Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 203


"Yaudah aku yang masak buat suami aku," ucap Salsa mengalungkan tangannya di leher Azka. Semakin hari, semakin ia ingin Azka selalu berada di sampingnya.


"Nggak usah ada Bibi, lebih baik kita mandi!"ajak Azka mengendong Salsa ala anak koala keluar dari dapur setelah asisten rumah tangga mereka datang.


Salsa menyembunyikan wajahnya di ceruk Azka masih dalam gendongan. Berada di dekat Azka membuatnya sangat nyaman. Entah seperti apa dirinya jika di tinggal oleh laki-laki itu.


"Enteng banget kayak nggak pernah makan sebulan," bisik Azka.


Salsa melepaskan pelukannya dari leher Azka. Menatap laki-laki itu sangat dalam. Merapikan rambut Azka yang sedikit acak-acakan.


"Kenapa nggak ke sekolah? Kenapa nggak bangunin aku?" todong Salsa.


"Udah izin sama pak Alvi, ngomong kamu sakit dan nggak ada yang jagain," jawab Azka mendudukkan diri di sofa ruang tamu dengan Salsa di pangkuannya.


"Terus pak Alvi ngizinin gitu aja?"


"Iyalah, orang dia aja pengantin baru pasti tahu apa lagi Alana manjanya melebihi kamu."


Salsa menganguk membenarkan perkataan Azka, wali kelasnya juga sedang kerasukan setan bucin. "Aku kangen sama Mama, kita kerumah hari ini mau?"


"Sore ya, aku masih ada urusan sama yang lain," bujuk Azka.


"Ke markas lagi?" lirih Salsa.


"Nggak, mereka yang akan kesini, biar kamu nggak khawatir. Udah jam 10 bentar lagi mereka datang. Ayo ke kamar, jangan turun kalau aku nggak nelpon!" peringatan Azka.


"Ish masa aku ngumpet pas ada tamu. Terus yang layanin mereka siapa? Entar aku di kira sombong lagi kalau nggak nyapa," protes Salsa.


"Kamua bukan pelayan. Dan mereka tuh suka nyelonong gitu aja, paling lapar nyari sendiri."


***


Seperti yang di katakan Azka, inti Avegas berkunjung kerumahnya untuk mendiskusikan sesuatu yang tertunda semalam karena godaan iman.


"Habis jebol anak orang lo?" tanya Rayhan tanpa di filter.


"Pertanyaan konyol, iyalah orang dia udah nikah. Yang perlu di pertanyain itu lo. Jebol anak orang tapi nggak nikah," sindir Ricky membela Azka.


"Kalian bisa serius dikit nggak?" tanya Keenan.


"Siap pak wakil."


Mereka melanjutkan diskusinya tentang semalam. Dan mulai menyusun rencana untuk menjebak Leo agar salah langkah. Kali ini Avegas tidak lagi berada di jalan. Bukan takut, tapi mereka mengantisipasi sesuatu, terlebih masing-masing sibuk dengan persiapan ujian yang semakin hari, semakin dekat.


"Ternyata Kakaknya Leo pernah bebas dari tuduhan tapi masuk lagi karena pak Arion menentang keputusan pihak kepolisian dan berjanji akan membuktikannya," ucap Dito membeberkan infomasi yang baru saja ia dapat setelah menjelajah.


"Gue dapat video di lokasi kejadian beberapa tahun yang lalu setelah meratas CCTV. Ternyata mobil yang di tumpangi pak Arion sengaja di tabrak oleh truk dari belakang. Gue yakin tuh Leo, tapi mau gimana lagi dia menyamar," timpal Rayhan.


Azka menghebuskan napas panjang. Masalah yang sedang mereka hadapi sangatlah rumit juga bisa membahayakan orang-orang sekitar.


"Misi balas dendam," gumam Keenan. "Kalau Leo dendam sama pak Arion, berarti Salsa sekarang dalam bahaya." Keenan menyimpulkan.


"Sepemikiran kita, target Leo dari awal adalah Salsa," timpal Ricky.


"Untuk sekarang kita selidiki semuanya diam-diam dulu. Jangan terpancing apapun yang di lakukan Wiltar pada kita. Leo udah kembali ke jalan, sebentar lagi akan berbuat ulah," ucap Azka.


"Fokus ke ujian dulu, jangan terkecoh!" peringatan Samuel.


"Benar kata Samuel." Azka membenarkan. Bagaimanapun pendidikan sangatlah penting, walau itu hanya formalitas untuknya.


Ia sudah pintar dan tentu saja pekerjaan sudah di depan mata. Hanya lembaran bergelar ijazah yang ia tunggu.


...****************...