
Karena tidak bisa cuti terlalu lama, Reni memutuskan untuk berangkat ke kota hari itu juga. Ia sudah bertanya pada Salsa dan gadis itu juga mau.
Sebelum itu, mereka menunggu kedatangan Rayhan dan Keenan. Azka menyuruh dua sahabatnya itu datang untuk membawa motornya ke kota. Sebernarnya ia bisa saja menyuruh orang suruhan Papinya. Tapi bukan Azka namanya jika tidak keras kepala.
Keenan dan Rayhan tiba di rumah Salsa jam 11 pagi. Jadi mereka masih ada waktu istirahat sampai sore.
"Seandainya Giani kayak Salsa Ka, suka sama gue dan nurut apa kata gue. Pasti kita udah pacaran," ucap Rayhan tiba-tiba.
Kini ketiganya ada di ruang tamu dengan beberapa cemilan juga minuman di atas meja. Mama Reni ada di dapur menyiapkan makan siang untuk mereka berlima, dan Salsa ada di kamarnya sedang istirahat.
Azka tidak punya cukup keberanian menggunjungi kamar Salsa tanpa seizin mama Reni.
"Masalahnya lo beda sama Azka. Azka mah baru kali ini pacaran. Nah elo? Seantero SMA Angkasa tau lo tuh player, belum tau aja mereka lo bukan cuma player tapi casanova sering jajan di Club. Mama lo tau?" cerocos Keenan.
"Jangan keras-keras njir ngomongnya, Tante Reni tau mati gue. Baik-baik kalau nggak di mutilasi sama Pak Elvan yang terhormat," gerutu Rayhan menutup mulut ember Keenan.
Sementara Azka hanya senyum menanggapi kedua temannnya itu. "Sebaiknya lo berubah Ray, buktiin sama Giani kalau lo beneran sayang sama dia," saran Azka.
"Gue bakal berubah setelah pacaran dengan Giani. Gue mau dia sendiri yang larang gue jauhin dunia malam," balas Rayhan tak mau kalah.
"Masalahnya Giani nggak mau sama lo sebelum lo berubah." Keenan kembali menyadarkan Rayhan.
"Susah Keen, gue terlanjur kecanduan sama yang namanya perempuan," lesu Rayhan.
"Lo nggak takut gitu kena Hiv?" tanya Azka.
"Anjir kalian berdua teman nggak ada ahlak ye, ngedo'a in gue yang nggak-nggak," kesal Rayhan.
"Bodo, gue kasian sama Giani kalau pacaran atau jadi istri lo nanti, dapatnya bekas. Untung-untung lo mau berubah, kalau nggak? Nasib dia gimana?" celetuk Keenan.
"Sebahagia lo Ray, gue ngikut aja," gumam Azka.
Pembicaraan mereka bertiga terhenti karena kedatangan Reni untuk memanggil mereka makan siang bersama.
"Ayo nak makan dulu, Tante udah siapin makan siang buat kalian. Makan duluan aja, tante mau manggil Salsa," ucap Reni.
"Nggak usah tante, biar nanti Azka bawa makanan ke kamarnya," sahut Azka sangat berharap Reni setuju akan usulannya.
"Yaudah, makan aja dulu, setelah makan baru bawaiin Salsa makanan kalau mau." Setuju Reni ikut duduk bersama tiga anak lanang tampan.
Katanya anggota geng motor tapi mempunya sikap sopan santun. Mereka berhasil mengubah pandangan Reni tentang geng motor.
"Kalian pernah dengar Bayangan, pesuruh bayaran itu?" tanya Reni tiba-tiba.
Membuat ketiganya tersedak secara bersamaan. Mereka buru-buru minum untuk menetralisir rasa terkejut. Rayhan yang niatnya jaga image malah menyembukan makanannya, membuatnya mendapat tatapan tajam dari sang ketua.
"Tau Tante, yang ramai di perbincangkan itu bukan?" tanya balik Keenan.
"Iya, Tante juga sempat minta bantuan mereka buat jaga Salsa. Tapi baru mutusin kontrak beberapa minggu yang lalu, karena nggak mau ada yang tau keberadaan Salsa," jawab Reni.
Mereka betiga hanya mengangguk paham. Ketiganya mengira identitas mereka sudah terbongkar.
"Kenapa harus minta tolong mereka Tante? Kan ada Azka," celetuk Rayhan.
"Tante percaya aja sama mereka bisa jagain Salsa. Lagi pula mereka tau misteri di balik kematian papa Salsa," lirih Reni. "Ah kenapa kita malah bahas itu, ayo lanjutkan makannya, terus istirahat!"
...****************...