
Sere harinya setelah istirahat dengan cukup mereka berlima berangkat menuju kota. Rayhan membawa motor Azka dan Keenan membawa motornya sendiri.
Sementara Azka berangkat bersama Salsa dan Reni. Laki-laki itu menyetir dengan Salsa di sampingnya atas keinginan gadis itu sendiri.
Azka sedikit mencodongkan tubuhnya ke samping untuk mengatur jok yang di duduki Salsa hingga nafas gadis itu sangat terasa di telinganya. Kalau saja Mama Reni tidak ada, mungkin ia sudah mengigit bibir mungil sang kekasih.
"Udah nyaman?" tanya Azka di jawab anggukan oleh Salsa.
Sulit di pungkiri, jantung dan perut Salsa merasakan gelenyar yang berbeda, terasa panas dan geli karena posisi keduanya sangat dekat.
Azka memasang sabut pengaman. Setelah di rasa siap, barulah laki-laki itu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia tidak ingin buru-buru, karena membawa dua nyawa yang sangat berharga.
Mereka sampai di kota setelah sholat Isya, membuat Azka langsung pulang ke apartemen setelah memastikan sang kekasih baik-baik saja. Saat membuka pintu apartemen ia mendapati Maminya tidur di sofa.
"Mami," panggil Azka sedikit mengucang tubuh wanita paruh baya itu, tapi tidak ada pergerakan.
Azka tersenyum, mengecup pipi Maminya, kemudian mengendong wanita paruh baya itu ke kamar tamu di mana Tari tinggal selama beberapa hari setelah kabur dari rumah.
Ia menyelimuti Maminya, lalu menutup pintu setelah mematikan lampu kamar. Jujur saja sebenarnya Azka tidak setuju dengan keputusan maminya yang pergi dari rumah.
Ini masalahnya, dan ia harus menyesaikannya sendiri. Ia tidak mau hanya karena dirinya, kedua orang tuanya bertengkar. Kebahagian Tari adalah kebahagian bagi Azka.
Baru saja akan melangkah ke kamarnya, suara deringan telfon lumayan nyaring terdengar, tetapi bukan dari ponselnya melainkan ponsel yang ada di atas meja.
Azka mengenyit saat melihat panggilan dokter pribadi keluarga di ponsel sang Mami. Takut terjadi sesuatu ia menjawab panggilan itu.
"Malam Nyonya, maaf menganggu waktunya sebentar."
"Ada apa?"
"Tuan Azka?"
"Iya saya, kenapa?" ulang Azka.
"Kenapa bisa?" Suara Azka masih terdengar dingin.
"Di duga kelelahan dan stress," jawab sang dokter.
"Rawat Papi saya sebaik mungkin, dan pastikan dia baik-baik saja!"
Azka memutuskan sambungan telfonnya. Masuk kekamarnya dan membersihkan diri kemudian istirahat? Rasa ibah mendengar kabar sang Papi? Sepertinya rasa kemanusian Azka sudah hilang untuk pria tua itu. Tak ada empati sedikitpun untuknya.
***
Seperti hari-hari sebelumnya, sarapan sudah siap juga seregam sekolahnya sudah di sedikan oleh Mami tercinta. Azka ikut duduk di kursi setelah rapi dengan seragamnya.
"Pagi sayang, gimana keadaan Salsa?" tanya Tari.
"Baik Mi, tapi hari ini belum masuk sekolah, mungkin besok," jawab Azka.
"Oh iya, semalam dokter Edwin telpon, ngomong kalau Papi masuk rumah sakit," lanjutnya.
Tari bergeming, tidak merespon apapun, membuat Azka kembali angkat bicara. "Pulanglah kalau Mami khawatir sama Papi."
"Mami nggak akan pulang Azka, sebelum kamu juga pulang kerumah," jawab Tari. "Apa yang di lakukan Papi kamu sudah keterlaluan. Bahkan tega menyakiti hati Reni. Tidak ada ibu yang rela saat anaknya di hina seperti itu."
"Pulang Mi, jangan sampai Mami menyesal!" bujuk Azka, pancaran mata Tari tidak bisa berbohong. "Lagian Papi sudah mendapat balasannya."
"Makanlah, dan berangkat ke sekolah!" perintah Tari mengalihkan pembicaraan.
Usai sarapan, Azka mencium pungung tangan Maminya. "Kalau Mami nggak mau pulang, setidaknya jenguk Papi di rumah sakit," ucap Azka sebelum menghilang di balik pintu.
...****************...