Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 195


Setelah anggota Avegas berkumpul barulah Keenan mulai bebicara mengantikan Azka. Mereka lebih lega jika Azka bersama Salsa saat ini di banding harus ikut bersama mereka.


"Karena Azka ada urusan, gue sebagai wakil bakal mengambil ahli rapat hari ini. Terimakasih waktu kalian, padahal gue ngadain rapat dadakan," ucap Keenan.


"Kalian pasti tau kenapa gue berdiri di sini, bersama ...." Keenan melirik Jaya yang kini berjongkok di sampingnyan. "Seperti peraturan yang ada, nggak ada kesempatan bagi seorang penghianat. Hari ini Jaya resmi di keluarkan dari Avegas, dia bukan lagi bagian dari kita!" ucap Keenan dengan intonasi tinggi.


"Siapapun yang berani berhianat akan bernasib sama seperti Jaya atau lebih dari itu tergantung apa jawaban kalian saat di interogasi," lanjut Keenan.


Laki-laki itu menarik Jaya agar berdiri. "Lepas jaket yang ada di tubuh lo!" perintah Keenan dingin, dan baru kali ini para anggota melihatnya.


Wakil ketua yang selalu terlihat rama, tersenyum kini sangat menyeramkan, pertanda perbuatan Jaya adalah hal yang sangat fatal.


Keenan melempar jaket Avegas yang tertulis nama Jaya di sana, kemudian melempar korek api hingga jaket itu terbakar di depan semua anggota lainnya.


"Gue beri lo waktu 5 menit untuk enyah dari markas ini, dan jangan sampai Avegas liat lo, atau nyawa lo dalam bahaya!" ancam Keenan.


Setelah Jaya melewati pintu markas, maka laki-laki itu akan menjadi musuh Avegas. Itulah aturan yang mereka sanggupi saat mendaftar menjadi anggota. Inti Avegas tidak pernah memaksa siapapun untuk bergabung.


"Kenapa Ramon?" tanya Keenan saat Ramon mengangkat tangannya.


"Bagaimana dengan aturan bakar motor?" tanya Ramon.


"Motor Jaya nggak akan di bakar karena membeberkan informasi dari musuh kita!" jawab Keenan.


"Ada lagi?"


Hening, tak ada yang menyahut lagi. Jika Keenan atau Azka sudah memutuskan itu berarti semuanya sudah di fikirkan dengan matang.


Pernah ada satu penghianat lagi, dan motornya benar-benar di bakal oleh Azka di tengah lapangan.


***


Azka sampai di rumahnya beberapa menit yang lalu dan tidak mendapati sang istri, laki-laki itu melepas jaketnya dan duduk di sofa.


Suara gemircik air di dalam kamar mandi, sudah menjawab pertanyaan di mana Salsa berada.


Ia memejamkan mata, merilekskan pikirannya. Berusaha terlihat tenang di depan sang istri.


"Udah pulang ternyata," ucap Salsa dengan senyuman.


"Suami aku acem deh, habis berkeringat kayaknya," goda Salsa berusaha menjadi penenang untuk suaminya.


Ia tidak tahu apa masalah Azka di markas, tetapi Dito mengatakan sekarang Azka di penuhi emosi yang sewaktu-waktu bisa meledak kapan saja. Itulah mengapa Salsa bersikap manja pada Azka.


Azka suka jika ia sedang manja.


Salsa mengedus ceruk leher sang suami kala tidak mendapat sahutan apapun. Puas menjelajahi leher Azka ia sedikit mendongak untuk mentap manik elang laki-laki itu.


"Kenapa? Ada masalah lagi?" tanya Salsa memainkan rambut belakang Azka.


Mata gadis itu tepejam saat Azka mendekatkan wajahnya. Hembusan nafas laki-laki itu begitu terasa di wajahnya.


Ia semakin meremas rambut belakang Azka, ketika laki-laki itu membenamkan bibirnya. Mengerakkan sedikit demi sedikit hingga menghadirkan sensasi yang berbeda di seluruh tubuh Salsa.


Tak ada penolakan dari gadis itu, ia memberi lampu hijau pada sang suami. Pelukan Azka di pinggang Salsa semakin erat. Laki-laki itu berusaha menyakurkan emosinya lewat ciuman membara.


Nafas keduanya tersengal-sengal setelah melepas pangutan yang lumayan menguras nafas itu.


Azka mengusap bibir Salsa yang memerah karena ulahnya. "Sakit?"


"Nggak, enak malah," jawab Salsa masih mengalungkan tangannya di leher Azka, jangan lupakan senyum gadis itu.


"Nggak papa kalau kamu nggak mau cerita. Satu hal yang aku minta Ka, jangan merespon sesuatu dengan emosi. Sesuatu yang di lakukan dengan emosi nggak ada yang berjalan sesuai rencana," ucap Salsa lagi.


Gadis itu menangkup pipi Azka. "Tatap aku, dan rekam senyum aku ini." Salsa tersenyum sangat manis. "Ingat senyum ini saat kamu emosi."


Azka hanya senyum tipis kembali mengecup bibir Salsa yang sedikit bengkak. Hanya sebentar, ia menatap istrinya dengan tatapan sangat teduh.


"Kalau aku bunuh orang kamu bakal marah?" tanya Azka.


"Tentu saja, aku nggak mau anak-anak aku punya ayah seorang napi. Jadi jangan pernah lakukan itu kalau kamu sayang sama aku Ka," jawab Salsa spontan, walau hatinya merasa gelisah mendengar pertanyaan Azka.


"Baiklah aku nggak bakal lakuin hal gila seperti itu."


...****************...