah bangun?" teriak Tari di balik pintu.
"Udah Mi," sahut Salsa membuka pintu. "Kenapa?"
"Sarapan dulu!" ajak Tari.
Salsa mengikuti langkah Tari menuju ruang makan dan sarapan berdua saja. Usai sarapan keduanya duduk di ruang keluarga menonton Tv dan berbicara banyak hal.
"Sayang, ternyata Tuhan adil loh sama kita," celetuk Tari tiba-tiba.
"Maksud Mami apa?"
"Lihat deh." Menganti siara Tv ke pusat berita.
Salsa memandangi layar lebar di depannya. Di dalam sana, seorang laki-laki yang sangat ia kenal tengah di seret oleh beberapa polisi dan di kelilingi beberapa wartawan.
Berita terkini, seorang pria berinisial L telah di tangkap karena kasus pembunuhan secara berkala dalam waktu tiga tahun.
Salsa semakin menajamkan matanya.
Inisial L di duga telah membunuh seorang dektektif kepolisian tiga tahun yang lalu dengan cara sangat trangis. Insial L menabrak mobil dinas sang Detektif inisial A hingga terjung ke jurang kematin.
Karena keteledoran polisi dalam menyelidiki kasus, pelaku kembali melakukan aksi pembunuhan satu bulan yang lalu pada laki-laki berisial A siswa dari SMA ternama.
Diduga motif pembunuhan karena dendam sang pelaku pada korban. Kedua korban ternyata mempunyai keterkaitan, yaitu Manantu dan mertua.
Karena kekejaman pelaku berinial L, maka hukum menjatuhkan 2 tahun penjara, setelah itu akan di hukum mati sesuai aturan yang ada.
Terimakasih, kami kembalikan ke studio ...
...****************...