
Salsa bangkit dari duduknya saat melihat Azka keluar dari ruangan dokter psikiater untuk konsultasi, dia mengembangkan senyumnya untuk menyambut wajah datar sang pacar.
"Gimana Ka?"
"Di periksa, emang ngapain lagi?" tanya Azka balik.
Salsa membuang nafas panjang berjalan beriringan dengan Azka di koridor rumah sakit menuju lobi. Tak pernah sekalipun dia bertanya dan Azka menjawabnya dengan benar.
Sesekali Azka melirik Salsa yang terdiam, bukan tanpa alasan Azka selalu menghindari pertanyaan Salsa. Baginya tak perlu membagi sesuatu pada Salsa, kecuali sesuatu yang membahagiakan.
Dia meraih tangan Salsa kemudian mengengenggamnya. "Makan dulu sebelum pulang! Gue lapar," ucap Azka membukakan pintu mobil untuk Salsa.
"Ke tempat pertama kali kita makan berdua yuk Ka!" ajak Salsa antusias.
Sesuai permintaan Salsa, Azka melajukan mobil putih itu menuju warung bersejarah untuknya dan Salsa, memarkirkan mobilnya sedikit kepingir agar tidak menghalangi yang lain untuk lewat.
"Yah penuh." Salsa mendesah mendapati warung yang mereka tuju penuh akan pengujung.
Salsa menatap Azka tak percaya saat menerobos masuk begitu saja. Azka membawanya ke meja di mana ada dua seorang cewek tengah bercerita hampir menghabiskan makanannya.
"Izin gabung ya, Kak," sopan Salsa melirik Azka yang masih berdiri setelah mendorongnya untuk duduk.
"Silahkan!"
Salsa kembali menoleh pada Azka mengintrupsi laki-laki itu untuk segera duduk. Namun, Azka malam menunjuk mamang-mamang koki. Dia melihat Azka berdiri seperti memesan sesuatu, lalu menunjuk dirinya.
Anehnya setelah memesan, Azka keluar dari warung tanpa mengatakan apapun. Makanan yang di pesan Azka tersaji di atas meja, tetapi pacar cueknya tak kunjung muncul.
"Mari mbak, kita duluan," pamit dua orang cewek yang duduk di sebelah Salsa. Salsa hanya menanggapi dengan senyuman, dirinya masih kesal akan tingkah aneh Azka.
Beberapa menit setelah kepergian dua cewek itu barulah Azka muncul ikut duduk di hadapannya. "Kenapa belum makan?
"Kemana aja?" tanya Salsa balik.
"Di luar Sal, lo mau gue duduk berdua sama cewek lain?"
Salsa mengeleng dengan senyuman, jadi Azka sengaja keluar hanya untuk itu. Ah romantis sekali, pikir Salsa. Demi menjaga perasaanya, Azka rela menunggu diluar dari pada ikut bergabung dengan cewek lain.
"Sayang aku mau itu!"
Uhuk.
Azka langsung tersedak mendengar panggilan Salsa yang tiba-tiba berbeda. Aku? Sayang? Perubahan yang cukup mengagetkan.
"Pelana-pelan sayang makannya." Salsa mengusap sudut bibir Azka dengan ibu jarinya, berusaha memperlihatkan pada orang sekitar kalau Azka miliknya.
Demi menetralisir rasa kaget juga baper berkepanjangan, Azka meneguk air minum sampai tandas, kemudian melirik sekilas orang-orang yang memperhatikan mereka.
Azka tersenyum sangat tipis menyadari sesuatu, ternyata pecarnya sedang cemburu.
"Jangan senyum Azka, is nyebelin banget sih," gerutu Salsa.
"Lo cemburu?" tanya Azka menggoda.
"Siapa juga yang cemburu, salah kalau aku manggil kamu sayang?" tanya balik Salsa.
"Nggak sayang," jawab Azka mengacak-acak rambut gadis itu.
Blush
Rona merah menyembul keluar di kedua pipi Salsa, untuk pertama kalinya dia mendengar Azka memanggilnya Sayang dengan suara yang mengalung lembut.
"Gue suka lo manggil aku-kamu. Mulai hari ini dan seterusnya, lo harus manggil gue itu!" titah Azka tak terbantahkan.
Azka menoleh pada kaum hawa yang masih memandanginya. "Ngapain kalian liat-liat? Gue udah punya pacar. Nih!" Mengenggam tangan Salsa kemudian mengecupnya.
Ingin rasanya Salsa menghilang dari bumi sekarang juga, sekarang dia sangat malu karena Azka. Entah urat malu laki-laki itu mungkin sudah putus. Apa lagi melihat ekspresi Azka. Ah sudahlah membuat siapa saja yang melihatnya kesal.
...****************...
Jangan lupa meninggalkan jejak, dan terimakasih untuk dukungan kalian😘