
Sejak pulang sekolah, Azka sudah pergi dari rumah setelah mengantar Salsa pulang. Padahal gadis itu sebisa mungkin mencegah sang suami pergi. Tapi apalah daya, sekali Azka berkata tidak maka itu tidak akan berubah.
Entah apa yang di kerjakan Azka di markas hingga hari mulai gelap pun, laki-laki itu belum juga pulang.
"Ish Azka lupa kali ya punya istri dirumah," gumam Salsa kesal sendiri.
Lama gadis itu modar-mandir di depan kamarnya hingga jarum jam menunjukkan angka 10. Senyum gadis itu mengembang saat satu ide terlintas di otak lemotnya.
Ia berlari ke kamar, dan mengambil hadiah dari Rayhan kemudian memakainya. Jujur saja ia geli sendiri melihat penampilannya di pantulan cermin.
Untuk pertama kalinya ia memakai baju kekurangan bahan dan tembus pandang seperti ini. Merasa udara dingin menusuk kulit putihnya, Salsa merangkak naik ke tempat tidur kemudian mengulung tubuhnya dengan selimut tebal.
"Bisa-bisanya desainer punya ide buat baju ginian, yang di tutupi apa coba?" tanya Salsa entah pada siapa.
Di raihnya ponsel di atas nakas lalu mengirim pesan pada sang suami.
Salsa: Ka kamu pulang jam berapa?
Read
Typing
Azka: Mungkin agak malam, kenapa? Kamu lapar atau takut? Aku masih ada urusan bentar.
Salsa: Aku kedinginan pengen di puluk๐๐๐
Azka: Gemes banget pengen nyekek
Salsa: Send Foto
***
Di markas, Azka sedang berdiskusi tentang rencana yang akan mereka lakukan untuk menjebak Leo dalam permainannya sendiri.
Samuel dan Dito kembali mencari informasi tentang kasus kematian pak Arion beberapa tahun yang lalu. Menyelidiki lokasi kecelakaan dan yang lainnya, yang bisa mereka gunakan sebagai bukti.
Seberapa keras ia mengaitakan Leo di dalamnya, hasilnya tetap zonk. Leo sangat ahli menyembunyikan identitas.
"Tiba-tiba gue ngerasa ruangan ini kok seram ya?" celetuk Ricky.
"Masa sih?"
"Pak ketua kesurupan njir," timpal Rayhan.
"Biasa, lagi kerasukan setan bucin." Keenan tertawa di ikuti yang lainnya, tapi Azka belum sadar juga masih sibuk berbalas pesan dengan Salsa.
Salsa: Send foto
"Shiitt," umpat Azka kala melihat foto Salsa tiduran memakai lingerie.
"Napa lo Ka?" selidik Dito hendak mengintip, tetapi Azka langsung mematilan layar ponselnya.
"Kita bahas besok, rapat selesai!" teriak Azka sebelum menghilang di balik pintu.
Karena tidak sabar ingin bertemu dengan Salsa, Azka melajukan motornya sangat cepat membelah padatnya jalan raya. Perjalanan yang biasa ia tempuh setengah jam, kini bisa di tempuh belasan menit saja.
Azka langsung memasukkan motornya di garasi, berlari menuju kamarnya. Ia lupa hari ini istrinya selesai datang bulan.
Azka membuka pintu dan mendapati kamar minim pecahayaan, hanya lampu tidur di samping ranjang yang menyala. Sebelum menghampiri Salsa, Azka terlebih dulu membersihkan di kamar mandi, atau gadis itu akan mengtainya bau.
Ia merangkan naik ke tempat tidur, menyingkap selimut yang menyelimuti tubuh mungil Salsa. Azka menelan salivanya kasar melihat pemadangan sangat indah, buah melon yang selalu ya garap setiap malam menyembul malu-malu tertutupi kain tipis.
"Sayang, kamu beneran udah tidur?" gumam Azka mengelus pipi Salsa dengan tangannya yang sedikit dingin. "Atau pura-pura tidur, Hm?" bisiknya dengan suara serak.
Salahkan Salsa karena memancingnya di jam rawan seperti ini. Mungkin bukan cuma dirinya, tapi jam di atas angka 10 rata-rata naf*su laki-laki sangat besar dan sangat sensitif.
Keringat dingin mulai membasahi pelipis Salsa, sekuat tenaga ia tetap tenang dan pura-pura tidur walau Azka menyetuhnya.
Bodoh, ngapain aku mancing sih. Matilah, Azka nggak mungkin lepasin aku malam ini.
"Baiklah, tidur yang nyenyak sayang, biar aku yang bekerja," bisik Azka sekali lagi.
...****************...