
Inti Avegas memutusakan bermalam di apartemen Azka, membuat rencana dan membagi tugas untuk mencari Salsa besok sepulang sekolah.
Kini mereka duduk di melingkar dengan laptop berada di tengah-tengah. Jika mereka sudah serius seperti ini maka otak cerdas mereka akan bekerja lebih cepat.
Keenan meneliti daftar rumah sakit yang telah Azka list, ia membaginya menjadi enam agar lebih mudah menelusuri.
"Jangan sampai anak-anak tau masalah ini," ucap Samuel di tengah keheningan, membuat yang lain menoleh.
"Napa El?" tanya Dito.
"Di markas ada mata-mata," jawab Rayhan.
"Yaudah, kita langsung penggal aja kepalanya, penghianat kok di pelihara," celetuk Ricky.
"Biarkan mereka berulah, semakin kita masa bodoh, maka semakin dia melakukan sesuatu yang akhirnya membongkar identitas sendiri," timpal Azka menyesap benda bernikotin, kemudian menghembuskan asapnya ke udara.
"Gue setuju sama Azka," ucap Keenan.
Mereka serempak mengangguk dan kembali dengan aktivitas masing-masing.
"Katanya Salsa ngehubungin lo semalam? No nya mana, biar gue lacak!" pintar Rayhan ahli IT Avegas.
"Nggak aktif, dia pakai nomor sekali pakai," jawab Azka.
Mereka mengalami kesulita untuk saat ini. Jika dulu mereka dengan gampang melacak seseorang, itu karena izin dari klien masing-masing.
"Kalung!"
"Ada di rumahnya," jawab Azka.
Ya kalung ya dia berikan pada Salsa tersambung dengan ponselnya. Tapi keberadaan kalung itu ada di rumah Salsa yang artinya gadis itu sengaja meninggalkannya.
"Kepergian Salsa ada hubungannya nggak sih sama pertemuan om Ans beberapa hari yang lalu?" celetuk Dito.
"Ada, tapi gue nggak mau ngegabah kali ini. Gue mau nemuin keberadaan Salsa lebih dulu sebelum nemuin Papi Gue. Gue nggak mau Papi gue nyakitin Salsa."
***
Masuk sekolah sama saja, pikirannya melayang entah kemana. Ia juga tidak bisa di hubungi oleh siapapun, kecuali sahabatnya. Karena Azka memakai ponsel yang di khususnya untuk klien.
Azka menyusul Rayhan di salah satu kafe sebelum melanjutkan percarian. Ia duduk setelah meneguk air meneral hingga tandas.
"Kenapa? Gue nggak punya banyak waktu hanya sekedar duduk Ray," ucap Azka tidak sabaran.
"Gue tadi iseng nelpon mama gue, dan mama gue sekarang ada di Bandung." Rayhan tersenyum lebar, tapi tidak dengan Azka. Ketua Avegas itu mengernyit bingung.
"Anjir lah, otak lo kalau lagi lelah lemot ya Ka!" kesal Rayhan mengemplak kepala Azka dengan botol bekas air minum.
"Lo mau mati Ray!" Tatapan Azka menajam, ia sedang tidak ingin bercanda.
"Mama gue itu dokter pribadi Salsa, kalau lo lupa. Jadi ...." Belum Rayhan menyelesaikan kalimatnya, Azka sudah beranjak dan meninggalkannya di kafe seorang diri.
Rahyah melirik ponselnya yang berdering, ia mengeleng tidak percaya akan tingkah ketuanya.
"Makanya jangan pergi gitu aja," ledek Rayhan.
"Buruan kirim alamat rumah sakitnya!"
"Udah!"
Tut
"Sialan lo Ka. Bilang makasih Kek," gerutu Rayhan.
Tanpa memperdulikan terik matahari yang lumayan menusuk kulit, Azka melajukan motornya sprot merahnya dengan kecepatan di atas rata-rata menuju Bandung.
Mungkin jika Azka mempunyai kekuatan menghilang, maka ia sudah menghilang sakin tidak sabarnya. Harapannya begitu besar kali ini. semoga Dokter Jesy benar bersama Salsa.
"Gue datang Sal," gumam Azka di balik helm full facenya
...****************...