Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 136


"Ampun Papi!" teriak Azka dengan napas terengah-engah setelah bangun dari tidurnya. Lagi dan lagi ia mimpi buruk.


Azka menyeka peluh di pelipis juga lehernya bajunya basah karena keringat. Mimpi buruk itu kembali hadir di alam bawah sadarnya. Diraihnya gelas berisi air dia atas nakas kemudian menuguk isinya hingga tandas.


Prank!


Azka melempar gelas kosong di tangannya untuk melampiaskan emosi yang baru saja tersulut kerena mimpi buruk itu. Dengan lancang setitik embun membasahi pipi ketua Avegas yang telihat kejam itu.


"Kau tidak pantas di sebut seorang Ayah!" teriak Azka dengan dada bergemuruh.


"Apakah kau benar ayahku?" gigi Azka bergemelutuk mengingat perlakuan Ans padanya saat SMP kelas satu. Disanalah awal dia membenci ayahnya.


Masa SMP adalah masa anak-anak ingin menjelajah sesuka hatinya begitupun dengan Azka. Ia ingin seperti teman-temannya yang lain bermain dan bermain, tetapi ayahnya selalu menuntut nilai yang memuaskan.


Azka menuruti semua yang Ans inginkan. Mendapatkan nilai tinggi, selalu menjadi kebanggan sekolah, tetapi Ans tak pernah puas dengan prestasi yang Azka capai. Azka hanya ingin mendengar satu kalimat pujian keluar dari mulut ayahnya.


Kamu hebat nak, Papi bangga sama kamu.


Hanya kata itu yang ingin Azka dengar saat membawa piala pulang kerumah. Namun, ia tak pernah mendengarnya. Kalimat yang selalu ia dengar dari Ayanya.


Cuma juara tiga?


Lakukan yang terbaik!


Jangan terlalu bangga itu belum seberapa!


Merasa stres karena hidup dibawah tekanan sang ayah. Azka mencoba untuk mencari suasan baru dengan ikut bolos dengan teman-temannya yang lain. Toh Ayahnya hanya ingin nilah tinggi juga segudang prestasi, pikir Azka hingga membuatnya berani bolos.


Disinilah puncak kebencian Azka pada Ans. Ia kedapat bolos oleh pihak sekolah hingga orang tuanya di panggil. Azka berharap yang datang adalah Maminya. Namun, harapannya sirna karena yang datang adalah ayahnya.


Azka mengernyit saat mobil yang dia tumpangi berhenti tepat di depan pagar utama, padahal jarak rumah dari pagar masih sangat jauh. Ia tersentak saat pintu mobil di buka dengan kasar.


"Maafin Azka Pi, Azka nggak bakal ngulangin lagi!" mohon Azka.


Namun, Ans seakan tuli terus menyeret Azka hingga sampai di rumah, seragam Azka tidak berbentuk lagi, bahkan bagian lutut sudah robek. Pria paruh baya itu menghempaskan tubuh Azka tepat dihadapan Tari yang sedang hamil besar.


"Lihatlah anak tidak bergunamu itu! Beraninya dia melempar kotoran diwajah Papinya sendiri!" bentak Ans berapi-api membuat Azka ketakutan.


"Mami tolongin Azka Mi, Azka minta maaf. Azka hanya ingin seperti teman-teman Azka yang lain. Mereka bebas bermain tanpa ada yang melarang kenapa Azka nggak bisa?" Azka memeluk Tari yang kini berlutut dihadapannya.


Tari tidak bisa melakukan apa-apa, ia hanya memeluk putranya yang terus menangis. Ia sendiri sedikit takut jika Ans sedang marah.


"Berhenti menangis! Kau itu laki-laki!" bentak Ans melepas selepe di pinggangnya kemudian menarik Azka dari pelukan Tari.


"Jangan! Aku mohon jangan pukul Azka, Ans. Dia masih anak-anak sudah sewajarnya dia bermain dan membuat kesalahan. Belum waktunya kau mendidik dia begitu keras," sela Tari kembali memeluk Azka untuk melindungi dari amukan Ans yang akan memukul Azka dengan selepe.


Ans tidak mendengarkan, Ia menyeret Azka sampai kegudang kemudian menutupnya rapat-rapat. Tak memperdulikan rancauan putranya yang meminta belaskasihan. Ans mencambuk putranya dengan sepuas mungkin hingga tangisan Azka berubah menjadi ringisan. Tubuh Azka di penuhi lebab biru keunguan karena cambukan sang ayah.


"Apa kau benar ayahku? Kenapa kau tega memukulku seperti ini?" lirih Azka menatap Ans dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Aku lebih baik nggak punya Papi dari pada harus punya Papi sepertimu," lirih Azka sebelum hilang kesaradan di gudang itu.


...****************...


Jangan lupa meninggalkan jejak, dan terimakasih untuk dukungan kalian😘