Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 162


Tari berusah mengejar Azka, untuk mencegah putranya meninggalkan rumah malam itu, tapi nihil Azka sudah menghilang bersama motornya.


Dengan deraian air mata membasahi pipi, Tari kembali masuk ke rumah dan mendapati Ans berdiri di ruang tamu dengan angkuhnya. Tidak merasa bersalah atas apa yang dia lakukan tanpa sepengetahuannya.


Tari mengusap air matanya kasar, menghampiri sang suami dengan tatapan penuh kekecewaan, kesabarnnya sudah habis, saat melihat putra satu-satunya sangat putus asa tadi. Azka terlihat begitu terluka karena perbuatan Ans.


"Puas kamu Ans buat Azka sedih seperti itu?" bentak Tari dengan suara bergetar.


"Kau juga membelanya?"


"Ya aku membela putraku. Kau tidak punya hati dengan melakukan ini semua. Kau tega menjatuhkan mental anak SMA yang sedang berjuang melawan penyakitnya."


"Kau terlalu fokus pada kekurangan orang lain tanpa tahu kekurangamu sendiri. Kau lupa bercermin Ans!" tegas Tari.


Ans terdiam, jika Istrinya sudah angkat bicara sembari menangis itu berarti kesalahannya sangat fatal. Terkahir kali Ans melihat Tari menangis saat ia menyiksa Azka dan kehilangan buah hati mereka yang kedua.


"Karenamu Azka mempunyai penyakit kepribadian. Bukannya membantu dia keluar dari masalahnya kau malah memperparah keadaan."


"A ... Azka sakit?" gugup Ans.


Tari senyum sinis. "Semuanya sudah terlamat Ans."


Wanita itu berjalan menuju kemarnya, tak berapa lama kembali lagi ke ruang tamu dengan koper di tangannya.


"Sepertinya kamu memang pantas di tinggalkan. Kamu tidak punya hati juga perasaan. Semua yang kamu lakukan kali ini tidak termaafkan Ans. Kau berhasil membuatku kecewa dan menyakiti hati putraku."


"Tari dengarkan aku dulu, aku melakukan ini demi masa depan Azka!" jelas Ans mencegah kepergian istrinya.


"Azka sudah besar dia tahu mana yang terbaik untuknya dan tidak, berhenti merecoki kehidupan putraku. Selama ini aku menuruti semua keinginamu untuk menjauhi Azka karena rasa cemburu tak mendasarmu itu. Tapi semua yang aku lakulan sia-sia, kau tetap merecoki Azka!"


"Apa kau lupa apa yang kau lakukan dulu? Kau tidak jauh beda dengannya, bahkan lebih parah. Kau kabur dari rumah dan memilih berkerja di perusahaan Kevin karena tidak ingin di kekan oleh orang tuamu. Seharusnya kau menjadikan itu pelajaran, bukan malah mengulanginya lagi pada putraku."


"Tari, pilis jangan tinggalin aku sendiri!" mohon Ans. "Aku minta maaf, aku salah."


Ia merasa iri pada Anin, hidup sahabatnya di penuhi kasih sayang oleh orang-orang di sekitarnya.


Tari melajukan mobilnya menuju apartemen putranya, ia memilih untuk tinggal di sana beberapa waktu buat menyadarkan Ans atas apa yang laki-laki itu lakukan.


Tari sedikit terkejut saat membuka pintu dan mendengar suara kegaduhan di dalam sana. Ia membulatkan mata tak percaya melihat kekacauan putranya.


"Nak tenangkan diri kamu!" Tari langsung memeluk putranya yang sedang mengamuk.


"Kenapa aku harus mempunyai Papi sepertinya Mi?" lirih Azka membalas pelukan Maminya. Pelukan yang membuatnya nyaman selain pelukan hangat Salsa.


"Apa Azka salah kalau menginginkan kebahagian Azka sendiri? Azka ingin bahagia bersama Salsa itu aja. Azka sudah melakukan semua yang Papi inginkan, tapi kenapa Papi masih membenci Azka?"


"Maafkan Mami sayang," lirih Tari membenamkan bibirnya di puncak kepala Azka .


"Papi tidak pernah membencimu Nak, tidak pernah. Dia sangat menyayangimu sampai memikirkan masa depanmu yang cerah. Hanya saja, caranya salah," ucap Tari terus mengirim opini positif pada putranya.


"Hati Azka sakit Mi dengar Papi ngehina Salsa," adu Azka pada Maminya.


"Sekarang Salsa ada di mana sayang? Kita temui dia besok dan meminta maaf."


"Lusa dia bakal transplantasi ginjal di Bandung," jawab Azka.


"Kita ke Bandung besok untuk menemaninya, jadi sekarang istirahatlah dulu nak. Apa kau sudah makan? Obat dari dokter sudah di minum?"


"Sudah," jawab Azka.


"Jika kau merasa tidak pantas untuk seseorang, jangan menghindar apa lagi meninggalkan. Tapi memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik, memantas diri untuk bersanding denganya." Nasehat Tari.


...****************...