Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 186


Ternyata makan malam yang di sebutkan Azka hanyalah alibi semata. Laki-laki itu malah mengajak Salsa jalan-jalan hingga larut malam.


Tak kuasa menahan kantuk yang menyerang, Salsa tertidur saat perjalanan pulang. Azka mengendong gadis itu ala bridal stayl menuju kamar karena tak tega membangungkan.


Lama Azka memandangi Salsa sebelum beranjak untuk menganti baju dengan yang lebih santai. Ikut berbaring di samping sang istri. Memeluk pinggang Salsa posesif.


***


"Ugh." Azka melenguh saat belalainya terkena benturan lumayan keras. Rasanya sangat sakit melebihi saat ia melakukan operasi beberapa kali.


"Maaf, aku nggak sengaja." Refleks Salsa mengelus belalai Azka membuat lakiaki itu semakin kelabakam subuh-subuh buta sepert ini.


Lutut Salsa tak sengaja mengenai belalai Azka saat tertidur tadi. Ia belum biasa tidur dengan seseorang.


"Nggak papa sayang," ucap Azka dengan suara serak yang terdengar indah di telinga Salsa. "Jangan di pengang!" tegurnya membuat tangan mungil itu berpindah tempat.


"Emang anu cowok keras gitu ya?" Pertanyaan ambigu keluar begitu saja di mulut Salsa.


"Keras kalau bangun, jadi kalau nggak mau nidurin jangan bangunin," gumam Azka laki-laki itu masih setengah mengantuk.


"Emang cara nidurinnya gimana?" goda Salsa berhasil membuat Azka membuka mata.


"Sini aku ajarin," Menarik Salsa agar kembali tidur.


Azka menindih tubuh mungil Salsa dan mendekatkan wajahnya. Membenamkan benda tak bertulang itu di bibir sang istri.


********** sedikit demi sedikit, memacing Salsa agar membuka mulutnya. Setelah mendapat akses, Azka mulai menjelajahi mulut yang terasa manis milik Salsa.


Tangannya tak lupa bergerak dengan nakal menelusup masuk kedalam baju koas gadis itu. Melepas pengait benda tak bertulang di bagian belakang tubuh Salsa.


"Azka," lirih Salsa menikmati setiap sentuhan suaminya.


"Kenapa, Hm?" bisik Azka di telinga Salsa sesekali membenamkan bibirnya di sana.


"Geli."


"Pas banget di tangan aku Sal," gumam Azka dengan seringai nakalnya setelah meremas benda kenyal di balik baju sang istri.


Blush.


Rona merah menyembul keluar di kedua pipi Salsa karena malu, untung saja kamar mereka minim pencahayaan jadi Azka tak dapat melihatnya.


Masih dengan posisi menindih Salsa, Azka memandangi wajah dan senyum itu sangat lama. "Jahitan luka kamu gimana? Udah kering sepenuhnya?" tanya Azka.


"Dikit lagi, kenapa?"


"Nggak papa cuma nanya aja." Azka mengulingkan tubuhnya kesamping, menarik Salsa agar tidur di atas tubuhnya. Sangat mudah bagi Azka membanting tubuh mungil itu jika mau.


"Masih jam 4, masih ada waktu buat tidur," bisik Azka. "Tidurlah!"


Azka tidak ingin membobol sang istri sebelum bekas jahitan Salsa benar-benar kering. Ia tidak ingin jahitan itu robek saat melakukannya.


"Aku tau kamu pasti pengen 'kan?" tebak Salsa memainkan jari telunjuknya di dada Azka.


"Harus mandi bunga kembang tujuh rupa biar lebih wangi?" goda Salsa.


"Nggak usah, nanti aku semakin gila dan buat kamu nggak bisa jalan."


"Emang bisa?"


"Bisa sampai nggak bisa gerak di tempat tidur juga bisa," jawab Azka.


"Ih serem banget suami Salsa."


Tawa keduanya pecah di kegelapan malam. Azka hanya bermain di sekitar leher juga bibir sang istri.


"Belalainya masih sakit?"


"Emang aku gajah punya belalai, Hm?" Gemes Azka.


"Ya umpama aja, daripada aku ngomong anu."


"Anu apa hayo?"


"Ish, kamu nyebelin Ka."


"Salsa."


"Iya sayang, kenapa?" lembut Salsa.


"Aku dari dokter tadi, katanya selama aku bisa jaga emosi dan nggak stress terapi aku akan berjalan dengan baik."


"Bagus dong Ka. Aku janji bakal jaga emosi sama pikiran kamu," antusias Salsa.


"Sal."


"Ish manggil mulu padahal dari tadi aku disini nggak kemana-mana."


"Kalau misal suatu saat aku pergi, jangan sedih, dan terus bahagia ya," bisik Azka di tengah-tengah ia menikmati ceruk leher sang istri.


"Aku akan berdoa pada sang pencipta. Sebelum dia ngambil kamu, aku mau dia ngambil nyawa aku dulu 10 menit sebelum kamu. Biar kita sama-sama pergi dan hidup bahagia di surga," jawab Salsa.


"Benarkah?" Azka mengulum senyum.


"Iya Azka, aku 'kan sayang dan cinta sama kamu."


"Lebih besar cinta aku Sal."


"Cie yang udah berani ngomong cinta. Pak ketua benar-benar cair ya," ledek Salsa.


"Apapun akan mencair jika bertemu matahari Sal, termasuk aku."


...****************...