
Sepeninggalan Azka, Tari juga meninggalkan apartemen untuk menemui kliennya di sebuah restoran yang kebetulan berada di dekat rumah sakit tempat Ans di rawat.
Usai bertemu dengan klien, Tari memutuskan untuk menemui Ans sesuai yang di katakan putranya tadi. Ia membuka pintu dan mendapati Ans sedang tidur dengan selang infus di tangannya.
Dengan langkah pelan ia mendekati brangkar. Tidak bisa di pungkiri ia sedih melihat suaminya terbaring tak berdaya seperti ini. Istri mana yang tidak khawatir ketika mendengar suaminta sakit, terlebih Tari sangat mencintai Ans.
Namun, kali ini Tari akan mengesampingkan itu semua demi kebahagian putranya.
"Ans," panggil Tari membuat laki-laki berahang tegas itu membuka mata kemudian tersenyum melihat keberadaan sang istri yang beberapa hari ini ia rindukan.
Sejak kepergian Tari dan Azka malam itu, Ans sangat terpukul, ia tidak bisa jika di tinggal oleh istrinya, ia rela kehilangan apapun daripada harus ditinggalkan oleh Tari.
"Sayang," lirih Ans. "Aku merindukanmu, kita pulang kerumah ya!" Ans meraih tangan Tari.
"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Tari.
"Seperti yang kamu liat. Maaf atas apa yang aku lakukan selama ini pada Azka, aku mohon kembali kerumah!" bujuk Ans dengan nada sedikit memohon.
"Sulit untuk melupakan perbuatan kamu kali ini Ans. Aku kecewa, kau tidak tahu bagaimana perasaan seorang ibu saat anaknya di hina dan direndahkan. Tidak ada seorang ibu yang mengiginkan anaknya mengemis kasih sayang dan cinta dari orang lain."
"Maaf," sesal Ans. "Aku janji tidak akan melakukannya lagi, aku janji tidak akan mengatur hidup Azka, aku akan menuruti semua keinginan Azka. Kamu benar seharusnya aku mengambil pelajaran apa yang telah aku alami dulu." Ans mentap manik Tari.
"Ternyata begini rasanya saat anak sendiri tidak ingin menuruti keinginan kita. Aku menyesal karena tidak pernah mematuhi Papa."
"Syukurlah kalau kamu sudah sadar," gumam Tari.
"Pulang sayang!"
"Aku akan pulang kerumah kalau Azka ikut pulang. Tapi aku tidak akan pernah membujuknya. Kau yang membuatnya pergi, maka kau sendiri yang harus membuatnya kembali," jawab Tari.
Wanita paruh baya itu menarik tangannya dari genggaman Ans. "Aku harus pergi, Azka akan kembali sebentar lagi."
Ternyata rasanya sangat menyakitkan, di saat kita butuh seseorang untuk mendampingi kita di saat-saat tersulit. Orang itu malah menjauh.
Seharusnya ia menyayangi Azka, terlebih Azka anak satu-satunya. Ia bodoh, karena terlalu pecemburu.
***
Memikirkan apa yang di katakan Tari, Ans memutuskan menghubungi Azka untuk meminta maaf dan ingin memulai dari awal lagi. Ia berharap Azka mau memaafkannya.
Ans menghela nafas panjang, itu ia lakukan berulang kali saat Azka tidak menjawab panggilannya, bahkan dengan tega menolaknya.
Alhasil ia meminta bantuan Tari untuk menghubungi sang putra.
"Kenapa Ans?" tanya Tari di seberang telpon.
"Aku menelpon Azka tadi, tapi dia tidak menjawab panggilan dan malah menolaknya. Bisa sampaikan maafku pada anak kita?"
Senyum Tari mengembang di seberang telpon, Anak kita? Dua kata. Namun, sangat berharga bagi Tari. Ia senang Ans, mengatakan itu padanya. Biasanya laki-laki itu hanya mengatakan.
Dimana anakmu?
Apa lagi yang anakmu lakukan?
"Aku akan menyampaikan bahwa kamu ingin bicara. Sampaikan sendiri maafmu padanya," jawab Tari.
"Baiklah," pasrah Ans.
Laki-laki itu lupa bahwa Tari sangatlah keras kepala, walau tak separah saat mereka bertemu bertahun-tahun yang lalu.
...****************...