
Baru saja sampai di ruang tamu, tubuhnya sudah di tubruk oleh gadis bar-bar yang menjelma menjadi sabahatnya.
"Sayang, maafin gue nggak bisa jenguk pas di Bandung," sesal Alana mesih memeluk Salsa, membuat gadis itu tertawa.
"Santai aja kali, gue tau lo nggak bisa bebas lagi," jawab Salsa.
"Pak Alvi lagi demam pas lo operasi, jadi manjanya kumat kek bayi," curhat Alana.
"Nggak udah bar-bar gitu sampai meluk lompat-lompat, lo lupa Salsa baru operasi!" tegur Azka dengan wajah datarnya.
"Dih si mas-mas posesif, santai aja dong," cibir Alana melepaskan pelukannya.
Ikut bergabung dengan yang lain di sofa, di sana ada Giani, Ara, dan inti Avegas lainnya.
"Om-om kok manja," cibir Rayhan. Laki-laki itu dan Alana bagai kucing dan tikus.
"Sirik lo? Pak Alvi manja sama istrinya sendiri, napa lo yang sewot. Kalau pak Alvi manja sama Giani baru lo protes," jawab Alana mencomot cemilan yang mereka bawa sendiri berbekal kartu dari Azka.
"Bisa nggak sih, kalian nggak ngumbar kemesraan. Kasian gue, Dito sama Keen," celetuk Ricky.
"Lo aja kali, gue mah santai aja," jawab Rayhan.
"Maaf ya Sal, gue baru bisa jenguk sekarang," ucap Giani.
"Aku juga Kak," timpal Ara.
"Santai aja sih, gue nggak papa kok."
"Iya sayang, nggak papa. Udah di wakilin kok sama calon suami kamu ini," celetuk Rayhan tertuju pada Giani.
Hubungan keduanya semakin dingin, jika dulu Giani sering berdebat dengan Rayhan, maka sekarang tidak lagi. Gadis itu benar-benar menghindarinya, dalam artian tidak ingin bicara
Baru saja Azka akan duduk di samping Salsa, tangannya di tarik oleh Dito. "Duduk sini dong pak Ketu, di sana 'kan khusus cewek," ucap Dito.
"Mantap To, tingkatkan." Rayhan langsung ngakak melihat raut wajah Azka si bucin akut tingkat dewa. Selalu ingin menempel dan menempel pada Salsa.
"Kenapa nggak bilang kalau mau datang, gue bisa siapin cemilan atau makanan buat kalian," ujar Salsa. "Tunggu bentar." Salsa hendak beranjak, tetapi pergerakannya terhenti karena suara Azka.
"Nggak udah gerak-gerak mulu. Ngapain nyambut tamu yang nggak ada untungnya sama sakali."
"Azka, jangan gitu ih," tegur Salsa.
"Salsa, lo duduk. Hari ini kita makan gratis, tenang aja gue yang traktir kalian!" Heboh Alana.
"Gue gampar mulut lo ya kang celup!" kesal Alana.
"Ya! Mulut lo di filter dikit!" tegur Rayhan. "Enak aja kang celup, emang gue teh sariawan."
"Terus kalau bukan kang celup apa? Kang nyebar benih kecebong di sembarang temphhhh ...." Kalimat Alana tengelam karena bekapan Rayhan.
"Rayhan vangsat, tangan lo bau jengkol!" teriak Alana.
"Sukurin."
Di saat Alana dan Rayhan bertengkar, yang lainnya bukannya memisahkan malah menikmati. Rasanya menyenangkan kalau Rayhan bertemu dengan Alana. Hanya Alana yang bisa membalas semua kelakuan lanknat Rayhan.
"Gue traktir kalian mines Rayhan," ucap Alana mengeluarkan ponsel di dalam tasnya kemudian mempelihatkan pada yang lain.
"Pesan sepuas kalian, mumpung gue dapat harta karung tadi."
"Hp siapa?" tanya Keenan.
"Hp suami gue lah, mumpung orangnya nggak ada kita porotin saldonya." Alana tertawa jahat.
Ia tak sengaja melihat ponsel Alvi di atas nakas saat berangkat sekolah, jadilah ia mengambilnya. Toh benda itu tidak penting buat Alvi jika sedang bekerja.
Alana terlebih dahulu masuk ke halaman Gofood, kemudian menyerahkan pada yang lain secara bergilir untuk memesan makanan sepuasnya.
"Kak Alana nggak pernah di marahin sama suaminya?" tanya Ara tiba-tiba membuatnya mendapat tatapan tajam dari Samuel.
"Ya kali nggak pernah Ra, sering malah. Tapi marahnya kalau gue nggak nurut, ngeyel yang bertentangan sama kesehatan gue, melebihi Azka deh," jawab Alana. "Napa adik ipar?" Gemes Alana mencubit pipi cubi Ara.
"Ara juga pengen gitu, pengen kayak kak Salsa sama kak Alana," gumam Ara hampir tidak terdengar.
"Bang El nggak pernah manjain lo? Kalau iya tinggalin aja sih," saran Alana.
"Alana!" tegur Samuel.
"Apa abang sayang?"
Samuel kembali diam, dan sibuk dengan ponselnya.
...****************...