Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 77


Lama Salsa memandangi Azka yang kini terlelap sembari mengenggam tangannya. Melihat penampilan Azka yang begitu resmi, Salsa mengeser duduknya mendekat pada laki-laki itu. Azka terlihat sesak dengan setelah jas juga dasi yang menempel di leher.


Dengan hati-hati Salsa melepas dasi Azka. Tapi semua usahanya sia-sia saat laki-laki itu membuka mata dan menatapnya sayu.


"Az ... Azka gue ... gue cuma ... anu, ngelepasin dasi lo, kayaknya sesak," gugup Salsa mengalihkan perhatiannya kearah lain.


Dengan sigap Azka menahan tangan Salsa saat akan menjauh dari pandangannya. Di tatapnya wajah gadis berambut sebahu itu sangat dalam. Salsa begitu gugup apa lagi hidunganya hampir menyentuh hidung mancung Azka, jangan lupakan tatapan sayu itu.


Salsa mengigit bibir bawahnya saat perut siala*n itu mengeluarkan suara memalukan. Azka tersenyum tipis mendengarnya.


"Lo lapar?"


"Nggak." Salsa langsung melepaskan diri dari Azka.


"Mau makan apa?" Azka mengambil benda pipih di saku jasnya.


"Gue nggak lapar kak, gue cuma lelah. Gue masuk ya!" izin Salsa salah tingkah sendiri.


"Hm."


Salsa berjalan memasuki rumah mewah bertingkat dua itu setelah berpamitan pada Azka. mendaratkan tubuhnya di kasur empuk. Jujur saja kelamaan duduk membuat pinggang gadis itu sedikit sakit, sepertinya Salsa terkena penyakit Remaja Jompo seperti Authornya.


Baru saja Salsa selesai membaringkan diri, suara ketukan pintu terdengar. Gadis itu tersenyum ramah saat mendapati asisten rumah tangannya berdiri di ambang pintu.


"Bibi, ada apa?"


"Ini neng dari Den Azka, katanya jangan lupa makan sama minum susu sebelum tidur." Menyerahkan kotak yang entah apa isinya.


"Makasih Bi."


Setelah kepergian asisten rumah tangannya, Salsa segera menghubungi Azka dan mengucapkan terimakasih. Tak lupa gadis itu berdiri di balkon kamarnya, memastikan apakah Azka masih ada. Benar saja laki-laki itu masih ada dan sedang bersandar di depan mobil mewah.


Azka: Di makan, buruan masuk diluar dingin!


Salsa melambaikan tangannya saat mobil mewah itu meninggalkan pekarangan rumah.


Hari yang ceria, seceria hati seorang gadis di dalam kelas XII ipa 3, gadis itu tak lain Salsa dan Alana.


"Gimana malam pertama lo sama pak Alvi?" tanya Salsa iseng.


"Berjalan dengan lancar." Santai Alana.


"Lo ...."


"Gue masih segel ya enak aja." potong Alana cepat.


Salsa berjalan ke kanting seorang diri karena Alana ada keperluan begitupun dengan Azka. Langkah gadis berambut sebahu itu berhenti diambang pintu kantin saat melihat Azka duduk dengan seorang gadis.


Tanpa ba-bi-bu Salsa melangkahkan kaki jengjangnya menuju kedua insan yang entah membicarakan apa. Menarik tangan Bela dengan kasar karena berani menyentuh tangan Azka.


"Jauhkan tangan lo dari pacar gue!" tegur Salsa, membuat laki-laki berwajah datar itu bersorak riang dalam hati. Ah kenapa pacarnya sangat mengemaskan jika sedang marah?


"Pacar? Bukannya cuma mantan ya?" ejek Bela yang belum tahu kebenarannya. "Kasian mana masih muda, halunya ketinggian."


"Halu?" Salsa memutar bola mata jengah. "Buat apa gue halu kalau bisa di buat jadi nyata? Azka pacar gue dan lo nggak berhak nyentuh dia se ujung kukupun."


Bukannya melerai, Azka malah bersedekap dada, mengambil posisi paling nyaman, menikmati pertunjukan perdana di siang hari. Laki-laki itu yakin 100% Salsa akan menang tanpa bantuan siapun.


Bela menyibak rambutnya kebelakang. "Lo nggak malu ngaku-ngaku? Azka aja diam dari tadi."


Sontak Salsa manatap Azka, benar saja laki-laki berwajah datar itu tak membelanya sama sekali.


Jangan lupa meninggalkan jejak😊