
Tepat saat pintu tertutup, tangis Salsa pecah, sedari tadi ia menahan sesak di dadanya setelah menghina Azka terang-terangan.
"Maafin aku Ka, aku terpaksa ngelakuin ini demi masa depan kamu." Ia menangis sesegukan sembari memenepuk dadanya.
"Bukan kamu yang nggak pantas buat aku, tapi aku yang nggak pantas buat kamu."
"Benar apa kata Papi kamu, aku cuma parasit di hidup kamu. Aku cuma beban, aku nggak guna hidup. Gadis penyakitan kayak aku nggak mungkin bisa buat kamu bahagia!" Salsa sesegukan dengan nafas yang mulai tidak teratur.
Kalimat-kalimat menyakitkan Ans padanya hari itu kembali berputar bagai rekaman yang sengaja di setel ulang hanya untuk mengigatkan dirinya, bahwa ia tidak pernah pantas bersanding dengan Azka.
"Papi kamu benar, aku harusnya nggak ada, aku harusnya nggak hidup." Salsa melirik ke samping, dan kebetulan di atas nakas ada pisau untuk memotong buah.
Ia meraihnya hendak memotong urat nadinya, tetapi Rio keburu datang dan mengenggam benda tajam itu. Darah bercucuran di tangan Rio.
"Lo apa-apan Sal!" tegur Rio melempar benda tajam itu ke sembarang arah, tak peduli dengan tangannya yang kini berdarah.
"Gue mau mati Rio, dengan begitu gue nggak nyusahin orang-orang di sekitar gue. Mama, Azka dan lo, gue cuma parasit buat kalian." Tangis Salsa semakin pecah dalam pelukan Rio.
Jadi benar kamu pacaran sama anak saya? Apa kamu tahu siapa Azka sebenarnya? Dia pewaris tunggal di perusahaan ternama, dan tentunya harus mendapatkan pendamping yang jauh lebih layak, bukan gadis penyakitan kayak kamu!
Azka tidak mungkin menikah dengan gadis sepertimu. Saya membesarkannya bukan untuk merawat kamu seumur hidupnya. Dia punya masa depan cerah yang jelas. Jangan jadi penghalang untuknya di masa depan!
Dengan kamu ada di sisinya itu sama saja kamu menghambatnya, dia hanya memikirkan kamu dan penyakit kamu itu!
Gadis tidak berguna sepertimu seharusnya nggak hidup. Kamu cuma nyusahin orang-orang sekitar.
Kamu bukan gadis bodoh yang tidak mengerti ucapan saya 'kan? Kamu dan Azka bagai langit dan bumi!
Kalimat menyakitkan Ans sampai sekarang masih membekas di hati Salsa. Hatinya bagai di cabik-cabik hari itu. Untuk terakhir kalinya sebelum berpisah, ia berusaha menciptakan momen paling bahagia untuk mereka berdua. Momen yang akan menjadi kenangan manis untuknya.
"Nggak ada yang merasa di bebani di sini Sal. Lo itu berharga bagi kami," jelas Rio mengusap pungung Salsa yang bergetar.
"Gue nggak guna dan nggak pantas hidup Rio. Itu kata Papi Azka. Gue hidup cuma jadi beban buat kalian!"
"Jangan karena satu orang, lo malah mengecewakan banyak orang yang menyayangi lo Sal! Lo nggak boleh putus asa seperti ini. Buktikan sama Papi Azka, kalau lo itu berguna!"
"Salsa," panggil Rio saat tak mendengar suara tangisan lagi.
Ia melerai pelukannya dan mendapati Salsa tak sadarkan diri. Dengan segera Rio memanggil dokter untuk menangani gadis itu.
Sejak pertemuan Ans dan Salsa, gadis itu langsung drop dan di larikan ke rumah sakit malam harinya. Pekerjaan Salsa hanya menangis dan menangis jika seorang diri, itulah mengapa Rio tidak jadi pergi dan memilih menemani Salsa.
Marah? Jangan tanyakan seberapa marah Rio pada pria tua sialan itu. Masih banyak orang kaya yang lebih dari Papi Azka. Namun, tidak ada yang seperti Ans, sombong dan menganggap dia adalah segalanya.
Karena Ans mental Salsa tertekan, dan merasa putus asa. Ingin melukai dirinya sendiri karena merasa tidak berguna.
...****************...