
Pulang sekolah seperti rencana awal, Azka berangkat bersama Tari naik mobil, sementara Inti Avegas naik motor masing-masing. Mereka sampai di bandung malam harinya.
Sebelum berkunjung, mereka menyewa hotel sekitar rumah sakit tempat Salsa di rawat. Jika yang lain memilih istirahat sebentar, tidak dengan Azka yang langsung pamit pada Maminya untuk menemui Salsa di rumah sakit.
Sudah mengetahui di mana letak ruang rawat Salsa, Azka langsung saja ke lantai 6 tanpa bertanya lagi pada Mbak-mbak resepsionis.
Saat lift terbuka ia mendapati Mama Reni di luar sedang berdiri. Azka senyum tipis.
"Tante." Azka hendak meraih tangan Reni. Namun, wanita paruh baya itu keburu menyembunyikan tangannya.
"Sedang apa kamu disini? Kalau kamu mau menemui anak saya, sebaiknya pulang saja!" usir Reni.
Azka tidak kaget lagi melihat respon Reni, ia sudah menduga ini sejak awal. Tidak ada ibu yang suka jika anaknya di hina apa lagi oleh orang tua pihak laki-laki.
"Maafin Papi saya Tante," lirih Azka.
Reni senyum simpul. "Memaafkan itu sangat gampang nak, yang sulit itu melupakan. Katakan pada Ayahmu, dia tidak perlu repot-repot memisahkan kalian, karena saya sendiri yang akan melarang anak saya berhubungan dengan putranya. Saya tidak perna menyuruh siapaun untuk merawat apa lagi menjaga Salsa."
Reni mengambil nafas dalam-dalam. Rasanya sesak setiap kali Salsa memanangis dengan alasan yang sama.
"Tante ...."
"Maaf bu, bisa kita bicara sebentar," ujar seorang wanita yang sangat Azka kenali.
Dia adalah Tari. Wanita itu mengikuti anaknya karena ingin melihat kondisi Salsa. Sedikit sedih melihat anaknya di benci oleh orang tua kekasihnya sendiri.
Jadi begini rasanya ketika anak kita di perlakukan tidak baik oleh orang lain? Batin Tari bertanya-tanya.
"Bukannya Mami mau istirahat dulu?"
"Pergilah nak, Mami mau bicara sama mama Salsa dulu," ujar Tari lembut.
"Kenapa balik lagi Ma?" tanya Salsa tanpa mengubah posisinya. "Salsa nggak papa sendiri, bentar lagi juga Rio datang."
"Mama," lirih Salsa saat tak ada sahutan padahal samar-samar ia mendengar decitan pintu tadi. Terlebih ia melihat bayangan seseorang melintas.
Dengan susah paya, Salsa mengubah posisi tidurnya menjadi telentang dan terkejut mendapati Azka berdiri di samping brangkar.
"A ... Azka? Ngapain lo disini? Apa ucapan gue belum jelas?" tanya Salsa dengan nada ketus.
Azka bergeming, meneliti tubuh Salsa yang jauh lebih kurus dari tarakhi mereka bertemu. "Jelas, sangat jelas, maka dari itu aku datang kesini untuk menemuimu. Kamu nggak mau dengar perubahan aku selama di ibu Kota?" Azka menarik kursi untuk duduk di samping brankar.
"Terimakasih, berkat kata-kata kamu kemarin, aku berhasil berubah walau tidak banyak. Kamu tahu, aku nggak menyentuh benda bernikotin lagi, juga minuman haram. Ternyata metode yang kamu berikan sangat bermanfaat." Azka terus mengoceh tak memberikan Salsa sedikipun cela untuk berbicara.
"Tapi karena metodemu itu aku harus kehilangan ...."
Salsa semakin menajamkan indera pendegarannya. Menunggu kelanjutan cerita Azka. Ia sangat merindukan sosok laki-laki yang sedang menganggam tangannya. Ia bahagia mendengar Azka bisa berubah tanpanya. Juga sedih, karena Azka tidak membencinya.
Ia ingin Azka membencinya, dengan begitu ia bisa pergi tanpa menyakiti Azka.
"Kamu nunggu kelanjutan cerita aku, hm?"
"Aku sedih, karena harus menghambiskan uang untuk membeli kertas," ucap Azka dengan wajah sengaja di buat kesal.
Salsa menoleh kesamping, tak kuasa menahan senyum.
Dasar orang kaya, kamu bisa memakai kertas bekas, tidak perlu kosong.
Salsa mencibir walau hanya dalam hati. Suasa hatinya kembali membaik melihat Azka ada di sisinya.
...****************...