Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 157


Bukannya mengusir, Rio malah pergi tak ingin memperkeruh suasana. Ia memang marah pada Azka, tetapi ia tidak boleh menuruti keinginan Salsa yang di luar nalar.


Sementara di dalam ruang rawat itu, Azka masih berusaha membujuk Salsa untuk pulang dan selalu ada di sampingnya. Ia menatap kekasihnya sangat lama dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Aku pacar kamu Sal, bukan Rio!" tegas Azka.


"Lo lupa kita udah putus malam itu?" tanya Salsa dengan nada sedikit jengkel.


Azka senyum simpul. "Hubungan bisa terjalin karena persetujuan dua orang, dan putuspun sama Sal. Kamu emang mututusin aku malam itu, tapi aku belum setuju asal kamu tau." Azka masih berusaha menekan emosi dalam dirinya, walau itu sangat sulit.


Bahkan tangannya sudah terkepal, takut lost kontrol.


"Katakan sama aku, kenapa kamu mau putus, Hm? Aku salah apa? Papi ngomong apa sama kamu? Dia ngacem?" Azka menuntut penjelasan.


"Papi lo nggak ngomong apa-apa, dia cuma ngomong mau liat lo sukses di masa depan. Jadi berhenti berprasangkan buruk tentangnya Azka!" Salsa mengambil nafas panjang, dadanya mulai sesak.


"Ini murni kemauan gue!" tekannya.


"Tapi kenapa Sal!" Suara Azka mulai meninggi.


"Ini yang gue nggak suka sama lo Azka! Lo itu emosian dan punya penyakit mental. Gue nggak mau punya pacar seperti lo. Lo tuh nggak normal. Lo nggak tau seberapa tertekannya gue di dekat lo! Asal lo tau, gue nggak mau punya pasangan emosian, dan punya kelainan kepribadian kayak lo!"


Deg


Rasa kecewa kian menyelimuti hati Azka. Kalimat Salsa barusan berhasil membuatnya hilang percaya diri dan merasa tidak pantas untuk gadis di hadapannya.


Jadi selama mereka bersama Salsa tertekan? Tidak ingin punya pasangan sepertinya?


Kalau boleh jujur ia ingin menangis dan memeluk tubuh yang semakin kurus di depannya, tubuh yang selalu membuatnya tenang. Orang yang sering memberikan semangat dan mengembalikan rasa percaya dirinya.


"Satu hal yang harus kamu tahu Sal, aku tulus cinta sama kamu. Kamu orang pertama yang buat aku jatuh cinta, dan memperkenalkan rasa sakit itu. Aku akan tetap ada, kalau kamu berubah pikiran dan mau kembali, aku menunggu waktu itu tiba. Tenang aja, aku akan menerima kamu," lirih Azka tulus walau dalam matanya memancarkan kekecewaan pada orang yang di cintanya.


"Aku peluk kamu untuk terakhir kalinya boleh?" tanya Azka.


Salsa bergeming, tidak menolak ataupun menerima.


"Sal aku udah bisa senyum, kamu nggak bangga? Dulu kamu mau liat senyum aku 'kan? Aku belajar itu demi kamu." Salsa tetap bergeming dengan gemuruh di dadanya.


Dadanya bagai terhimpit batu besar sekarang. "Pergi Azka dan jangan kembali lagi! Gue muak sama lo!" bentak Salsa.


Azka bangkit dari duduknya. Menangkup kedua pipi Salsa, kemudian membenamkan bibirnya di kening gadis itu sangat lama.


"Ciuman terakhir dari aku. Setidaknya sekarang aku tahu keberadaan kamu, dan tau kondisi kamu, itu udah cukup buat aku tenang."


Dengan berat hati, dan sakit yang tak tertahankan dalam dirinya, Azka melangkah mejauhi brankar Salsa. Menutup pintu dengan dada berkecamuk.


Kalau aja gue tau cinta akan sesakit ini, mungkin dulu gue lebih milih nggak ngenal cinta.


Bahkan setelah mendengar Salsa menghinanya terang-terangan karena kekurangan yang ia punya, ia belum bisa membenci gadis itu.


...****************...