Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 153


Azka tanpa mengenal lelah mencari Salsa seharian, keliling kota dan mengunjungi beberapa rumah sakit untuk memastikan keberadaan gadis itu. Namun, nihil ia tidak menemukan pentujuk apapun.


Jam sepuluh malam, barulah ia pulang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Rambut acak-acakan juga seragam tak beraturan.


Ia mengempaskan tubuhnya di atas ranjang, tanpa makan malam terlebih dahulu. Menatap langit-langit karmanya dengan persaan berkecamuk.


Dering ponsel mengalihkan perhatiannya, ia melirik sekilas untuk memastikan siapa yang menganggunya malam-malam seperti ini. Nomor baru, membuat Azka urung untuk menjawabnya.


Saat akan memejamkan mata, panggilan itu kembali terdengar, membuat Azka menghembuskan nafas kesal. Diraihnya benda pipih itu kemudian menjawabnya.


"Lo nggak tau waktu istirahat hah!" bentak Azka.


"Azka!"


Azka terdiam, suara itu, suara yang sangat ia rindukan. Pemilik suara itu adalah orang yang telah menghancurkan hatinya karena hilang tanpa kabar.


"Azka ini aku Salsa."


Azka masih diam, memperhatikan ponselnya kembali, tak terasa senyuman yang sempat hilang sedari pagi kini kembali terbit di bibirnya.


"Kamu kemana aja sayang? Kamu nggak tau gimana khawatirnya aku? Katanya kamu pindah? Kemana? Aku jemput sekarang ya!" Azka mengajukan pertanyaan bertubi-tubi pada Salsa.


"Perasaan kamu nggak tenang lagi? Masih susah ngontrol emosi?" tanya Salsa dengan suara lembut seperti biasanya.


"Coba deh kamu ambil kertas!"


"Salsa ...," lirih Azka.


"Is ayo turutin ucapan aku!" perintah Salsa sediki mendesak di seberang telfon.


"Iya bawel, tunggu. Ganti Video Call ya, aku kangen!" ajak Azka.


"Nggak bisa Ka, aku lagi .... Is nyebelin deh, buruan!"


Dengan semangat 45, Azka beranjak dari tidurnya menuju meja belajar dan mengambil kerasa HVS kosong.


"Udah."


"Pulpen jangan lupa! Kalau semuanya udah lengkap, coba deh buat coretan di sana, terserah kamu mau buat coretan apa aja. Lampiaskan seluruh perasaan emosi, kesal, dan marah lewat coretan yang kamu buat!"


Azka mengikuti saran yang di berikan Salsa, menulis garis abstrak sepuas yang ia mau hingga kertas kosong itu penuh akan tinta.


"Gimana perasaan kamu Ka? sedikit tenang?" tanya Salsa memastikan.


"Berarti bisa dong nenangin diri tanpa aku." Terdengar tawa dari seberang telfon.


"Nggak bisa, sekarang kamu di mana? Aku jemput!"


"Azka!"


"Hm"


Hening tak ada yang bersuara, hanya hembusan nafas masing-masing yang terdengar.


"Siapa nak? Azka lagi? Sini hp kamu."


"Jangan, bentar aja untuk terakhir kalinya!"


Azka masih setia mendengarnya, bahkan ia mendegar pembicaraan Salsa di seberang telfon walau samar-samar. Mungkin Salsa menjauhkan ponsel itu dari mulutnya.


"Azka aku mau putus!"


Hening


"Azka aku ...."


"Kamu udah makan? Minum obat? Udah tengah malam sayang, tidur dulu. Besok kita ketemu di sekolah." Azka mengahlikan pembicaraan.


"Aku mau putus, aku nelpon kamu cuma mau ngomong itu," ucap Salsa tegas.


Dada Azka kembali bergemuruh hebat, meremas ketas hasil coretannya tadi. "Kamu kenapa Sal? Sakit ya, nggak papa kamu bisa libur sekolah dulu."


"Kamu nggak dengar aku ngomong apa? Aku mau putus! Malam ini dan seterusnya aku bukan pacar kamu lagi. Jadi stop nyari keberaan aku, kita jalan masing-masing saja!"


"Tapi kenapa!" bentak Azka


tut


Panggilan terputus membuat Azka sangat emosi, ia melempar benda pipihnya ke sudut ruangan.


"Gue nggak mau putus asal lo tau Sal! Selamanya lo bakal tetap jadi pacar gue!" Suara Azka memenuhi ruangan itu.


"Kamu pasti sakit, dan nggak mau ngerepotin aku, makanya bersikap gini. Pacar aku emang gitu, nggak mau ngerepotin orang lain," gumam Azka tersenyum. Senyuman yang menyakitkan.


...****************...