
Azka sampai di markas dan ikut bergabung dengan teman-temannya, yang menelpon tadi adalah Rayhan. Mereka tidak jadi acara di rumah Salsa siang tadi karena ada sesuatu hal yang mencurigakan akhir-akhir ini.
"Bukan cuma gue 'kan yang liat tadi?" tanya Dito pada yang lainnya.
"Sama, tadi kayaknya ada si Leo nggak sih pas Akad Azka?" timpal Ricky.
"Jangan bilang yang pakai masker hitam sama topi? Berdiri tempat di samping pak Alvi?"
"Nah ngeh 'kan lo pada."
"Anjir gue kirain dia staf tadi."
"Leo udah keluar dari rumah sakit tepat saat Rio keluar Negeri," jawab Keenan.
Azka terdiam mendengar pembicaraan teman-temannya, ternyata firasatnya akan sesuatu benar terjadi.
"Ayolah, kalian jangan berfikir negatif kayak gitu, nggak mungkin Leo ada di sana," ucap Azka membuat yang lain cengo selain Samuel.
"Tau, pada curigaan, santai aja kali," timpal Semuel semakin membuat yang lain heran.
Azka diam-diam mengkode Rayhan dan Ricky untuk memeriksa sesuatu.
Grup chat
Azka: Alat penyadap
Rayhan: Nir gue baru ngeh
Ricky: Jangan di lepas biar aja gitu!
Kini semua tatapan tertuju pada Ricky seperti meminta penjelasan.
Ricky: Bertingkah seolah-olah kita nggak tau kalau ada alat sadap. Diskusi seperti biasa biar mereka biar mereka ngira kita nggak tau.
Dito: Setuju gue.
Keenan: Ok gue paham.
Semuel: Gue yang mulai.
Semual berdehem sebentar sebelum berbicara. "Tapi jangan terlalu santai juga. Ingat lo harus jaga bukti kebusukan pembunuh pak Arion sampai kita tangkap pelakunya," ucap Samuel.
"Oh tenang aja, buktinya aman di markas ini, nggak bakal ada yang berani bobol," timpal Keenan sengaja menyebutkan markas untuk menjebak penghianat itu agar tertangkap basah oleh anggota lainnya.
"Markas aman nggak sih?" tanya Dito.
"Tenang, di antara kita nggak ada penghianat, anggota mah pada setia," celetuk Rayhan.
"Gue percaya sama kalian. Jaga baik-baik bukti itu jangan sampai hilang. Hari senin gue bakal bawa ke kantor polisi," putus Azka.
"Assiap pak ketua!" seru mereka serempak.
"Besok libur, gue mau semua anggota berkumpul buat fariasi keamanan di markas. Jaga bergilir," lanjut Azka.
Rayhan: Akting gue gimana? Udah pantas belum jadi aktor?
Azka: 💩
Dito: Nggak level
Keenan: Serah lo Ray, gue mah ngikut aja.
Semuel: Mengulang @Rayhan
Rayhan: Njir kawan nggak ada akhlak
***
Melenceng dari janjinya, Azka pulang jam sembilan malam. Setelah memarkirkan motor dengan aman, ia membuka pintu rumah dan mendapati mama Reni sedang melintas hendak kedapur.
"Baru pulang Nak?" tanya Reni basa-basi.
"Iya Ma, Azka ada urusan tadi," jawab Azka sedikit tidak enak. Di hari pertamanya menjadi menantu ia sudah pulang malam seperti ini. Jangan sampai mama mertuanya berpikiran macam-macam.
"Salsa nungguin kamu tadi, dia belum makan, mau bareng kamu katanya," ucap Reni.
"Kalau gitu Azka ke kamar dulu Ma."
Dengan langkah lebar, Azka menuju kemarnya dan membuka daun pintu sangat pelan. Ia mendapati sang istri duduk di atas ranjang dengan novel di tangannya.
Azka menyimpan kresek indoapril di atas meja kemudian menghampiri Salsa. "Belum makan katanya?" tanya Azka.
"Akhirnya kamu pulang juga Ka. Iya aku nunggu kamu," jawab Salsa.
Gadis itu meliril kresek di atas meja. "Itu apa?" tanyanya.
"Oh itu kiranti sama pembalut," santai Azka.
"Huh?"
"Tanggal segini tuh kamu biasanya datang bulan Sal. Masa iya lupa sama tanggal sendiri," omel Azka.
"Perhatian banget suami aku," gumam Salsa, mengekor di belakang Azka yang kini berjalan kearah lemari.
"Mau ngapain?" tanya Salsa.
"Kita makan diluar, kamu pasti lapar," ucap Azka memasangkan jaket tebal di tubuh Salsa. "Oh iya, koper aku di sudut ruangan mana?"
"Aku simpan, isinya udah aku susun di lemari. Sebelah kanan punya kamu, kiri punya aku."
"Rajin banget." Mengelus rambut Salsa.
"Kan harus, biar jadi istri idaman."
"Udah jadi istri idaman Azka." Mencubit cuping hidung Salsa, setelah itu mengenggam tangan istrinya.
"Ma, Azka sama Salsa mau keluar dulu. Mama udah makan, atau mau ikut sama kami?" ajak Azka pada Mama mertuanya.
"Mama udah makan nak, kalian aja sana."
"Kita pergi Ma."
"Iya sayang!"
...****************...